DARAH CAMPURAN

Masih ingat salah satu topik yang dibahas di Harry Potter? J. K Rowling menggambarkan sosok Hermione sebagai penyihir yang lahir dari kalangan ‘biasa’, maksudnya kedua orang tuanya bukan penyihir, namun Hermione bisa menyihir dan pintar luar biasa. Draco yang berasal dari keluarga penyihir murni yang menjaga pertalian darahnya sedemikian rupa, sengit banget dengan Hermione dan mengejeknya dengan ‘darah kotor’. Suatu ungkapan bernada merendahkan dan kepingin banget menyingkirkan Hermione dari peredarannya di sekolah Hogwarts. Apalagi ketika dalam semua pelajaran dia dikalahkan oleh otak Hermione yang cemerlang.

‘Menjaga darah’ menjadi hal yang sangat diagung-agungkan oleh sebagian orang. Hapsburg family di Austria, memilih menikah dengan paman, keponakan, sepupu, pokoknya mbulet saja. Intinya biar kekuasaan di Vienna ngga usah kemana-mana, ke orang luar yang bukan turunan penguasa, atau penguasa yang kelasnya lebih ‘rendah’ dari mereka. Menganggap diri paling tinggi, sehingga menikahi saudara sedarah, dan beneran jadi otoriter. Efek lain, keturunannya ada yang mengalami, dan makin lama makin banyak, gangguan pada psikologis, intelegensia dan perubahan fisik. Ada yang kurang waras, perkembangan otak lambat, mandul, cacat fisik, dan yang hidup normalpun mengalami apa yang nantinya terkenal sebagai Habsburg Chin. Kondisi prognatism dimana rahang bawah maju dibandingkan dengan rahang atas, membentuk dagu yang panjang dan cameh (bahasa Sunda. Kalau bahasa Jawa ada yang bilang nyakil). Ketika akhirnya mereka ada yang berani menikah dengan orang lain, pelan-pelan penyimpangan ini terhenti.

hapsburg

Kita bisa bilang bahwa ‘Ah itu kan fiksi’ atau ‘Ah itu kan jaman dulu’. Jaman sekarang masih lo. Baru-baru ini dipicu berita pemerintah Inggris yang mengharuskan mahasiswa asing untuk segera pulang ke negaranya masing-masing daripada berlama-lama atau bekerja di Inggris, memunculkan berbagai diskusi dengan teman yang sedang tinggal di Eropa. Sebagian menyatakan mungkin ini cara Inggris melindungi pasar tenaga kerja mereka atau mempertimbangkan imbasnya terhadap perekonomian Inggris, sedangkan yang lain berkomentar singkat, ‘Bojo enom!’ alias istri muda.

Rupanya ada juga resiko secara sosial. Banyak pendatang dari Eropa Timur yang ‘menyerbu’ Inggris, bekerja serabutan terkait dengan pendidikan mereka yang tidak begitu tinggi, namun tujuan mereka sebenarnya menjadi istri atau dipenuhi kebutuhannya oleh orang Inggris. Entah dengan diperistri resmi, bersedia jadi istri kedua dan seterusnya, atau sekadar ‘dipelihara’. Penampakan wanita-wanita Eropa Timur ini memang idaman orang Barat, blonde tirus yang pastilah jadi ‘pencerahan’ dibanding tipikal wanita Inggris. Mungkin ada ketakutan dari para wanita Inggris atas percampuran darah yang resmi atau tidak resmi ini.

Amerika Serikat dapat dijadikan contoh bagaimana negara dapat menangani imigran dengan baik. Meski masih ada bolongnya disana-sini, namun mengurus 318 juta orang dari seluruh dunia ya emang ngga gampang. Karena Amerika Serikat memang dibangun dari para imigran Eropa yang menyingkirkan penduduk asli Indian, AS juga menerima imigran dari berbagai penjuru dunia. Karena pertemuan ini, memunculkan banyak genetik baru hasil percampuran berbagai bangsa, kini cukup sulit bagi mereka mengisi kolom ‘Ras’ di form permohonan ijin tinggal atau pengajuan menjadi warga negara. National Geographic pernah menayangkan ulasan khusus tentang hal ini, dilengkapi berbagai foto wajah penduduk Amerika yang sudah nyampur antara Cina-Afrika, Asia-Barat, India-Cina, unik-unik sih.

genographic

Bagaimana dengan di Indonesia? Meski kita boleh bilang bahwa kebanyakan menikah dengan sesama Indonesia, namun sesungguhnya kita sendiri sudah bercampur. Pernikahan antar suku lazim terjadi di sini, meski tentu saja ada yang jadi drama ketika pernikahan tidak disetujui oleh orang tua yang masih memegang teguh adat, atau menganggap suku lain tidak seasyik sukunya sendiri. Tapi mau gimana lagi? Namanya juga hidup bercampur, berdampingan dengan suku-suku lain. Dan percampuran ini justru membuat pertalian antar suku menjadi lebih erat, menjadi Indonesia yang satu. Kerajaan-kerajaan kita dulu juga menikahkan putri-putrinya dengan pedagang, penjajah atau raja dari kerajaan di luar Indonesia. Memang sih ada muatan ekonomi atau politis, tapi akibatnya kerajaan itu jadi terkenal dimana-mana sampai sekarang.

Menjaga darah nampaknya sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang. Pragmatisnya sih sekitar kita sudah campur-campur orangnya, maka darahnyapun campuran. Kalau harapan, semoga dari keunggulan gen masing-masing bisa memunculkan generasi yang lebih baik, menarik dan unik 🙂

*

IndriHapsari

Advertisements