Tengil

Tengil, adalah sikap dan kelakuan, yang berarti ‘menyebalkan’. Dan jangan salah, tengil adalah bahasa resmi sehingga bisa ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Awalnya saya pikir tengil merupakan kata gaul yang biasa diucapkan oleh anak muda (sok tua nih!) jaman sekarang. Memang artinya ada di Kamusslang.com, dengan arti belagu, ancur, jayus, garing, yang tentu saja karena saya generasi tua hal ini memaksa saya untuk membuka kamus lagi untuk tahu arti belagu, ancur, jayus, garing. Jadi, yah pakai yang KBBI saja kalau begitu. Contoh penggunaannya adalah dalam kalimat : ’sudah malas tengil pula, membuat orang bertambah benci padanya’.

Jadi tengil ini adalah sikap yang melekat pada seseorang. Meskipun sikap, tapi tengil sering dikaitkan dengan wajah.

‘Liat aja tuh wajahnya, tengil!’ yang diucapkan dengan pandangan menghujam dan menuduh.

Buat orang-orang yang suka menuduh seperti ini, kelakuan dapat dilihat dari wajah. Untuk mereka yang dianugrahi wajah menyenangkan, bersyukurlah karena hal tersebut berkorelasi dengan sifat Anda yang diprediksi menyenangkan juga. Sementara yang mukanya menyebalkan, jangan heran kalau sedikit yang mau berteman dengan Anda, karena muka Anda yang tengil tadi.

Itu mungkin sebabnya daripada memasang foto saya di ranah publik, lebih baik diganti saja dengan foto lainnya, yang membuat orang lebih melihat pada isi kepala saya. Nanti lah kalau sudah terkenal, orang tidak akan peduli pada wajah, namun terhadap prestasi yang saya punya, baru wajah saya boleh beredar kemana-mana.

Padahal wajah tidak dapat menjadi ukuran dalam penentuan karakter seseorang. Wajah Rambo Hati Rinto, kata orang. Tengilpun bisa begitu, bisa berada di wajah yang kurang beruntung, bisa juga di wajah yang sedang digandrung.

Hanya saja, kalau yang tengil orangnya ganteng, biasanya kita akan berkata:

‘Untung dianya ganteng. Kalau ngga udah gue tinggal’

tapi untuk mereka yang sudah wajahnya minus, masih ngotot tengil, jangan salahkan kalau orang bilang :

‘Udah jelek, tengil lagi!’

Tetap saja orang ganteng yang selamat 🙂

Tengil, tidak selalu harus disentil.

***

Advertisements