Taman Mini Indonesia Indah : Terima Kasih Ibu Tien!

Mengunjungi TMII ini aslinya sudah malas, karena buat saya ini kunjungan ke 4. Dua kali di masa kecil, dua kali lagi mengenalkan ke generasi selanjutnya. Yah sudah tahu lah isi TMII gimana, yang kalau hari biasa sepi banget, sekelilingan pakai mobil sejam juga sudah selesai.

Tapi waktu si kecil hobi ke museum dan saya coba unduh peta TMII bengonglah saya melihat apa yang ada di dalamnya. Segini banyak apa yang mau dikunjungi? Saya mulai memilih mana yang masuk must visit dan may visit. Museumnya aja kali ada sepuluh, ngga mungkin dapat semua sehingga saya perkecil jadi empat.

Kenyataannya, TMII itu rame banget kalau hari libur. Susah cari parkir, begitu minta jemput malah cari-carian. Terjebak di kemacetan, jadi total jendral cuma dua museum yang berhasil dikunjungi, Museum Indonesia dan Museum Keprajuritan.

Kalau mau tahu isinya apa saja, bisa menggunakan cable car, bayar 40 ribu per orang. Seru pastinya, meski ngga setinggi yang Genting Highland, tetap aja seru karena pemandangan di bawahnya kaya banget. Kita bisa lihat ada bangunan apa aja, termasuk kegiatan di dalamnya.

image

Kalau males naik cable car, bisa coba monorail. Semua pembeli tiket yang 30 ribu seorang itu akan dapat tempat duduk semua, lalu karcisnya diperiksa satu-satu. Nampaknya kita bebas mau turun di stasiun apapun , tapi karena niatnya cuma liat-liat apa isinya TMII, ya balik lagi ke tempat asal. Ngga terlalu jelas pemandangannya karena kaca jendelanya buram. Mau lainnya bisa nyewa sepeda tandem, sepeda tunggal, atau e-bike. Ada juga ojek sepeda motor yang menawarkan jasanya. Tapi semua alternatif itu, plus mobil wisata yang bayar 5 ribu rupiah itu, jadi ngga berguna kalau TMII macet luar biasa. Judulnya maju kena mundur kena. Lebih cepetan pake kaki.

image

Kafe dan toilet  cukup banyak tersedia. Kalau mau bawa bekal sendiri juga boleh, ngga ada larangan disini. Toko souvenir, jual kaos unik juga bisa dibeli dengan harga pas. No tipu-tipu. Jadi modal pengunjung cuma 10 ribu per orang untuk masuk TMII lalu bebas deh menyantap bekal, atau masuk ke wahana yang gratia, asal kuat jalan aja.

TMIi ini perpaduan berbagai museum, rumah adat, tempat ibadah, alat transportasi dan taman. Rupanya bukan buat wisatawan saja, banyak acara kedaerahan, kebangsaan, keagamaan dan kekeluargaan diadakan disana. Kalau mau ngiterin semuanya, siap – siap dua tpatau tiga hari jalan kaki.

Masih saya ingat, dulu ortu mengajak saya ke Keong Emas untuk nonton film, cuma lupa filmnya apa. Supaya anak-anak merasakan hal yang sama, saya membeli tiket 30 ribu per orang supaya boleh masuk ke teater yang serba besar itu. Ratusan orang sudah menunggu menghadapi layar yang juga guede dan berbentuk cekungan.

image

Tak lama kemudian semua lampu dimatikan. Film yang kami tonton pada pukul 12 siang ini judulnya Indonesia Indah 3. Diketuai oleh Nyonya Sudharmono, istri Wakil Presiden jaman Bapak Soeharto, filmnya menceritakan kekayaan budaya dan alam dari 10 provinsi di Indonesia. Jadi ingat tayangan TVRI dengan narator Maria Oentoe (semoga benar).

Tapi film yang kami saksikan bukan yang jenis ecek-ecek. Banyak persiapan yang pasti harus dilakukan, syutingnya di spot-spot yang breath taking, melibatkan banyak penari, dan cara ngambil gambarnya, ngedit juga pastinya, pantas deh jadi programnya Nat Geo. Saya rasa pengaruh  proyektor IMAX dan layar juga, karena hasilnya seperti nonton 3D. Apalagi kalau disorot dari pesawat atau helikopter tuh..waduuuh..itu Indonesia ya? *kucek mata*

Meskipun dandanan pemainnya itu so eighties, tapi asli deh dengan film ini baru kerasa, Indonesia itu kayaaa banget. Sempat skeptis juga saat melihat ketua penasehatnya Ibu Tien Soeharto, lalu anggotanya para menteri Orde Baru, karena konon mereka juga yang menjual kekayaan negara ke bangsa lain. Tapi kalau lihat film ini, terus terang merekalah yang berjasa menyadarkan kita, bahwa justru karena beda kita itu kaya.

Lihat Taman Mini.

Tanpa perlu beranjak menyebrangi pulau – pulau kita yang ada 17.500 banyaknya, kita tahu apa aja sih adat di Papua, maksud tarian Rafflesia Arnoldi di Lampung, atau keunikan rumah adat Minang. Indonesia memang benar pecahan surga yang terlempar di dunia, dan semua itu dikumpulkan dalam Taman Mini.

Meski banyak polemik di dalamnya, tapi lihatlah yang kita nikmati sekarang. Tangan dingin Ibu Negara yang gigih mengumpulkan kekayaan nusantara, dan persatuan yang jngin diciptakannya.

Sehingga hati ini pedih rasanya, menyaksikan Dili masih masuk dalam tayangan film yang dibuat tahun 1989 tersebut…

***
IndriHapsari

Advertisements