Kembali Terpukau dengan Eco Green Park

image

Salah satu sebab kami kembali ke Eco Green Park karena e-bikenya. Anak-anak love it, bapaknya juga. Memang sangat membantu sih, selain jalurnya e-bike, wheelchair dan stroller friendly, tipikal orang Indonesia yang jarang jalan kaki karena terbiasa pakai kendaraan. Malas? Yah, selama trotoarnya masih begitu, polusinya masih begitu dan pejalan kaki masih kelas entah nomor berapa sehingga boleh diperlakukan seenaknya, kita ngga akan pernah terbiasa menyusuri jalan dengan kaki.

Yang pasti karena long week end, arah Batu Malang macet pas siang, tamvah macet lagi pas malam. Seperti biasa kami tiba sudah jam 3, sisa dua jam lagi untuk menjelajahi isinya. Berhubung ingin tahu lebih detil isinya, maka saya memutuskan jalan kaki. Areanya ngga luas banget kok meski katanya berisi 35 wahana. Beda dengan Singapore Zoo yang sehari keliling kayanya ngga habis-habis kalau jalan kaki.

image

Wahana pertama lebih ke display, misal kolam ikan koi, dan ada acara feeding timenya. Kemudian berbagai display binatang dari barang bekas, misal gajah dari tv bekas. Jalurnya jelas, jadi semua wahana pasti terlewati.

image

Wahana insectariumnya keren, didesain seperti rumah adat Afrika tapi gede, di dalamnya ada display lukisan yang disusun dari ratusan kupu-kupu atau kumbang. Ini nih yang belum pernah saya temui dimanapun. Emang nyeni nih display yang disajikan di EGP, jadi kesan indahnya tetap terasa. Lainnya pajangan biasa, akuarium berisi semut dab kumbang, tapi saking kecilnya ngga kelihatan. Kalau berminat bisa membaca keterangan di tiap akuarium yang sayangnya ditaruh agak tinggi. Anak-anak sulit untuk membacanya. Ada juga satu ruangan berkaca, monggo kalau mau masuk untuk mengamati belalang.

Keluar dari situ ada Walking Bird. Disini burung yang besar-besar dan ngga suka terbang seperti merak, burung unta, kasuari, bangau berada di kandang sebelah kanan kiri jalur pejalan kaki dan e-bike. Tempo-tempo ada merak yang berjalan melintasi jalan.

Plaza Music adalah wahana berikutnya, isinya alat musik dari peralatan logam yang dialiri air. Sepertinya pernah lihat ide yang sama di Legoland, bedanya mereka dari lego. Banyak pengunjung kecil berlama-lama di sini. Kalau saya diseret si kecil untuk main Jungle Adventure, permainan nembak pemburu dengan naik mobil jip bertenaga listrik. Banyak boneka yang sudah rusak karena mereka tidak dapat mendeteksi tembakan laser kami.

Oya di EGP jangan khawatir soal toilet dan stand makanan minuman. Toiletnya tersebar cukup banyak dan bersih. Stand makanan minuman banyak tinggal pilih. Kami sempat mencicipi susu segar khas Batu.

image

Area pembelajaran lainnya ada Rumah Strawberry, Rumah Jamur, dan Rumah Lebah. Meski ngga besar, tiap area punya desain ruangan yang khas. Mata kita benar-benar dimanjakan. Ada juga Carnivora Garden yang memajang tanaman yang ‘galak’ karena makan binatang, tapi yang saya lihat malah kaktus-kaktus cantik ini. Di area ini bisa beli kripik jamur, madu, sate strawberry, sekalian tanamannya juga bisa.

Dunia binatang berisi kambing, sapi, domba dan ayam. Ada acara feeding time juga. Tapi rasanya orang Indonesia senangnya foto-foto doang ya daripada beraktivitas (termasuk yang nulis :P). Sepanjang jalan kami disuguhi jalan-jalan.yanh dihias cantik dan berbeda antar areanya.

image

Jalan yang cukup panjang adalah World of Parrot dan Bird of Paradise. Berbagai burung jenis beo menempati setiap kandang yang dihias dengan indah. Ada counter foto bersama burung. Termasuk di dalamnya satu ruang khusus untuk burung hantu, karena mereka tak suka cahaya. Hedwignya Harry Potter juga ada lo! Disini juga digambarkan proses penetasan telur, plus area bermain sambil belajar.

image

Selanjutnya area permainan, ada Rumah Terbalik, Water Track, Holticultur Trap yang kemarin sedang diperbaiki dan Angry Birds. Lalu area jualan dengan setting tempo dulu, yaitu Pasar Burung. Merpati yang sengaja dilepas ngga takutan, ada pengunjung lewat dia hanya menyingkir sedikit.

image

Area food court yang besar, dekat dengan Amphytheater tempat acara Bird Show berlangsung. Lalu ada Fish Teraphy, tempat kita mencelupkan jari-jari untuk digigiti ikan kecil. Gelinya ampun deh, yang ngga tahan pasti buru-buru angkat kaki. Bird shownya cukup menarik, burungnya pinter-pinter, termasuk supaya orang mau donasi, burungnya yang disuruh ambil sendiri dari tangan oramg yang memegang duit.

image

Permainan air kendali hama ada di lantai berikutnya, bareng dengan rumah kreasi. Isinya display barang bekas yang dibentuk menyerupai sesuatu. Paling depan tentu menarik karena isinya robot tinggi besar macam Ironman. Sebelahnya ada Dome Multimedia, kisah berantemnya Hanoman dengan Wahana. Nonton filmnya sambil berdiri dan muter-muter, karena kalau pas Hanomannya dihantam di sebelah kanan, terbangnya bisa sampai ke kiri. Sebelahnya lagi ada Eco Journey, naik kereta untuk melihat display kehidupan dari jaman primitif sampai modern.

image

Monumental Candi cukup menarik perhatian, karena gede banget dan di paling atas terlihat replika beberapa candi di Jawa dan Bali. Masuk area itu adalah lantai 2, isinya display pembentukan bumi. Jika turun ke lantai 1 ada lorong tambang, simulator gempa (duduk saja di ruang tamu dan ‘menikmati’ gempa 5 skala Ritcher di tempat tersebut. Ngga seru karena ngga ada yang jatuh bendanya. Tapi ada televiai yang menayangkan apa yang terjadi saat gempa di Jepang. Tornado angin menyebabkan kami.l ‘disekap’ di ruangan kecil, lalu dihembus angin yang sangat kuat hingga ngomong teriak aja ngga kedengaran. Sama dengan simulator gempa, ada televiai yang menayangkan apa yang terjadi jika ada angin yang besar. Mengetahui kegemaran orang Indonesia, ada kaca besar yang bisa dimanfaatkan untuk minta difotoin pas angin kuat berhembus. Saat saya tawari anal saya untuk.mencoba Tornado Api, dia menggeleng cepat-cepat. Angin aja begitu, gimana angin plus api? Sayang, padahal Tornado Api hanya berupa display 😀

image

Yang pasti dua jam kami sudah habis, setelah mengembalikan e-bike kami keluar, menemukan mobil khusus dan kereta kelinci yang mengantarkan penumpang dari EGP ke Jatim Park 2 yang bersebelahan. Lagi-lagi karena berjalan kaki dianggap cukup jauh. Tetapi yang pasti keberadaan banyak tempat wisata di Batu membuat perekonomian di kota ini hidup. Dengan kemudahan transportasi (kereta dan pesawat directly dari Jakarta) menyebabkan  pengunjung Batu kini ngga lagi hanya dari Jawa Timur, namun daerah lain. Semoga pertamvahan pengunjung ini disikapi dengan memikirkan akses jalan-jalan di Batu, karena macet menjadi hal yang biasa.

***
IndriHapsari

Advertisements