The Economist : Pocket World in Figures, 2016 Edition

Seperti biasa, penghujung tahun adalah masa-masa tersadar dari apa yang sudah dilewatkan dalam tahun ini. Thanks God I live in Indonesia, whether the biggest news we know are only from politics and entertainment. Jadi ceritanya ngga nyadar nih bumi sudah berotasi sedemikian rupa, orang lain sudah berencana migrasi ke Mars sedang kita masih berkutat ngeributin pernyataan selamat 😀

economist

Anyway, berhubung sekarang di masa insyaf, saya mau bagi nih apa yang sudah saya baca (dan simpulkan secara amatiran) dari buku Pocket World in Figures, 2016 edition yang diterbitkan oleh The Economist. Majalah yang asalnya dari Inggris ini rutin mengeluarkan indeks ini setiap tahunnya, dan sekarang sudah masuk edisi ke 25. Silakan sebut datanya tendensius atau tidak dapat dipercaya, emang ente bisa lawan pakai apa? Karena majalah ini rutin menganalisis perkembangan berbagai bidang PER MINGGU selama 25 TAHUN, jadi percaya aja deh ya daripada malu 😛

Kenapa kok saya merangkum dan menyebarkannya di tulisan, dibelain baca angkanya sambil ngantuk-ngantuk? Yah karena saya ingin kita makin bertambah optimis tentang negara kita Indonesia, dan melihat bagaimana posisinya di tingkat dunia. Kalau selama ini kita percaya atas kinerja pemerintah, maka posisi ini akan menyadarkan sampai sejauh apa kinerjanya. Kalau selama ini dianggap sudah baik, ingat di atas langit ada langit. Kalau dianggap terpuruk, eh ternyata ada yang lebih hina dari kita 😀 Jadi baik atau buruk, ini tetap negara kita yang harus dibanggakan. Mengkritik atas kinerja dan posisi yang masih rendah itu perlu dengan memberikan solusi tentunya, tapi kalau sampai HOBI MENGKRITIK TANPA SOLUSI…emang situ OK? Saya selalu menyarankan untuk pindah kewarganegaraan, ngga usah lah makan ati tinggal di negara yang ngga jelas ini 😀

Mari kita lihat secara umum apa yang terjadi di dunia, hingga tahun 2015 ini.

Yang paling gampang ditebak, populasi dan urbanisasi meningkat, meski anehnya kelahiran dan kesuburan menurun. Jadi tren kelahiran bayi rupanya makin menurun, yang terkait juga dengan usia perkawinan yang makin tinggi. Sekarang menikah di sekitar umur 32 tahun dianggap wajar lo! Yang menggembirakan tingkat harapan hidup juga meningkat, karena ada peningkatan kesehatan dan pendidikan. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat pembunuhan yang ternyata juga makin tinggi. Jangan tanya juga untuk penyakit mematikan juga makin menyebar, sekarang topnya adalah diabetes dan obesitas. AIDS tetap merajalela di Afrika, sementara perokok makin sedikit jumlah maupun frekwensi merokoknya.

 

Negara mana yang punya populasi terbesar di dunia? Pertanyaan yang gampang ya. Jawabannya China dan India. Sementara yang perkembangan penduduknya malahan minus, adalah Jerman dan Jepang. Gara-gara ini, kini kedua negara itu punya penduduk usia di atas 65 tahun di atas 20%. Bayangkan, usia non produktif dan mulai concern ke kesehatan ada seperlima dari penduduknya. Sementara yang punya banyak penduduk masih anak-anak adalah negara-negara di Afrika. Meski begitu, kota Tokyo tetap jadi ranking satu untuk kota besar dunia, diikuti dengan Delhi di India. Lalu negara mana yang punya penduduk awet alias usia harapan hidupnya paling tinggi? Ternyata Monaco loh, dengan usia 89 tahun! Ckckck…Jepang sendiri pernah jadi nomor satu di tahun 1988 dengan usia 78 tahun.

Mengenai pembunuhan, sekarang Amerika Serikat (US) masuk tiga besar, hanya dari satu negara bagian saja, Virgin Islands. Kayanya something wrong di negara ini karena penduduknya hobi nembak siapa saja :/ Tapi US ekonominya tetap nomor satu, dengan China mengintip di posisi kedua. Agak sulit mengejarnya karena bedanya hampir dua kali lipat. Meski begitu, awalnya China ngga masuk top ten pada tahun 1988. Yang hebat lagi, India juga masuk top ten lo!

Sekarang, mari kita simak detilnya.

Kalau dari daftar negara dengan area terbesar, nomor satu adalah Russia, followed by Canada. Indonesia ada di urutan 15 ternyata, setelah Mexico. Populasinya dong, nomor 4! Jadi bisa dibayangkan Canada yang areanya nomor 2 terbesar, sedangkan populasinya di urutan 37 itu, sepinya kaya apa 😀 Pasti pas jalan-jalan jarang ketemu orang 😛 Yang ngeri, pada tahun 2050 diperkirakan penduduk Indonesia akan menjadi 321 juta orang. Brrr…mau dikasih makan apa…

Jakarta menjadi kota terbesar dengan nomor urut 27, sama dengan London. Cie…cie…samaan ni yeee 😀 Untunglah sampai urutan 92 ngga ada nama kota Indonesia lain yang muncul. Cuma ya gitu, yang masuk daftar topnya City Liveability yang mencakup stability, health care, culture, education dan infrastructure, Jakarta ngga masuk. Jadi…ni kota padat tapi ngga nyaman ditempati (sorry to say). Nomor satunya dipegang Melbourne, Australia. Ini kayanya sudah beberapa tahun berturut-turut dia yang pegang deh. Pas sempat kesana, aduh langsung culture shock. Biasanya hidup di kota yang ruwet meski bukan Jakarta, di sana kayanya waktu terhenti 😛

Ekonomi kita, berdasarkan Gross Domestic Product…ta ran tam tam tam *bunyiin drum* masuk ke nomor 16! Horeee! Ini data tahun 2013 lo…pemerintahnya masih yang lama. Jadi meski dituduh ngga kerja dan lain-lain, noooh buktinya. Indonesia was better than Belanda, Saudi Arabia, Malaysia dan Singapura. Ih beneran ini, ngga pake bohong. Tapiii…begitu dibagi per jumlah penduduk, masuk 60 besar pun ngga: T_T Itu sebabnya biar pembaginya ngga besar ada yang pindah dong #cumausul.

Pas ngebahas Human Development Index, ampun dah, 60 besar terakhir hanya ada Malaysia, kitanya ngga ada. Ah seram kali! Untung juga ngga masuk 24 negara dengan HDI yang paling rendah. Economic growth kita masuk nomor 41, bareng Argentina, Armenia dan Georgia. Hiks…itu kan negara-negara baru kecuali Argentina. Ayo, maju Indonesia! Jangan mau kalah sama newbie!

Ekspor kita jadi yang ke-30 terbesar di dunia, kalah sama Malaysia yang setelapak tangan dan Singapura yang sejentik. Dua negara tetangga ini juga masuk Largest Surpluses, sedang kita masuk Largest Deficits. Ugh..sakitnya tuh disiniiii *nunjuk kantong*.

The Economist juga memasukkan Big Mac Index. Ih lucu ya istilahnya. Jadi karena McDonald ini ngga cuma buka di Mayjen Sungkono tapi juga di Avenue Street di New York (adohe :D) maka Big Mac yang jadi menu wajib harga jualnya bisa dibandingkan antar negara. Nah kalau dari daftar itu (dan berasumsi rasa dan ukurannya sama) maka kalau mau beli burger murah itu ke Ukraina aja, harganya hampir separuhnya harga Indonesia. Kalau kejauhan, beli di Malaysia juga boleh. Yang perlu diingat, jangan beli di New Zealand. Harganya bikin sakit ati!

Mengenai utang, Indonesia kena urutan ke 9, di atas Malaysia yang ke 10. Sebentar, emang bangga gitu banyak utang? Kalau memikirkan bunganya, bakal nangis darah memang. Tapi orang bisnis itu, melihatnya akan seperti ini. Dia akan berani menjalankan usaha, kalau omzet yang didapat bisa untuk bayar bunga, menjalankan operasional perusahaan, plus dapat untung dikit-dikitlah (meski satu digit tapi trilyunan). Jadi itu sebabnya kenapa negara-negara itu memoles dirinya secantik mungkin, biar menarik bagi investor dan ekonomi bisa dijalankan.

Lebih baik percaya sama kemampuan negara sendiri? Kecuali kalau kita sekaya US, bolehlah PD seperti itu. Sedangkan China yang punya cadangan sumber daya alam terbesar aja agresif cari investor, kok kita yang kere ini nyombong ngga perlu suntikan dana negara lain. Bangun dulu napa 😛 Masalah utang nanti ditanggung anak cucu kita, sek ta laaa…yang salah itu yang ngasih duit apa yang ngelola? Doanya, semoga yang ngelola dikasih hikmat agar pakai kacamata kuda, ngga mudah tergoda dengan nikmat dunia 🙂 Yang bagus dari Indonesia, hutang yang dipunya itu ngga masuk dalam urutan Highest Foreign Debt Burden alias kredit macet. Berarti kan dana mengalir lancar, ada input dan output, meskipun produktivitas belum 100 persen.

Industrial output kita no 16 dunia, nomor satu di ASEAN. Servicesnya masih nomor 21 jadi masih banyak yang harus dikejar. Agriculture dilibas dengan China, India dan US. Pertanian kita memang harus sudah mengarah ke produksi massal, sudah ngga bisa lagi nandur atau menanam secara tradisional. Perlu keseriusan dari pemerintah untuk bisa menaikkan posisi dari ranking 4. Indonesia masih menjadi rangking 3 penghasil beras, mau disalip dengan Bangladesh. Terlihat dari daftar konsumen beras, lah kita juga no 3 dan defisit lagi :/ Pantes harus impor terus. Yang lebih menyedihkan gula, ngga masuk top ten producers, malah jadi nomor 6 consumers. Kopi dan coklat berlebih, bisa diekspor ke Eropa dan US.

Indonesia punya urutan tinggi penghasil timah dan nikel. Nomor sepuluh untuk gas alam, nomor tiga untuk batubara. Kalau lihat dari tingkat konsumsinya, mestinya cukup buat diekspor. Kenyataannya…kok masih impor dari China ya? Apakah…apakah…? Gara-gara punya kekayaan alam ini, Indonesia menjadi produser energi nomor 6 terbesar di dunia, dengan tingkat konsumsi nomor 16. Sayangnya kok ya ngga masuk negara dengan efisiensi energi yang tertinggi. Saat ini perlu loh studi banding ke Hong Kong, Cuba atau Swiss untuk melihat bagaimana kiat mereka menghemat energi.

Jaringan jalan kita ke 14 terpanjang di dunia, nomor satunya US. Trus bisa-bisanya ngga masuk Most Crowded Road Networks 😀 Ya emang disini yang macet kan jalan-jalan tertentu dan waktu tertentu. Yang lain sih relatif sepi kok, apalagi kalau banyak begalnya. Hiiiy!

Prancis sebagai negara yang paling banyak dikunjungi wisatawan, kayanya bakal menjadi legend karena posisinya yang tak terkalahkan. Kita ada di posisi 33, kalah sama Thailand, Malaysia dan Singapura. Padahal wisatawan itu penting loh, apalagi kalau bisa mendatangkan dari China, US atau Jerman sebagai Biggest Tourist Spenders.

Nama Indonesia kembali muncul di Largest Forests, dapet urutan ke 8 . Masalahnya, masuk juga di deforestation alias hutan yang makin berkurang, kita di nomor 24. Dari tahun 1990 hingga 2012, sudah 21,5% hutan kita ‘hilang’. Tauk ya, dibawa wewe gombel kali. Sudah rakus dihabiskan semua potensinya, trus ditinggal begitu saja.

Data lain masih banyak sih, bisa dicek di bukunya langsung. Yang saya bisa tulis hanya sebagian saja, dan semoga bisa menjadi semangat bagi kita untuk kerja, kerja, kerja 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements