Hotel Bintang Sedikit, Tetap Asyik Kok!

Dulu paling benci deh diinepin di hotel bintang sedikit, atau ngga ada bintangnya. Sebabnya simple, ngga ada lampunya! Soal ini beneran parahnya, kali buat ngirit ya. Berkali-kali nginep di hotel begini di Bali pas masih kecil, sungguh bikin pengalaman buruk. Tau sendiri di Bali banyak patungnya, trus serem kan dari kegelapan muncul patung dengan mata yang membelalak @_@ Maka begitu punya kesempatan liburan sama anak-anak, pasti saya nyarinya hotel yang boros lampu.

Jaman keemasan hotel murah konvensional memang telah lewat. Sudah ngga ada lagi nice Losmen seperti film serial TVRI tempo hari, yang mengutamakan keramahan dan kekompakan staff, dengan mengabaikan fasilitas penginapan. Jaman sekarang, visual memegang peranan. Jadi begitu di foto keliatan jadul, kasurnya ngga nyaman, lingkungannya ngga asyik, sebuah penginapan bisa dilewatkan.

Tapi untunglah para pemilik hotel ini sadar, hotelnya harus berbenah. Sebelum menempuh opsi dialihfungsikan, banyak hotel yang merenovasi kamar, lobby, dan lingkungannya supaya lebih modern, bersih dan menarik untuk didatangi. Pilihan lain adalah menyerahkannya pada pemilik modal lain, supaya bisa diperbaiki dan diteruskan bisnis perhotelannya.

Mungkin kita harus berterima kasih pada Tune Hotel. Hotel yang dimiliki oleh AirAsia ini seolah ingin melengkapi kesan maskapainya sebagai maskapai irit, dengan mendirikan penginapan irit, tapi cukup. Cukup merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang diterima pelanggan. Semua rasanya subsidi silang. Kasur yang empuk dan seprei yang bersih, dibenturkan dengan kamar sempit yang orang papasan aja ngga bisa. Handuk bersih, air panas dan dispenser sabun, berusaha mengalihkan perhatian pada compliment yang biasanya diberikan secara gratis dari pihak hotel. Tidak ada minuman selamat datang, yang ada sarapan sederhana dan terbatas. Kebersihan dipadukan dengan pandangan yang terbatas. Mulai dari tembok bangunan, atap rumah, atau tanah lapang yang berantakan.

Konsep yang diusung oleh Tune Hotel telah menyadarkan hotel kcil lain, bahwa mereka bisa melakukan hal yang sama mengenai efisiensi, namun dengan menawarkan nilai lebih pada pelanggan. Apa yang dipentingkan pelanggan, menjadi hal yang harus diutamakan, sementara yang ngga dipentingkan, bisa dikorbankan. Ruangan luas? Lupakan. Kolam renang? Ngga perlu apalagi yang hotel sales, alias hotel buat tidur doang. Hair dryer, ngga butuh. Bantal, cukup satu setiap ranjang. Kulkas, brankas, semua dipusatkan ke resepsionis.

Tapi sebaliknya, ranjang dan bantal harus empuk, dari kualitas terbaik, kalau bisa bulu angsa 😛 Kamar harus bersih, dengan furniture minimalis dan seperlunya aja. Kamar mandi harus ada air panas, air wastafel dan selang siram untuk toilet. TV adalah tv kabel dengan ruangan berpendingin udara. Air putih harus tersedia, sarapan pun perlu ada karena para ‘sales’ ini harus berangkat pagi, tidak sempat cari makan di luar.

Hal lain yang membuat hotel minimalis ini dilirik adalah letaknya yang strategis. Meski lahan parkir minim, ngga ada car drop, dengan mudah pengunjung bisa mencapainya dengan kendaraan umum atau bayar kendaraan yang kita pakai. Karena itu hotel lama yang letaknya  cukup OK harus berusaha bertahan, supaya ngga dilibas persaingan.

Hanya yang harus diingat ngga semua seindah gambaran. Namanya aja orang jualan ya, yang ditampilin yang bagus-bagus. Misal nih ruangan ini, di salah satu hotel di Makassar. Aslinya ruangannya sempit dan apek, tanpa jendela, dan tembok dicat merah maroon. Bayangin sesumpek apa efeknya. Dan begitu masuk kamar mandi…aaak…handuknya juga merah! Wah ngga ketauan dong bersih apa kotor.