Sastra Digital a.k.a Sastra Instan

Setiap ada tulisan mengenai sastra instan, para penggiat sastra, terutama yang hilir mudik di dunia digital pasti ribut. Merasa tersinggung dengan opini yang diajukan, menyerang pribadi penulis, gaya menulisnya, ejaannya, sehingga keluar dari permasalahan inti : bagaimana meningkatkan kualitas sastra digital yang dituduh instan tersebut. Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang berisik, setiap ada yang ngga cocok langsung dibantah, tanpa sempat membaca benar-benar, apalagi memahami esensinya. Lebih banyak bicara daripada mendengar, sungguh membuat kita jadi jalan di tempat.

dalailama

Kali ini Prof. Budi Darma angkat bicara, dan yang Beliau ungkapkan pada garis besarnya sama dengan opini yang berulangkali diajukan oleh mereka yang dituduh ‘karyanya apa sih, sampai berani mengkritik sastra’ itu. Prof. Budi Darma kini berumur 78 tahun (bukan orang muda, banyak pengalaman), masih aktif mengajar di Universitas Negeri Surabaya (menempuh pendidikan S1 hingga S3 di dalam dan luar negeri, semua jurusan sastra, jadi matang di konsep), peraih berbagai penghargaan sastra (bisa disearch di Google karya-karyanya, penghargaan kelas nasional dan dunia apa yang dicapainya), dan tetap aktif sampai sekarang (jadi bukan sastrawan yang ngasih nasehat ini itu karena post power syndrome).

budi darma

Berikut kutipan yang saya ambil dari Kompas Minggu. Saya tidak berani mencampur tulisan saya dengan kutipan kata-kata Beliau, agar Anda dapat membedakan mana yang kata-kata Prof. Budi Darma yang mahaguru itu, dengan saya yang hanya penikmat sastra.

Tentang Teknologi

Penemuan teknologi digital dalam banyak segi mempermudah hidup manusia, tetapi ia juga menghasilkan sampah berupa karya-karya yang instan. Para penulis diburu keinginan menulis sebanyak-banyaknya untuk memenuhi selera massa, kalau tidak boleh disebut pasar. Dan karena itulah, ia bekerja secara kejar tayang.

Karya-karya yang kini bertaburan di banyak media, akibat kemudahan teknologi, hanyalah serpih-serpih yang segera akan dilupakan. “Mungkin ada karya yang serius, tetapi itu (menunggu) seleksi alam.”

Sastra digital kebanyakan tanpa renungan…lebih banyak instan daripada pengendapan pikiran.

Sastra digital harusnya menjadi pendorong tingkat literasi di Tanah Air. Tetapi karena sifatnya yang cepat dan instan, sastra jenis ini mudah hilang.

Tentang Kualitas

…pengarang yang baik harus mampu mengendapkan dan merenungkan realitas di sekitar hidupnya. Hanya dengan cara begitu, karya-karya yang baik dan menukik bisa lahir.

Kemungkinan sumbangannya pada literasi. Itu semacam kemampuan menulis dan membaca, tetapi belum tentu menulis sastra. Setidaknya literasi memicu orang untuk berkarya.

Jadi kalau ada karya yang bagus nanti ada kritikus yang bagus juga.

Prinsip karya yang baik, tidak langsung menggambarkan realitas. Kita bisa lihat, misalnya, sastra Indonesia di masa awal seperti Balai Pustaka dan Pujangga Baru, ditulis di masa kita terjajah. Penulisnya tidak menggembar-gemborkan nasionalisme. Andai kata mereka menggembar-gemborkan nasionalisme yang dekat dengan situasi zaman itu, mungkin sastra kita dilupakan. Yang kita tangkap, kan, seolah-olah para sastrawan kita waktu itu tidak nasionalis. Pada akhirnya sastra yang tidak bisa bertahan terus adalah karya yang seolah-olah tidak mencerminkan masyarakatnya. Seperti juga pemikiran mengenai nasionalisme di masa penjajahan dulu.

Bagaimanapun juga kalau karya sastra itu benar-benar gambarkan realitas, itu biasanya kurang baik karena sekedar mengalihkan. Dan itu artinya kurang pengendapan dan perenungan. Menulis itu seperti puncak gunung es, ia bisa dikerjakan cepat, tetapi telah melalui perenungan dan pengendapan yang panjang. Nanti pembaca bisa rasakan lewat teks, apakah itu pengendapan atau perenungan yang baik. Itu berarti pembaca yang baik.

Apalagi belakangan banyak orang ingin jadi bagian dari dunia global…Para pengarang memajang foto sampul buku dan pemandangan di luar negeri. Itu bukan hanya ingin jadi bagian dunia global, tetapi semacam ketakutan ditinggalkan.

Sastra kita umumnya lemah dalam psikologi. Sastra kita selalu datar dalam menggambarkan konflik.

Sastra membutuhkan mood karena ia memperjuangkan nilai. Tidak sekadar berkarya untuk memenuhi selera massa, apalagi pasar. Karya-karya yang dikerjakan dengan car ini hanya akan jadi karya instan, menu yang renyah dikunyah, tetapi tidak bergizi, bahkan merusak ‘kesehatan’ sastra kita.

Bagaimana kita menyikapi kritikan Prof. Budi Darma ini? Marah-marah? Mutung (putus asa)? Atau tetap belajar, berkarya lebih berkualitas dan memurnikan kembali idealisme yang ada? Hidup adalah pilihan, maka hati-hati ya dalam memilih. Kalau dengan begini saja masih yang tidak mau mendengarkan, apalagi memahami, maka bisa dibayangkan mereka pasti lebih hebat dari Prof. Budi Darma 🙂

***

IndriHapsari

Advertisements