Menikah Untuk Menghindari Zina?

20130327-001416.jpg

Engga banget!

Menikah itu, bukan urusan seks semata. Menikah akan membuat kita memiliki pasangan yang harus diramut, alias dirawat dan diemut. Dirawat artinya dipelihara cintanya , dijaga kenyamanannya dalam waktu yang lama, kalau bisa sampai maut memisahkan. Bukan kalau bosen ditendang saja, atau dibanding-bandingkan dengan dia yang baru kita kenal.

Diemut sendiri artinya dieman-eman mutunya, atau dipermuliakan. Jangan sampai dulu dia cantik, setelah menikah jadi ngga cantik karena sengsara hidupnya. Atau dulu dia lembut, sekarang jadi kasar karena ilfil melihat tingkah laku kita yang serba menuntut. Menikah, kalau bisa dapat meningkatkan semua potensi yang menempel di dirinya. Dulu harus kerja keras banting tulang, sekarang bisa diam di rumah ngurusin keluarga dan menyambut suaminya pulang. Dulu kemana – mana jalan kaki, sekarang kerenan dikit bisa nyicil sepeda motor. Peningkatan taraf hidup itu juga kerjasama dua pihak lho, bukan hanya pihak yang bekerja saja. Itu pasti pasangannya rela deh nungguin yang kerja pulang telat karena lembur, dan mendapat perwn ngurusin keluarga, demi mencari sesuap nasi dan sebongkah sepeda motor.

Balik lagi, menikah ngga sesederhana sebagai sarana pelampiasan nafsu. Kalau kita mikirnya gitu, menikah supaya ngga zina, kita sudah merendahkan arti pernikahan itu sendiri. Menikah hanya untuk formalitas aktivitas seks. Nanti, kalau suatu saat suami atau istri kita bilang ‘Saya sudah ngga nafsu lagi sama situ. Saya mau nikah sama dia, daripada zina mending izinkan saya,’ kita bisa protes gimana? Itu juga kan alasan dia waktu ngelamar kita, supaya tidak zina?

Saya tahu masa pacaran itu menyenangkan, plus banyak godaannya. Pokoknya, bawaannya ingin kawin saja, agar sah melakukan semuanya yang ada dalam pikiran kita, atau semua yang ada di film yang warnanya cuma satu itu. Tapi, kenapa menikah jadi solusi? Kenapa bukan pengendalian diri? Mengenai bagaimana mengendalikan diri, dapat dibaca lengkap di Hati-hati Jaga Bodi.

Bagaimana jika sudah mengarungi pernikahan, dan tertarik secara seksual terhadap lawan jenis? Apakah menikah yang ke-isi sendiri ini menjadi solusi? Lah, tertarik secara seksual saja seharusnya ngga boleh kok! Sebelum itu terjadi, kendalikan mata agar tidak memandang terus ke sana, beritahu otak untuk mikirnya ngga ngeres saja, dan ingatkan hati untuktidak terlarut di dalamnya. Jangan hantam dengan kawin lagi, itu bukan solusi, malah nambah masalah di kemudian hari.

Menikah, yang didasari keinginan supaya tidak berzina, akan singkat hidupnya jika tidak dilakukan penyesuaian dimana-mana. Maklum, masa PDKT adalah masa promosi, yang nampak bagus-bagusnya saja. Karena itu kita jadi jatuh cinta bener sama dia, passion jadi pindah dari pasangan ke dia, mengaburkan semua.

Begitu menikah, memang mau bertahan sampai kapan sih ngendon di kamar saja dengan si gairah dan praktik semua pengetahuan tentang teknik bercinta dan segalanya? Pasti kan ada waktu kita harus kembali ke kehidupan nyata, dan baru kerasa deh, kekurangan yang selama ini ngga ketahuan.

Bahwa gairah ngga mau disuruh bikin kopi.
Bahwa gairah itu males, ngga mau kerja, kalau dimintain duit mesti berantem duluan.
Bahwa gairah itu kerjanya dandan doang, ngga ngurus pasangan
.

Belum lagi kalau pernikahan kita membuahkan hasil, anak. Ada yang harus diurus dengan baik, membesarkan anak agar menjadi orang yang berguna, dengan tindakan dan pemikiran brilian yang ngga cuma seks saja. Siklus hidup berulang, dari putih hingga putih lagi, dari bayi hingga mati, dan itulah hakekat hidup. Pernikahan, akan membuat kita menurunkan generasi, yang mudah-mudahan ngga cuma menuh-menuhin bumi.

So, think a thousand times deh kalau mau menikah karena takut zina. Menikah itu punya tujuan, dilandasi pengertian tentang pasangan, dan ada tanggung jawab bagi kedua belah pihak.

20130327-001727.jpg

Advertisements