Spectre: Gurita Mafia Internasional

Kenapa film India jadi raja di negaranya sendiri?

Karena orang India ogah rugi. Harga sama dengan tiket nonton film Barat, tapi film India lamaan. Jadi mereka bisa menangis sekaligus tertawa bahagia lebih lama dengan memilih film India.

Kayanya hal ini juga cocok dengan film Spectre, yang isinya petualangan James Bond ngobrak ngabrik mafia internasional yang berlambang gurita. Dikatakan filmnya jelek dan aktornya ngga cocokpun, paling tidak Anda bakal menikmati dua setengah jam waktu di bioskop dengan harga tiket sama dengan film lain. Sejelek-jeleknya ni film, itungannya tetap untung! 🙂

Yang bikin tambah untung, filmnya ngga jelek amat kok 😀

image

Masih coming soon, sayaaang ^_^'

Spectre yang merupakan film James Bond ke 24 ditayangkan perdana di Irlandia 26 Oktober 2015, US dan Indonesia 6 November 2015. Ini ada penonton sregep (rajin) banget. Tanggal 5 sudah ngibrit ke Cineplex demi nonton film malam itu juga, yang ternyata baru rangkaian penjualan tiket aja (ngacung malu-malu :P). Itupun dapat kursinya yang minggir-minggir, karena meski 2 studio dan sudah main dari siang, tetap aja tiket terjual laris manis. Cek di Wiki, hari pertama pre-launch di US sudah menghasil 70 juta dollar. Wow! Hasil yang bagus untuk film berbudget 300 juta. Ntar lagi pak puk (lunas) tuh! 🙂

Pantes aja dianugrahi film paling mahal yang pernah dibuat. Adegan awalnya festival orang mati di Mexico. Brrr…ini kalau saya ada di sana pas upacara itu serem dah…semua orang pakai topeng tengkorak meski bajunya ala pesta. Di acara kejar-kejaran Bond dengan mafianya, satu gedung dirubuhkan, lalu ada lautan manusia di alun-alun, pun waktu adegan akrobatik helikopter di udara. Yang bikin mahal lainnya perubuhan satu gedung lagi di London, membangun gedung pusat intelijen di tempat yang sama, klinik kesehatan di Austria, serta pusat data (yang kompleksnya lebih mirip pengilangan minyak) di Afrika Utara. Dan oh, tentu saja, hobinya yang kelilingan dunia, kecuali ke Amerika Serikat tentu saja. Mungkin karena ntar ketemu agen Mission Impossible? 😀

Ciri film James Bond lainnya masih ada. Perempuan cantik yang mengelilinginya, berakhir dengan tidur bersama. Agak royal juga nih, mulai dari yang agak tua, janda mafia yang dibunuh Bond, sama yang mudaan dan lebih pantas jadi anaknya. Ckckck…Ciri lainnya adegan kejar-kejaran pakai mobil mewah, peralatan canggih, pukul-pukulan, tembak-tembakan. Tingkat kekerasannya lebih tinggi, secara ada adegan meremukkan kepala dan menusuk mata seseorang, pake jempol! Brrr….

Lalu yang akhir-akhir ini lagi tren di film-film action, pengkhianatan di tubuh intelijen sendiri, atasan baru yang menyebalkan, konspirasi pemerintah. Sementara yang pakem berlaku: jagoan yang ngga pernah mati. Itu aksinya Bond kaya kucing bener deh. Loncat dari gedung tinggi mesti ngga patah tulang, sementara penjahatnya dibiarkan terkapar pada ketinggian yang sama. Trus ditembak jarak dekat ngga mati, tapi kalau Bond nembak jarak jauh, obyeknya bergerakpun, langsung deh meledak.

image

Dari situs 007

Bond yang diperankan Daniel Craig sendiri memang lebih dingin dari Bond lain yang berambut hitam. Seperti review saya sebelumnya di Skyfall, Craig kurang cakep dibanding lainnya. Tapi pesona sebagai agen rahasia 007 tetap ada kok, meski bergeser dari dandy secret agent ke cool secret agent. Kalau dia melakukan adegan aksi, terasa lebih serius gara-gara muka dinginnya. Tapi bodynya bo’, tetap langsing dan pas dalam balutan jas yang dipakainya beraksi.

image

JB series by Daniel Craig

Mengenai musuh, sayang banget kurang nancep di ingatan. Penjahat paling happening memang Solomon yang di Mission Imposible The Rouge Nation. Kalau yang ini, Ernst, wajahnya kebapakan kaya presenter salah satu program di National Geographic. Meskipun sempet ngga mati-mati, tapi endingnya klise banget. Andrew Scott yang jadi pengkhianat di tubuh intelijen Inggris (sorry I screw the surprise :P) juga kurang maksimal, padahal dia jadi Moriarty di serial Sherlock Holmes melawan Benedict Cumberbatch itu okeh banget lo. Keliatan seperti psikopat yang bergaya. Kalau disini, dia seperti petugas administrasi yang payah…hehehe sorry to say.

Anyway, meski ketebak semua siapa yang jahat dan jalan ceritanya, Spectre tetap jadi tontonan asyik yang menguntungkan, apalagi buat produsernya 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements