Klaudia: Kisah Cantik Pembantu Rumah Tangga

Saya bukan penggemar cerita yang menye-menye. Pokoknya kalau bertele-tele gitu, kasian mata saya, kasian juga yang nulisnya. Sudah mendeskripsikan panjang lebar, berusaha membaperkan pembaca, tulisannya saya lompatin doang. Makanya saya ngga bisa baca novel romantis, kalau yang pendek masih ok lah. Sebelum kedua buku Klaudia ini, saya baca satu kumcer milik penulis terkenal (?, karyanya pernah dimuat di media massa) dan diendorse sama penyair idola saya, Joko Pinurbo. Tau sendiri dong puisi-puisi Jokpin irit kata, usil dan penuh makna. Ah, semoga buku inipun sesuai dengan cirinya Jokpin.

Dan memang benar, kalimatnya pendek-pendek, cocok dengan kemampuan saya membaca pendek. Namun berikutnya, saya bosan, dan kembali melakukan kebiasaan lama, lompat-lompat bacanya, pokok tahu intinya. Sungguh kebiasaan buruk, dan ngga menghargai karya penulisnya. Toh kalau saya yang bikin ya jatuhnya sama aja, menye-menye, karena beda yah antara kemauan dan kemampuan #ngeles 😛

Mungkin kebiasaan ini terbentuk dari membaca karya Enyd Blyton sejak kecil. Semua kalimatnya bermakna. Tidak perlu mendeskripsikan rasa, karakter, tampilan, karena semua itu muncul pelan-pelan di setiap penuturannya. Ada plot yang asyik diikuti, ending yang mengejutkan, ketegangan dan tentu juga pesan. Lalu berlanjut ke Agatha Christie yang mbulet sakarepe dewe (muter ngga karuan) memasukkan tokoh dan kejadian dalam misterinya, tapi enggan untuk saya lewatkan karena disitulah jawaban semua pertanyaan yang muncul. Membaca detail jadi kebiasaan, dengan syarat semua harus berarti. Akibatnya, begitu baca detail dan semua adalah soal mendeskripsikan perasaan, langsung skip dah.

Buku Klaudia seri 1 dan 2 ini memenuhi kriteria (baca: kecerewetan) saya. Penulisnya, mbak Jasmine, sudah saya ikuti tulisan-tulisannya sejak dua tahun yang lalu. Awalnya kagum kok bisa ya nulis panjang-panjang dan bersambung. Selanjutnya lebih kagum lagi karena memikat pembaca jenis seperti saya yang punya pilihan untuk leave but I didn’t do it 🙂

Sebabnya :

1. Kalimat-kalimatnya sudah dipikirkan matang-matang, baik pemilihan, penyusunan, dan bonus permainan kata. Mbak Jasmine senang sekali memasukkan kosakata bahasa Jawa – yang jangan khawatir ada terjemahannya – demi membuat rima yang sama. Atau iseng menyusupkan permainan jata berbahasa Inggris. Ketinggalan satu kalimatnya aja jadi berasa rugi.

2. Pesan, wawasan, nasehat muncul dengan halus, tanpa menggurui. Kalau baca karyanya kita jadi tambah wawasan, karena ada sesuatu yang dibagi oleh penulisnya.

3. Karyanya dipersiapkan dengan matang. Sepertinya minimal melalui beberapa proses seperti draft, finishing dan editing. Tulisannya rapi jarang ada salah ejaan. Tahu dimana harus memotong babnya, bisa smooth pula menyambungnya. Mungkin kebiasaan tayang di internet secara serial, jadi harus pas motongnya biar pembaca penasaran. Pun menyinggungnya lagi di lanjutannya tanpa membuat pembaca bosan.

4. Plot yang asyik dan ngga biasa. Ceritanya bukan sejenis cerpen Kompas yang harus outstanding dengan peristiwa-peristiwa aneh di luar nalar, tapi ini cerita sehari-hari yang bisa membuat pembaca ingin tahu dan ingin tahu lagi.

5. Jangan kira karena muatan point 1 hingga 4 buku ini jadi begitu serius. Mbak Jasmine juga berusaha melibatkan pembacanya dalam perasaan tokohnya, namun dilakukannya secara halus namun bikin geregetan. Pokoknya kalau suatu tulisan bisa membuat Anda tersenyum malu-malu … sendirian …na itu tanda-tanda tulisan baper yang berhasil.

Klaudia adalah salah satu dari banyak cerita dan petualangan yang dituliskan mbak Jasmine. Karena kekuatannya di lima point itu, jadi jaminan mutu mau jenis apapun ceritanya, pasti nancep di ingatan. Tokohnya sih biasa aja, pembantu rumah tangga. Beda mungkin kalau mbak Jasmine cerita wanita astronot pertama atau ibu pengusaha sukses. Kenapa tokohnya digambarkan sebagai PRT?

Saya jadi ingat alasan almarhum Teguh Srimulat yang menempatkan pelawak terlucunya sebagai batur atau pembantu rumah tangga. Posisi ini paling strategis untuk leluasa mengeluarkan pancingan lelucon atau menanggapi lawakan dari berbagai pihak, yang keluar masuk datang, entah sebagai pemilik rumah ataupun tamu. Yang ditempatkan adalah mereka yang pinter cari celah, untuk menghubungkan berbagai konflik yang muncul di rumah tersebut, selain menjaga kelucuan di sepanjang acara.

Tokoh Klaudia inipun begitu. Masuk ke berbagai rumah majikan dengan banyak dinamikanya, membuat ia bisa bercerita macam-macam, terjerumus dalam petualangan, lalu berlarut-larut dalam perasaan. Klaudia menjaga roh cerita agar tetap bertahan hingga endingnya, yang memuaskan pembaca. Mbak Jasmine baik banget membuat ending seperti itu, peduli perasaan pembaca. Beda dengan saya yang lebih memilih ending menggantung, dan membiarkan pembaca menciptakan akhirnya. Idih…ini mah namanya ngasi kerjaan 😀

Buat mas ganteng dan mbak cantik yang cerewetnya kaya saya…eh jangan deh nanti cakepnya luntur 😀 bisa pesan kesini ya, atau add saja FBnya. Sukses terus buat mbak Jasmine 🙂

image

Pinjem fotonya ya mbak 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements