Mission Impossible The Rouge Nation: Resep Lama yang Tetap Renyah

image

Wikipedia.com

Mission Impossible seperti film action lainnya, resepnya sama. Jagoannya ngga pernah mati (ditembak, terjun dari gedung bertingkat, tabrakan), wanita, peralatan canggih, teman-teman atau anggota tim yang jadi pelengkap penderita, komplotan…dari dulu resepnya begitu. Agen rahasia 007, sekarang The Avengers, ya gitu semua, termasuk MI. Tapi kali ini ngga rugi kok mencerna resep yang sama, karena MI yang Rouge Nation menawarkan banyak hal yang beda.

Awalnya dari judul, kewarganegaraan yang membingungkan? Saya mengira oh kali penjahatnya yang entah dari negara mana atau ternyata malahan kumpulan dari penjahat internasional. Eh ternyata malah ditujukan ke Ethan Hunt (Tom Cruise) dan Ilsa Faust (agen rahasia lain) yang dibuang-buang sama negaranya sendiri. Ada lagi beberapa kejutan di film ini, jadi kecele kalau sudah nebak.

Ngomong-ngomong soal Ilsa, tumben banget di film action ini ngga ada adegan saling menggoda, ciuman dan berakhir di tempat tidur. Paling banter pelukan di akhir film (whatt?? Cuma pelukan? :P) Ilsa sendiri pernah pake bikini, menyelamatkan Ethan pake CD aja, plus pakai gaun tapi naik tangga, kameranya nyorot dari bawah. Tapi kesan seksinya sangat samar, lebih cenderung ke sporty.

Aksi menegangkannya terjaga konsisten dari awal sampai akhir, rapi plotnya. Paling keren pas Ethan mesti ganti chip di dalam air, yang merupakan pembangkit listrik di Maroko. Wiiih…yang bikin tegang justru karena keterbatasan dia sebagai manusia, ada salah dan lemah. Beberapa kali nih si Ethan kalah pintar sama Solomon Lane, tokoh penjahatnya.

Ngomong-ngomong soal Solomon, ini tipe penjahat yang dandy dan elegan. Mungkin kalau dia ngga jadi penjahat, cocoknya jadi desainer seperti Oscar Gamalama..eh itu mah Dorce ya 😀 Tubuhnya tinggi, tatapan dingin, pake kacamata, bibir tipis dan rahang yang tegas. Coatnya keren-keren 😀

Pemain pendukungnya, meski ditampilkan ngga sebanyak Ethan, sanggup nancep di kepala (eh eike bukan kunti loh yah :D). Ada Brandt yang kelihatannya paling lemah dedikasinya, sampe Luther, anggota tim lainnya meragukan kesetiaannya. Tapi secara mengejutkan Brandt bisa membalikkannya. Trus ada Benji yang ahli komputer (pake bahasa Rusia pula :D) orangnya slengean, tapi ternyata bisa panik juga pas dipasangi bom. Yang keren lainnya Alec Baldwin, jadi Direktur CIA. Awet tua bener ini bapak, dan tetap charming gitu loh. Sampe ngga bisa bayangin peran apa yah yang cocok tanpa setelan jasnya.

Dari segi cerita, film ini bikin ngga bisa ngecek WA 😀 Maksudnya saking sayangnya kelewatan adegan, karena setiap scene dan dialognya menarik. Meleng bentar sudah tanya sebelah tadi si Ethan ngapain. Cerita Perdana Menteri Inggris sama kepala agen rahasianya, ini jadi scene lucu yang unik, di samping adegan lucu lain yang klise. Ada sih beberapa adegan yang bikin tanda tanya. Misalnya kenapa kok Solomon yang anak buahnya banyak, lebih suka nangkep Ethan sendirian, di akhir scene juga mengejar Ethan sendirian. Atau Ilsa anak buah Solomon yang terus menerus dibebaskan meski sudah menyelamatkan Ethan berkali-kali. Tapi sudahlah itu hilang dengan kegantengan Tom Cruise #eh

Tom Cruisenya sendiri tetap pendek six pack gitu, tapi juga pinternya kamera ngambil gambarnya jadi keliatan ukuran dia normal. Yang perlu dikagumi staminanya sepanjang usia 53 tahun ini. Masih loncat-loncatan karena konon dia ngga mau pakai stuntman. Kayanya tipe perfeksionis gitu, sampe ada film yang dia produseri sendiri. Kalau pesonanya masih kalah sama James Bond yang lebih dandy (eh itu selera sih :P)

Peralatannya didominasi iPad atau tablet lah kalau mau generik. Baru liat nih fungsi iPad untuk buka pintu pesawat terbang yang lagi jalan, trus bisa menutup dan membuka aliran air ke pembangkit listrik. Yang keren adalah buku yang bisa jadi layar komputer. Ada juga alat pemindai gerakan tubuh dan cara jalan, karena pindai retina dan telapak tangan sudah terlalu mainstream. Yang PM Inggris aja otorisasinya mesti pake retina, tangan (oya ada lagi fungsi iPad untuk pindai telapak tangan) dan suara. Banyak adegan liat-liatan di monitor, karena kamera dipasang di softlense, ada juga yang di kacamata, sekalian sama earphonenya. Kalau senjata sih biasa aja, yang unik yang ditaruh di saksofon.

Terakhir, kalau film action yang awet, sekuelnya banyak dan studionya cepat penuh. Datang mepet-mepet berdua sama suami (iya, krucil ditinggal dulu soalnya mau nonton film orang gede :D) studio reguler dan premier sudah full. Okelah ambil yang lebih malam, itupun dapat di pinggir. Sampai ke sudut-sudut sudah penuh juga (eh itu sih pasti ya :D) sampai baris kedua dari depan sudah ada yang nempatin. Padahal yang menayangkan ini di Grand City Mall ada banyak studio, begitu juga dengan semua studio 21 di Surabaya.

image

Sip pokoknya untuk film ini, diajak nonton kedua kali juga mauuu 🙂

***
IndriHapsari

Advertisements