Pernikahan LGBT, Kenapa Tidak Perlu Diresmikan?

image

LGBT

Sepertinya bukan hanya publik Amerika Serikat yang bereaksi terhadap peresmian pernikahan LGBT (Lesbian, Gay, dan lain2nya), tetapi juga dunia. Indonesia ngga mau ketinggalan dong, wong negeri ini jadi lalu lintas komen-komenan di dunia maya paling sibuk di dunia (satuin aja jumlahnya yang ngetwit, fesbukan, wa-an, dan medsos lainnya). Apalagi urusan LGBT yang emang sejak awal dihebohkan. Kalau yang pro bilang kenapa sih pada ribut wong itu ada di negara lain, kalau gitu kenapa juga ikut bergembira atau menyatakan dukungan dengan penyalahgunaan simbol pelangi itu? Jadi soal sama-sama ributnya, saya kira kita emang sama noraknya ūüėÄ

Nah sekarang ijinkan saya untuk menambahi ke-eneg-an Anda soal topik ini. Sikap saya disini jelas, menolak peresmian hubungan ngga semestinya itu. Landasannya ada, dari perintah Tuhan di dalam kitab suci. Itu sih ngga perlu diperdebatkan. Berbagai dalih soal yang nikah beda jenis aja banyak yang KDRT, cerai dan cuma menambah kepadatan penduduk saja, excuse me, persentase hubungan berantakan dari pernikahan sejenis malah lebih banyak lo. Ya itu sebabnya, saat pertama sudah menyimpang, maka berikutnya sudah susah dibedakan, mana yang hitam dan putih, semua abu-abu. Jadi melakukan kekerasan pada pasangan boleh, menghinanya boleh, bahkan memotong-motongnya dan dijadikan rebusan! Hiiy! 

Kalau ketertarikannya hanya disimpan dan sudah, ngga ngapa-ngapain sih mungkin masih mending. Tapi LGBT akan mengarah pada penyimpangan seksual, dan pasti ada lawannya kan. Lawannya ini antara sudah pengalaman, perlu diajarin, atau masih piyik alias masih baru. Akibatnya populasi LGBT makin banyak, karena siapa bilang para pelakunya lebih setia? Soal selingkuh mah sama, malah lebih posestif dan cemburuan. Wah, apa ngga kontradiksi tuh. Yang dibilang sejak lahir sudah kaya gini, ngga sengaja, berapa persen sih dari yang begitu karena pergaulan atau pengaruh teman, keluarga, atau pemaksaan? Jika memang ada yang terlahir dengan kondisi ngga biasa seperti itu, mari didampingi supaya sembuh, bukannya dilegitimasi penyimpangannya.

Kalaupun saya beropini seperti ini, bukan maksud untuk mendiskriminasi mereka, atau menyudutkan mereka. For sure, mereka ngga serapuh yang kita pikir kok. Mereka luwes dalam bergaul, kreatif, banyak ide, pekerja keras, sehingga saya yakin dalam bekerja, mereka tetap mendapat tempat di masyarakat asal pas aja posisinya. Saya juga ngga mau memobilisasi massa (emang siapa eike? :D) untuk membumihanguskan mereka dari bumi Indonesia. Saya menulis ini karena sayang.

Sayang?

Iya, saya punya teman yang LGBT, orangnya baik, asyik, pekerja keras, punya banyak potensi, tapi di Indonesia banyak yang mempertanyakan ke-straight-annya sehingga dia resign dan pindah negara. Buat Indonesia rugi karena kehilangan orang seperti ini. Saya juga kehilangan dia, sebagai sahabat yang selalu mengerti. Sekarang soal orientasinya, saya tentu berharap dia kembali straight. Kalau pernikahan itu dilegalkan, dia ngga akan pernah bisa meninggalkan kebiasaannya, karena tidak ada kondisi terpaksa. Kalau disini ia terpaksa tidak bisa menikah karena tidak diakui, sehingga terpaksa hidup sendiri, yang memunculkan celah kemungkinan ia akan tertarik pada lawan jenis. Namun kalau dilegalkan, kesempatan itu jadi tertutup karena ia makin asyik masyuk dengan kehidupan menyimpangnya.

Saya juga punya anak-anak, keponakan, anaknya teman yang kami harapkan tetap berjalan bersama Tuhan. Karena itu pelarangan pelegalan pernikahan sejenis sekali lagi sungguh bukan karena benci, tapi karena cinta kami pada sesama, sehingga inginnya menjalani kehidupan yang baik bersama. Sikap ini sama seperti saya yang menentang lokalisasi, karena kalau ngga difasilitasi, orang jadi terpaksa puasa.

Tentu saja namanya maling ya pasti cari cara, baik dari pelaku dan pelanggannya. Yang penting negara ngga memfasilitasi perbuatan dosa. Lebih baik fokus ke pembinaan pelaku prostitusi supaya alih profesi, pendidikan dan penyuluhan bahaya seks bebas pada pelaku dan pelanggan, supaya bisa saling mengendalikan diri. Sama juga dengan pelegalan LGBT ini, kalau boleh usul ke pemerintahan Obama (iya…tau, siapa gue :D) mendingan mereka fokus ke konseling atau bikin camp retreat atau apa gitu buat pelaku LGBT, lalu kampanye bahayanya, jadi bisa dari sisi agama, sosial dan kesehatan. Buat yang lain yang merasa normal dan ‘lebih’ dari mereka, jangan membencinya. Dia hidup juga pasti ada maksud Tuhan kenapa mereka tetap eksis. Jangan-jangan tugas kitalah untuk merangkul mereka dan mendorongnya kembali ke jalan yang benar.

***
IndriHapsari
Foto: wikipedia dan mp3freespacec

Advertisements