Eat Street, Buat Yang Lapar di Jalan

20140623-073849-27529894.jpg

Truk makanan di Indonesia ngga begitu banyak ya. Paling roti dan minuman, itupun sudah jadi atau tinggal dicampur. Kapan hari ngintip truknya Roti Boy, isinya penghangat, etalase, sama tumpukan kotak aluminium berisi roti. Lalu pernah juga beli jus di mobil pick up yang diubah jadi mobil jualan.

Padahal potensinya gede loh kalau mau jual lebih beragam makanan dan minuman. Misal nyegat orang-orang yang berangkat kerja di perumahan, bikin apa gitu kek yang gampang, dikemas dengan rapi, lalu pelanggan tinggal bayar. Dan untuk itu semua pelanggan ngga perlu turun dari mobil atau motornya. Situasi di Indonesia memang ngga banyak orang jalan kaki atau naik angkutan umum, kebanyakan kendaraan pribadi. Kalau siang, jualan makanan kotakan, kalau malam, boleh deh makanan ringan dan kopi-kopi gitu.

Kalau di luar sepertinya sudah banyak ya. Berhubung belum sampai benua Amerika, yang saya lihat sejauh ini truk donat di Victoria Market, Melbourne. Bedanya dengan yang di Indonesia, mobil ini berisi tiga orang yang bisa dilihat dari luar. Semuanya sibuk membuat adonan, menggoreng, dan melayani pelanggan. Pelanggannya ya pengunjung pasar, mereka tertib antri di luar, demi mendapatkan donat yang baru saja ditiriskan dari penggorengan. Beralas kertas putih, mereka berlalu sambil makan donatnya.

Di Amerika Serikat dan Kanada sudah lebih rumit dari itu. Yang berkembang adalah makanan berat, yang bahkan kita cari di restoran ngga ada menu yang sama. Yang mengoperasikan juga macam-macam. Ada yang akuntan, programmer, atau chef yang memang keluar dari kerjaannya untuk mewujudkan mimpinya. Yah, punya usaha sendiri siapa yang ngga mau.

Awalnya Eat Street adalah aplikasi yang ada di iPhone, untuk menunjukkan dimana truk makanan itu berada berdasarkan GPS. Eh lama-lama malah dibikinin program TVnya oleh televisi Kanada, di Indonesia ditayangkan NatGeo People, dibawakan komedian James Cunningwan. Pantesan pembawa acara yang rada-rada mirip Maman Suherman ini kok rada ngga genah bawainnya..hehehe..maksudnya lucu gitu. Dia pernah bawa dua es krim di tangan kiri dan kanannya, trus bilang ‘i like you’ sambil jilat es krim kiri. Trus ‘i love you too’ sambil jilat es krim kanan. Gitu terus sampe akhirnya dia deketin tu dua es krim sambil bilang ‘i love you both’ 🙂

20140623-073927-27567329.jpg

Dari menu aja juga ngga main-main, dan ngga kebayang juga panasnya hidup di mobil. Soalnya semua dilakukan di sana, mulai dari pemangganggan, pengasapan, pembakaran, penggorengan. Proses persiapan semua dilakukan di truk, yang sampai berjam-jam itu. Menyajikannya sih cepat, tinggal disatuin atau disusun gitu, jadi deh.

20140623-074012-27612565.jpg

Tiap truk juga punya desain yang unik, terutama luarnya. Selain warna, ada simbol juga, kalau bentuk relatif sama. Yang pasti selalu ada jendela untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Kemasannya pun diusahakan environment friendly, banyak yang sudah pakai kotak kertas atau bahkan selembar kertas. Interior relatif sama, seperangkat peralatan dapur, sepertinya pakai listrik semua, dan jarang yang pakai api.

Sekarang soal menu, amazing! Jadi ada masakan korea, campur meksiko, campur italia. Rotinya kaya Meksiko punya, dari jagung. Lalu ada burrito, nasi ala Italia. Dicampur kimchi yang khas Korea. Gitu ya pada doyan tuh. Lainnya paduan keju, daging babi, karamel daging sapi, selalu berhasil. Kalau mau yang manis ya ngga setengah-setengah. Coklat, sirup, krim jadi andalan. Kalori? Nah, ini. Perasaan yang dimakan high calorie semua. Meski selalu diselipkan sayur atau salad, tetap aja perasaan berlemak semua deh.

20140623-074102-27662145.jpg

Tapi ya mungkin setara sama jalan kakinya mereka ya, kan disana kebanyakan orang jalan. Lalu mereka makan itu sebagai pengganti makanan utama, dan ngga kebiasaan ngemil juga. Sehingga mestinya cukup seimbang. Meski begitu, ada acara TV juga di Asian Food Channel, namanya Food Truck, yang jualan lewat truk juga tapi untuk membuktikan, makanan mana yang meski sehat disukai orang. Katanya sih, semakin enak makanan, semakin ngga sehat. Nah, chef ini ingin membuktikan hal yang sebaliknya.

***
IndriHapsari

Advertisements