Agamamu Apa?

kerukunan-beragama

Pertanyaan ini lazim diajukan di Indonesia, bersamaan dengan ‘Anakmu berapa’ sama ‘Sudah nikah belum?’ Baru bertemu pertama juga nanyanya sudah begitu, masuk ke ranah pribadi. Sesuatu yang kalau di Barat dianggap impolite alias ngga sopan. Tapi yeah, kita hidup di sini kan, jadi mesti biasain diri.

Akhirnya memang jadi terbiasa, karena sejak kecil sampai segede ini, masih saja ada orang yang pertanyaannya sama. Berhubung sudah biasa tersebut, saya jadi ngga pernah mempertanyakan kenapa mereka menanyakan itu. Tapi gara-gara ada yang bahas, ‘Kenapa sih kok tanya agama?’ saya jadi penasaran juga untuk menganalisisnya. Kenapa ya?

Orang bertanya karena ingin tahu. Namun setelah itu apa? Ngga mungkin orang bertanya, tahu, lalu tidak melakukan apa-apa. ‘Oh, buat diingat saja.’ Diingat untuk apa? Apa yang bisa kita lakukan dengan jawaban yang kita dapatkan?

Mau tidak mau, jawaban itu akan membuat kita mengkotak-kotakkan orang dalam berbagai kemasan. Oh si ini agama A, si itu agamanya sama, si anu agamanya C dan lain sebagainya. Kalau sudah dikotak, apa selanjutnya?

Kalau berpikiran positif sih, kita jadi lebih aware dan care. Misal ‘Oh entar lagi hari raya agamanya, saya nanti mesti ingat untuk ucapkan selamat’. ‘Oh kalau bikin acara sama dia, mesti dipotong di tengah supaya dia bisa sembahyang’. Atau ‘Jangan adain hari tertentu deh, kan dia pergi ke tempat ibadahnya.’

Yang negatifpun ada. Mulai dari sentimen karena di luar sana ada yang lagi berantem dan diduga karena agama, atau bawaannya curiga mulu karena penganut agama tertentu biasanya melakukan atau mengatakan hal-hal yang ngga sesuai di hati.

Intinya nanya agama itu ujung-ujungnya akan berakhir pada masalah perbedaan. Masalahnya sampai sekarang agama tidak menjamin seseorang jadi bisa kerja, jadi teman yang menyenangkan, atau jadi orang yang peduli sesama, hanya karena dia beragama tertentu. Namanya juga manusia ya, pasti ada kekurangan. Malah ada yang sengaja tidak memperbaikinya. Kecuali kalau agama tertentu menjamin semua pengikutnya berperilaku seperti malaikat, nah baru penting tuh nanyain agama. Pasti deh banyak yang rebutan pengen jadi temannya.

Eh tapi sudahlah, saya juga ngga mau sarankan sebaiknya jangan tanya atau boleh tanya. Sudah pada gede. Cuma Anda yang tahu nanya begitu itu untuk kebaikan bersama atau untuk memperuncing perbedaan. Tanya ngga tanya, aku rapopo 😀
***
IndriHapsari
Gambar : bayusulystyo.wordpress.com

14 comments

  1. Kalau saya pribadi sih enggan mengetahui agama di awal. Mungkin pada akhirnya ya tahu juga, tapi untuk menanyakan di awal itu gak. Tapi ya beda orang kan beda pendapat ya mba. Pikiran positif aja kalau pun sampai ditanya.

  2. saya juga paling gak mau nanya agama orang, biar saja tahu sendiri entah info dari mana atau melihat kebiasaannya kemudian. Begitupun saya, suka males kalau ditanya agamanya apa…

  3. Kalau Mbak Indri ketemu saya pasti nggak akan nanya agama. Hijab saya sudah menjawab dengan sendirinya. Saya sendiri juga ga pernah nanya agama. Ntar juga ketahuan sendiri dari kebiasaan dia atau petunjuk lain. Apapun agamanya selama nggak gangguin saya sih OK aja….no problemo.

  4. Aku sih ga pernah tanya. Agama menurutku ga define org kok. It’s a very personal relationship antara manusia dan Tuhannya. Selama semua bisa saling respect aku pikir suasananya akan sangat tentram. Nice piece dan salam kenal

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s