Meneruskan Berita Hoax

20140121-233128.jpg

Katanya udah gede. Katanya orang kota. Tapi kelakuan masih norak. Menyebarkan berita tanpa mau cek dan ricek dulu.

‘Kan saya ngga tahu, beritanya hoax apa ngga,’

Alasan!

Yang namanya berita hoax, sudah kelihatan dari judul. Sensasional, up to date, dan pasti menarik orang untuk klik beritanya. Ciri itulah, yang membuat orang mudah pula untuk menyebarkannya. Persis seperti ibu-ibu penggosip, yang baru dapat info dari tukang sayur.

Bedanya, jaman sekarang ngga perlu ibu-ibu yang nyinyir, para pria juga bisa. Ngga perlu nongkrong di pos ronda sambil sarungan, cukup dengan ponsel di tangan, atau masuk jejaring sosial, berita langsung tersebar.

Kenapa sih, sudah tahu berciri hoax masih saja menjebloskan orang lain?

Pertama, mungkin berangkat dari niat ‘memperingatkan orang lain.’ Supaya orang lain berhati-hati, atau waspada. Tapi, niatan ini sepertinya kalah dengan alasan kedua, pengen jadi yang pertama menyebarkannya. Kan heboh tuh, kalau saya yang pertama bahas itu. Maklum, di lingkupnya dia yang paling up to date soal berita. Copas langsung dan kirim mentah-mentah, atau bumbui, atau kurangi. Yang lainnya, salah menerjemahkan. Entah sengaja, entah ngga ngerti. Akibatnya, niat baik jadi memudar, digantikan dengan niatan eksistensi.

Walah, bukannya bikin pahala, malah bikin dosa.

Apalagi kalau berkaitan dengan agama, wih, rame! Berita yang kiranya mengusik keegoisan beragama, jadi arena penghujatan. Padahal looo…fotonya bukan asli, beritanya sudah basi, pelakunyapun sudah menyerahkan diri. Cek berita gampang kok, segampang menyebarkannya. Ambil dari portal berita terpercaya. Demikian juga dengan foto, ngga perlu software khusus. Tinggal upload di Google image, dan lihat foto tersebut pertama berasal dari mana. Mudah kok, asal ngga keburu pengen ngeksis tadi.

Yang lebih parah, kalau menciptakan berita hoax. Itu sih banci banget. Mana bisa alasan tidak tahu kalau seperti itu. Dan biasanya pelakunya itu-itu juga kok, karena orang biasa sih mana berani koar-koar di media, karena merasa harus mempertanggungjawabkannya. Kalau ini kan niatnya emang mau kabur aja, makanya pada pake identitas palsu sejak awal.

Nah, siapa yang loser?

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/74661306292548623/

Advertisements