Takdir Sang Pengkhianat

‘Mi, besok Andre ulang tahun,’ kata Desi sahabatku.

‘Ah, untung lo ingetin! Empat tahun ya?’ kataku sambil mengalihkan pandangan dari monitor. ‘Mau kado apa si Andre? Ntar gue beliin.’ Andre, anak Desi sudah menjadi favoritku sejak ia lahir. Bermata bulat, berhidung mancung dan berkulit bersih, mungkin ganteng sudah menjadi nama tengahnya.

‘Apa aja lah Mi. Yang penting lo dateng,’ Desi tersenyum memandangku. Sejak masuk ke perusahaan yang sama, aku dan Desi memang langsung cocok. Meski akhirnya kami berada pada divisi yang berbeda, semua kisahnya sudah kuketahui semua. Kisahku sendiri, tak banyak sih yang bisa diceritakan, kecuali sudah bertahun-tahun aku melajang. Week end seperti esok hari, biasanya akan kuhabiskan di salon, spa, dan belanja. Sekarang ada acaranya Andre…

‘Pastilah Des. Eh, apa yang bisa gue bantu? Cake, hiasan, atau apa gituh…undangannya banyak?’ tanyaku ingin tahu. Bersiap hendak membantu.

‘Udah beres semua kok. Mama yang atur. Yang diundang ya keluarga besar, ponakan gue kan banyak Mi. Trus tetangga yang punya anak kecil aja. Trus, elo. Udah, itu aja, ngga banyak sih..’ kata Desi sambil mengingat-ingat.

Oh…jadi Mark ngga diundang…batinku dalam hati.

‘Jam berapa gue mesti ke rumah Mama? Disuruh bantu-bantu juga OK kok,’ kataku berusaha ceria. Desi tertawa. ‘Dateng aja jam sepuluh. Lo tuh tamu, ngga usah deh nyiapin ini itu.’ Aku mengangguk mengiyakan.

*

Kukenakan kacamata hitamku. Kado sudah di tangan. Anak laki-laki mana yang ngga suka dengan mainan ini, pasti Andrepun demikian. Rasanya tak ada ultah Andre yang kulewatkan, pasti aku akan muncul di hadapannya sambil menyerahkan kado untuknya.

Aku meluncur ke kota lama, tempat acara diselenggarakan. Tadinya Desi tinggal di apartemen, dekat kantor. Namun sejak berpisah dengan Mark, Desi memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya.

Sungguh suatu hal yang berat. Saat akan berpisah tersebut, Desi sudah sering kali curhat soal sisi lain Mark. Mark cenderung berperilaku kasar, dan Desi tidak ingin Andre melihat perbuatan buruk ayahnya, atau jadi korban kekerasan berikutnya. Maka dengan memantapkan hati, Desi meminta bercerai.

Dan edannya, Mark langsung mengabulkannya tuh!

Kalau teringat peristiwa itu, aku hanya bisa menyesali, kenapa aku sebagai sahabatnya, tak bisa memperingati Desi sejak dini. Terus terang, kala itu akupun menganggap Mark adalah pria yang baik. Bertubuh tinggi besar, khas orang Barat, berwajah tajam, yang ia wariskan ke Andre. Perilakunya sopan, dan sejak ia pertama datang ke kantor kami untuk bertemu bossnya Desi, aku rasa kami sudah sepakat, Mark adalah pria yang patut diperjuangkan. Karena itu kubantu Desi untuk mendapatkannya, termasuk aksi ‘tidak sengaja bertemu’ yang berakhir dengan aku meninggalkan mereka berdua di kafe.

Takdir, siapa yang bisa mengira. Namun tak urung aku menyalahkan diri sendiri atas kekurangpekaanku.

Sudahlah, yang penting Desi sudah bahagia dengan hidupnya sekarang.

Kediaman keluarga Tarigan sudah nampak ramai. Beberapa mobil terparkir di halaman. Anak-anak berlarian. Aku memasukkan kacamata hitamku ke ta, dan bergegas membuka pintu mobil. Dengan susah payah membawa kado yang berukuran besar.

‘Tante Amiiii!’ teriak suara yang sangat kukenal. ‘Halo Ndre! Ni tante bawain kado, buat anak pinter yang ntar lagi TK yaaa…’ Andre memeluk kakiku. Sepertinya kehadiranku lebih penting daripada kado besar yang kubawa. Desi tersenyum dan menghampiriku. Sambil mengucapkan terima kasih ia mengambil kado yang kusodorkan padanya. Aku berlutut, hendak mencium pipi anak yang menggemaskan itu. Andre tertawa-tawa sambil memegang pipiku. Sudah berapa lama ya tidak bertemu.

Sebuah kilatan lampu flash mengenai wajahku dan Andre.

Aku menoleh. Seorang pria, berpakaian batik, memegang kamera seriusnya sambil tersenyum ramah. Kacamata tidak menghalangi sinar matanya yang membuatku terpana.

‘Mi, kenalin nih, Pandu,’ Desi menarik lengan pria itu dan mereka berdua menghampiriku. Melihat keakraban mereka berdua, aku jadi bertanya-tanya. Mungkinkah ia pengganti Mark?Aku menyalami pria yang disebut Pandu itu dan menyebut namaku. ‘Ah iya, Desi sering cerita,’ Lagi-lagi Pandu tersenyum. Lesung pipi mengintip malu-malu, menambah manis senyumnya. ‘Kelihatannya sudah akrab banget sama Andre ya. Maaf tadi saya foto tanpa permisi, soalnya ekspresinya bagus. Seperti…ibu dan anak,’ katanya ramah.

Desi menyenggolku. ‘Kalau Ami mau sih dia sudah punya banyak anak, dan bapaknya sekalian,’ kata Desi sambil tertawa. ‘Tapi Ami terlalu selektif sih…’ tawanya berderai-derai sementara aku tersipu. ‘Oh, belum menikah?’ tanya Pandu sopan. Aku hanya nyengir saja.

Perhatian kami terpecah saat ada suara tangisan. Rupanya keponakan Desi ada yang tersandung dan jatuh. Konsentrasi beralih ke menghibur anak tersebut, kemudian dilanjutkan dengan acara ulang tahun. Riuh, rendah, dan ceria menebar ke seantero ruangan.

‘Itu aja makannya?’ sapa Pandu saat acara makan berlangsung. Aku mengangguk. ‘Ini aja sudah kenyang,’ kataku sambil meliriknya. ‘Mas sendiri, ngga makan?’ tanyaku karena ia tak membawa apa-apa selain kameranya.

‘Sudah kenyang,’ katanya meniruku. Aku tersenyum. Pandu kemudian duduk di sebelahku.

‘Fotografer profesional ya Mas?’ tanyaku memecah keheningan.

‘Profesional itu maksudnya dibayar?’ tanyanya balik. Dengan cepat aku menggeleng, jangan sampai ia menjadi tersinggung karena pertanyaanku. Tahu aku panik seperti itu, ia tertawa. ‘Hahaha, ngga sih, hobi saja. Banyak yang bisa jadi kenangan saat waktunya sudah lewat,’ ia menunduk sambil menekan tombol mungil itu perlahan.

‘Suka moto apa Mas?’ tanyaku ingin tahu. Ia memandangku sambil tersenyum. Lalu diangkatnya kameranya, agar aku bisa melihat layar yang ada di bagian belakang.

Aku mengernyitkan keningku. ‘Jeruji?’ tanyaku tak paham. Ia mengangguk. Matanya yang ramah kembali memandangku. ‘Saya suka memotret hal yang sederhana. Karena yang sederhana itu kaya makna. Coba, apa yang mbak Ami bisa tangkap dari foto ini?’

Aku melihat foto itu sekali lagi. Foto ini dipotret dengan teknik yang baik, setidaknya kalau kamera itu berada di tanganku, hasilnya tentu beda. Sudut pengambilannya pun pas, ada bagian jeruji yang besar, kemudian makin mengecil.

‘Sepertinya ada yang lagi galau,’ kataku sambil tertawa. Asal saja, karena siapa yang bisa menebak maksud sebuah foto yang sangat sederhana seperti itu.

Pandu tertawa. ‘Kesimpulannya begitu ya? Darimana?’ tanyanya ingin tahu. Dengan agak tergagap aku berusaha menjelaskan, jeruji itu menyimbolkan sesuatu yang tertahan. Ingin keluar, tapi tak bisa. Pandu menatapku kagum. ‘Mbak bisa baca pikiran saya!’

Aku terkekeh. ‘Biasa aja lagi,’ kataku sombong. ‘Dan ngga usah panggil mbak deh. Saya seumuran kok sama Desi,’ kataku ramah. Pandu mengangguk. ‘Kalau begitu saya juga jangan dipanggil mas ya. Saya lebih muda dari mbak..eh Ami..’ katanya sambil tersenyum. ‘Oh, kenal dimana sama Desi?’ tanyaku ingin tahu. ‘Saya adik kelasnya pas SMA mbak, eh…’ katanya buru-buru meralat, ‘ ketemu lagi sudah punya Andre. Karena saya suka anak-anak, akhirnya jadi sering kesini.’ Aku mengangguk mengerti. Mungkin itu sebabnya Desi dan Pandu menjadi dekat.

‘Ekspresi mbak, eh, Ami tadi bagus loh,’ Pandu kembali menekan tombol itu dan kini muncul wajahku dan Andre. ‘Ekspresinya lepas, seakan tanpa beban,’ katanya mengomentari. Aku tersenyum. ‘Iya, beban kadonya sudah diserahkan ke mamanya Andre,’ kataku sambil tertawa. Iapun tertawa. ‘Ami, nanti saya kirim fotonya yah. Akun Facebooknya apa? Saya tag aja disana.’

Aku menyebutkan nama akunku, dan Pandu mengulanginya satu kali. ‘OK Pandu, nasi kuningnya sudah habis. Saya mau pamit pulang dulu,’ kataku sambil menjabat tangannya. ‘Sip! Sampai ketemu lagi!’ kata Pandu ceria.

*
Sebuah pesan muncul di messageku.

‘Ami, mau kirim foto nih. Saya publish aja ya, saya tag juga.’

‘OK’ balasku, dan mengakhirnya dengan icon senyum.

‘Ami, saya diaccept jadi temannya dong. Ngga bisa ngetag nih.’

‘OK’ dan ketika tanda pertemanan itu muncul, aku menekan tombol confirm dan menunggu. Tak berapa lama muncul notifikasi ada foto yang ditag atas namaku. Kulihat foto itu, foto yang sama seperti yang ditunjukkan Pandu tempo hari padaku. Hanya bedanya, nampaknya foto itu sudah diedit, lebih halus dan fokus.

Iseng aku melihat-lihat beranda milik Pandu. Isinya hanya foto-foto, namun setiap fotonya mampu membuatku terdiam agak lama. Foto-foto yang sederhana, namun sarat pesan di dalamnya. Ia banyak memotret pemandangan dan dibuat hitam putih, namun tak menyurutkan pesan keceriaan, kesedihan, renungan, dan keromantisan dalam foto itu.

‘Aku hanya membayangkan kau ada disini dan memandangnya bersamaku.’ Aku membaca pelan kata-kata itu, yang ada di atas sebuah foto pemandangan. Pegunungan yang membentang, dan matahari yang hanya terlihat sebagian.

Aku terdiam. Tanpa sengaja membayangkan, dimana aku berada di foto itu…dan…Pandu…

Sebuah pesan masuk ke messageku.

‘Sudah lihat fotonya? Suka ngga?’

Jariku sudah di atas keyboard, namun tak jua berani menyentuhnya. Ragu apakah takdirku memang sebagai pengkhianat…

***
IndriHapsari

Advertisements