Tiga Filter Socrates

 

Gempuran berita dari berbagai media sudah cukup harus membuat saya memilah, mana yang akan saya baca, dengarkan atau lihat. Kalau tidak, saya merasa sayang dengan mata saya yang sudah minus ini, waktu saya yang sangat sempit dan otak saya yang sudah penuh, untuk dijejali dengan berita sampah. Saat ini saya sudah ‘puasa’ terhadap sebagian tayangan  televisi dan satu portal berita.

Bagaimana saya melakukannya? Saya menggunakan 3 filter Socrates, sebelum memutuskan menerima berita tersebut atau tidak. Tiga filter tersebut adalah:

1.     Apakah berita tersebut benar?

2.     Apakah berita tersebut baik?

3.     Apakah berita tersebut bermanfaat?

Jika unsur berita tersebut tidak memenuhi salah satu dari filter Socrates, maka sebaiknya kita tidak membuang waktu untuk mencerna isinya.

Misal, kenapa saya menjauhi infotainment yang sering diputar di televisi kita? Pertama, berita tersebut belum dibuktikan kebenarannya. Masih ‘katanya’, ‘menurut sumber yang terpercaya’, dan mencampuradukkan dengan opini yang diselipkan pada ucapan presenternya. Kedua, beritanya kebanyakan buruk. Perceraian, perselingkuhan, anak durhaka, kebohongan, dan lainnya. Sampai ada istilah ‘bad news is good news’, semakin jelek beritanya, semakin besar animo pemirsa. Berdasarkan prinsip ada demand ada supply, jadilah setiap hari kita dicecoki berita-berita buruk ini. Ketiga, manfaatnya apa kalau saya tahu misalnya, artis ini cerai karena pasangannya selingkuh? Haruskah saya langsung mencurigai suami karena tayangan itu (pantes ya banyak suami ngamuk-ngamuk dicurigai macam-macam, mungkin asalnya ya dari sini, sama sinetron tentu saja).

Sama juga dengan portal berita tersebut. Diskusi dengan beberapa teman, beritanya belum tentu benar, terdapat beberapa kesalahan dalam isi berita, atau judul yang tidak nyambung dengan isi. Anda boleh iseng baca komentar yang ada dibawahnya, isinya orang-orang yang marah-marah karena kecewa dengan mutu pemberitaan yang dilakukan.

Demikian juga dengan Kompasiana. Menurut Wikipedia pada tahun 2011, tiap harinya terdapat 600 – 800 artikel yang diunggah di Kompasiana, atau jika dipukul rata terdapat sekitar 30 artikel dalam setiap jamnya. Kalau Anda tidak sempat membukanya setiap jam, jumlah ini makin berlipat. Begitu banyak berita yang harus dibaca, apa Anda tega menghabiskan waktu senggang Anda untuk membacanya? Memang sulit menyaringnya karena kita hanya mengandalkan judul yang menarik sebelum membukanya, atau Kompasianer lain yang kita ikuti terus artikelnya. Namun untuk saya, saya sudah tahu mana yang akan saya buka dan mana yang tidak 🙂

***

Advertisements