Mengembangbiakan Nama

20140210-225305.jpg

Jaman bokap, nama sebiji doang. Berhubung orang Jawa, banyak O-nya. Nyokap, lahir 7 tahun kemudian, namanya dua biji. Disuruh ganti nama pakai nama Indonesia, tetap dua biji. Pas saya lahir, namanya dua biji. Adik saya malah irit, cuma sebiji.

Sekarang, di jaman anak-anak kami, nama jadi berkembang biak. Minimal tiga kata deh, malah ada yang empat, bahkan lima. Mungkinkah karena saya menikah dengan suami yang bernama empat kata? *lirik sebelah* Ternyata ngga. Yang ortunya sama ngiritnya seperti saya, ternyata memberikan nama panjang-panjang pula pada anaknya.

Sebelum kelahiran, calon mama dan papa ini pasti sibuk browsing deh, nama apa yang paling bagus, keren, dan terdengar elegan saat diucapkan untuk anaknya. Ngga cuma internet yang diobok-obok, buku memberi nama bayi juga jadi incaran di toko buku. Ngintip doang sih, karena dari ratusan halaman itu paling kita cuma ambil beberapa buat kandidat nama. Lainnya, pinjem aja dari yang sudah punya *ngaku*

Trus calon mama papa jadi sibuk melanglang buana. Nama khas Indonesia rupanya ngga cukup menggambarkan harapan yang diinginkan orang tuanya. Ngga cuma Arab atau Amerika, sampai jaman dulupun ikut dipertimbangkan jadi nama. Anglikan, Sansekerta, jadi incaran juga. Makin unik dan aneh, makin bangga rasanya. Biar kalau di-Google nama anaknya aja yang ada satu-satu ya di dunia. Padahal kalau mau jadi yang pertama di Google cukup rajin posting saja #eh

Kembali ke topik, cara orang tua sekarang ngasih nama anak memang based on literature source. Jadi emang niat nyari, ngga ujug-ujug (ehm…tiba-tiba maksudnya) ada. Nama saya didapat dari ajang putri-putrian kala itu, dan ada kontestan yang sepertinya jadi contest sweetheart karena disukai banyak orang. Namanya? Ketebak dong, Indri Hapsari. Dan itulah sebabnya, nama Indri Hapsari yang dua kata, atau dapat embel-embel lainnya jadi tiga atau empat kata, menyebar dimana-mana. Googling aja, tetap nama saya di atas karena rajin posting #eaaa…

Jadi, nama itu tiba-tiba ada, inspirasi dari keadaan sekitar. Saya bayangin bokap rasanya ngga rempong deh nyiapin nama dua anak perempuan dan dua anak laki-laki seperti yang saya lakukan *ngaku lagi* Prosesnya begitu sederhana, spontan, dan apa adanya.

Masalah yang menghadang dengan nama-nama unik itu adalah masalah penulisan dan pengucapan. Ada kan yang tulisannya tricky banget. Yang N-nya dua lah, yang nyelip huruf H, R, atau yang bikin bingung, pake I atau Y. Kalau masalah pengucapan, untuk nama dengan bahasa asing memang bikin belibet lidah Indonesia. Waktu SMA dulu, ada teman yang manggil Mike (MAIK) dengan apa adanya, alias MI-KE. Kalo gitu James (JEMS) bisa dibaca JA-MES ya…

Menentukan nama panggilan juga sama repotnya. Biasanya nama pertama jadi nama panggilan, tapi ada juga yang karena nama pertama udah panjang, jadi dipenggal atau pakai nama kedua. Nama belakang ada yang dibikin marga-margaan. Aslinya sih ngga punya marga, tapi dengan menggunakan nama belakang papa, atau gabungan nama mama papa, hopla! Terciptalah nama belakang yang unik untuk keturunannya.

Berapapun panjangnya, saya percaya, nama adalah doa orang tua. Semua orang tua pasti punya harapan untuk anaknya, dan dengan memberikan nama itu mereka ingin anaknya punya tekad yang kuat untuk mewujudkannya.

***
IndriHapsari

Advertisements