Pemimpin Harus Turun Ke Bawah

penaaksi.com

penaaksi.com

Sejak tahun 80-an hingga saat ini, saya sudah melewati banyak pemerintahan, berada di bawah banyak kepemimpinan. Dan sungguh karena hal tersebut, saya bisa membedakan, mana kepemimpinan yang berjalan lancar, dan mana yang tidak. Dan kebetulan yang lancar tersebut, karena sang pemimpin mau langsung turun ke bawah.

Dulu ada istilah sidak atau inspeksi mendadak, yang menandakan ada pemeriksaan mendadak pada suatu instansi. Cukup membuat kapok yang lagi sial, namun setelah itu kembali ‘normal’ karena sidak toh tidak dilakukan pada saat yang berdekatan, dan pada waktu-waktu tertentu. Misal setelah libur Lebaran, dimana pada beberapa instansi pemerintah, ada pegawai yang meneruskan liburannya, beda dengan rekan-rekan lainnya yang sudah masuk kerja. Hal itu bisa diprediksi, sehingga bisa dihindari acara ke-gap-nya.

Ada lagi istilah turba alias turun ke bawah. Mungkin istilah yang popular sekarang adalah blusukan. Bagi saya turba bukanlah hal yang mudah, karena kita akan berhadapan dengan kondisi yang lebih buruk atau ngagetin buruknya, dan entah apa yang akan terjadi di sana. Meski dikawal oleh protokoler, atau ajudan, tetap saja ada udara panas yang harus dirasakan, bau busuk yang menyengat, tanah becek yang menjijikkan, dan kuman penyakit bertebaran. Itu baru lingkungannya. Belum lagi soal masyarakatnya yang sulit diatur, pernah kecewa, dan bawaannya selalu nyalahin pemimpinnya tidak kerja. Kenapa mereka bisa menuduh macam-macam seperti itu? Karena rasanya sudah capek mereka berteriak, tapi jangankan disampaikan, mendengarkanpun tidak bisa mereka dapatkan. Mereka cuma rakyat kecil, yang kelihatannya diberi numpang hidup di tanah negara saja mestinya sudah bersyukur.

Turba menyebabkan seorang pemimpin dapat melihat keadaan di lapangan langsung. Tidak perlu perencanaan, atau menyiapkan protokoler. Tinggal bilang saja, hari ini mau kemana, dan langsung kesana. Meminimalisir polesan yang akan disiapkan oleh pejabat yang ogah disemprot atas ketidakbecusannya. Atau saat sedang dalam perjalanan, melewati daerah yang ‘menarik’, berhentikan kendaraan dan masuklah ke dalam. Menikmati suasana yang sebenarnya, mendengarkan suara masyarakat yang terkejut, dan pasti bangga, didatangi pemimpinnya.

Turba itu tidak enak. Jadi kalaupun itu dituding sebagai pencitraan, itu pencitraan yang dilakukan dengan susah payah. Kalau mau yang enak, ya tetap saja di belakang meja, atau di belakang podium, dan bilang bahwa ia adalah korban. Itu pencitraan yang cukup dimodali omongan dan mimik wajah. Tidak perlu kena bau ikan asin, dipelototi orang, atau salting karena tidak biasa berhadapan dengan rakyat kecil.

Turba juga berpotensi dimaki orang. Selama ini proses pelaporan tidak berjalan dengan baik. Di negara lain, pelaporan dilakukan dengan otomatis, selain karena infrastruktur memadai, masyarakatnya sadar teknologi, pejabatnya juga sedikit yang korupsi. Itu saja masih ada laporan yang tidak sampai. Sekarang bayangkan dengan kondisi Indonesia yang infrastruktur kembang kempis, masyarakatnya hobi menghujat tapi dengan akun anonim, dan pejabat yang ketakutan kalau ada laporan berarti mengurangi pendapatan, apa yang mau diharapkan dari sistem laporan, atau birokrasi yang berkepanjangan.

Sehingga saat pemimpin yang tidak tahu apa-apa ini turba, yang terjadi adalah letupan emosi dari orang-orang yang merasa sudah dizalimi. Saya belum pernah dengar sih di Indonesia, tapi dari gabungan berbagai kejadian saat pejabat bertemu rakyat, yang mungkin membuat pejabat makin ogah turba adalah seperti diludahi, dilempar sepatu, tomat, dan telur. Biarpun sudah bawa banyak ajudan, tetap saja potensi kecolongan ada. Bukankah John F Kennedy juga matinya di jalan?

Dengan turba masyarakat akan merasa dekat dengan pemimpinnya. Mereka merasa diajeni, dianggap orang, karena dia yang begitu tinggi mau merendah. Tentu kita tidak bisa meniru gaya artis-artis kita, yang memberi bantuan langsung dengan full make up, baju mewah terlihat beda, dan rombongan penggembiranya. Turba yang baik adalah yang tidak memancing keramaian, karena rombongan akan makin sulit bergerak, dan keadaan menjadi berbeda dari biasanya.

Turba juga akan membuat bawahan sadar, mereka tidak bisa main-main dengan tugasnya. Pemimpin akan sewaktu-waktu datang, dan mendapati ternyata di bagian mereka banyak masalahnya. Sehingga mereka harus berhati-hati dan sungguh-sungguh menjalankan tugasnya. Bisa karena takut, bisa juga karena segan. Segan karena pemimpinnya telah memberi contoh yang baik, yang mau langsung turun ke lapangan, dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Menyentuh yang sakit, memberi makan yang kelaparan, dan membereskan yang berantakan.

Namun untuk turba, ada beberapa hal yang harus dilakukan.

Saat turba dijalankan, akan ada waktu yang terbuang. Atau bila kuat, tambahlah waktu kerja. Turba dilakukan sebelum dan setelah jam kerja di pemerintahan. Selain itu buat sistem yang efisien yang akan menggantikan aktivitas yang membutuhkan waktu lama. Misal rapat, bisa dilakukan dengan video conference, dari tempat masing-masing. Perancangan dokumen, bisa dilakukan dengan sharing file. Updating data terbaru, membutuhkan sistem informasi yang terintegrasi. Sehingga kalau mau tahu kenapa jalan X macet, kenapa daerah Y sering banjir, dan kenapa masyarakat Z sering berantem, semua ada trackrecordnya, dan bisa dianalisis sebabnya berdasarkan data yang ada.

Pemimpin harus dikelilingi wakil-wakil yang memang kompeten pada bidangnya, seorang professional mungkin bukan orang partai, yang fokus pada ilmu dan pengabdian yang ingin dilakukannya bagi masyarakat. Turba tingkat nasional sangat sulit dilakukan. Kondisi geografis ini juga akan sangat menyulitkan dan membuang waktu untuk turba. Pejabat daerah yang terpilih, sebaiknya diharuskan untuk melakukan apa yang dicontohkan pemimpin tertingginya, untuk sering turba di daerahnya. Jika hal ini terus berlanjut, saya yakin kelak Pak RT akan mengenal seluruh warga di lingkungannya.

Setelah turba, apa yang akan dilakukan? DI sini diperlukan ketegasan. Percuma turba, tahu keadaan tidak beres, tapi tidak bisa menyelesaikan. Hukum oknum yang tidak betul. Perbaiki sistem yang belum sesuai. Ciptakan peraturan yang bertujuan memperbaiki, bukan menutupi kesalahan. Tanpa tebang pilih, turba akan menjadi efektif. Dengan langsung melakukan sesuatu, benang kusut ini akan terurai.

Jika banyak pihak berpikir Indonesia tidak bisa diapa-apakan, saya yakin dengan satu orang pemimpin yang tepat, masalah demi masalah akan terselesaikan. Dan turba, adalah kuncinya.

***

IndriHapsari

 

 

Advertisements