Cenggur

Buseeeet. Cantik bener!

examiner.com

examiner.com

Aku terbengong-bengong ketika ia membuka pintu. Teman si Eca, dia mengajakku ke kos temannya ini untuk mengembalikan baju. Begitu pintu kamar dibuka, astaga, sialan juga si Eca teman secantik ini ngga pernah dia perkenalkan padaku.

160 senti, berat seimbang. Wajahnya, seperti yang tadi kubilang. Cantik, meski rambut acak-acakan. Malah terkesan..uhuk..seksi! Poninya sebagian menutupi keningnya, matanya bulat besar, nampak ada bekas eyeliner di bagian bawah mata. Tak apa, tetap cantik! Bajunya, kaos lengan buntung warna pink. Lengannya putih mulus, dan dadanya..sempurna! Mmm…C?

Ia mengenakan celana pendek, yang pendeeeek sekali, mungkin hanya menutupi seperempat dari pahanya yang mulus. Dibawahnya sepasang kaki yang jenjang dan telanjang membuatku harus menyimak dengan teliti penampilannya dari atas ke bawah…

‘Me, kenalin nih, Teddy’ Eca akhirnya membuyarkan lamunanku.

‘Meme’ katanya lembut sambil mengulurkan tangan. Segera kusambut tangannya..ugh… kulitnya halussss.

‘Teddy’ kataku kaku. Eh, tadi sudah disebut Eca ya? Ah, cuek aja!

‘Yuk, masuk’ kata Meme mengajak kami masuk ke kamarnya. Yes! Masuk kamar cewek, cantik lagi! Kapan lagi nih…

Kami duduk di karpet yang terhampar di kamarnya. Aku dan Eca bersila, sementara Meme cuek saja duduk di tepi ranjangnya, sambil mengangkat sebelah kakinya. Haduuuh, pahanya…Dengan santai ia keluarkan rokok dari bungkusnya, menyalakan korek dan kemudian asap pertama keluar dari bibirnya yang mungil.

‘Eh, bengong aja!’ Meme memandangku sambil tertawa. Eca melirikku.

‘Si Teddy ini, suka blingsatan kalo liat orang cantik Me!’ katanya kejam, membongkar kelemahanku.

Meme tertawa renyah. Menghisap lagi rokoknya.

20130201-173856.jpg

‘Mau, Ted?’ katanya menawarkan bungkus rokok itu. Tinggal separuh.

Aku menggeleng. Ngga nyaman rasanya ngerokok di depan mahluk cantik ini.

‘Nih Me, bajumu. Makasih ya. Untung ukuran sama. Jadi ngga bingung deh kalau ada pesta’ Eca mengangsurkan bungkusan plastik yang dari tadi dibawanya.

‘It’s OK Ca’ Meme melempar bungkusan itu ke atas ranjang.

Aku sendiri lebih suka mengamati situasi, sementara Eca dan Meme sibuk bercerita tentang pesta semalam yang mereka hadiri. Pengen tahu aja, seperti apa sih kamar putri cantik ini?

Agak berantakan sih, tapi kelihatan banget kalau kamar cewek, dominasi pink. Ranjangnya tipe queen dengan dua bantal dan satu guling,pink juga. Eh, apa tuh yang menyembul di bawah bantal? BH? Wew. Dia sekarang pake ngga ya…

Hush hush! Inget, tadi mau liat-liat kan?

Ada satu kursi sofa di depan seperangkat home theater dan TV. Lalu satu meja kecil, untuk make up mungkin karena di atasnya terdapat berbagai peralatan kosmetik, dan kaca yang cukup besar. Lalu lemari besar, mungkin untuk pakaian. Di sudut dekat pintu terdapat beberapa pasang sepatu dan sebuah stiletto. Sepatunya hak tinggi semua, minim lima belas senti lah. Ho, looking hot deh kalau dia pakai sepatu itu…

Satu jam dinding yang bergerak pasrah melihat penghuninya tidur telentang di hadapannya, satu kamar mandi dalam yang siap sedia membasuh tubuh polosnya, dan satu pendingin udara untuk menghilangkan peluhnya sehabis..apa ya…kok jadi hilang konsentrasi begini…

‘Ted, pulang yuk!’ Eca, lagi-lagi anak jelek itu, membuyarkan lamunanku.

‘Gitu aja?’ jawabku spontan. Ups! Ketahuan deh kalau ngarep.

Meme tertawa. ‘Kenapa Ted, mau nginep sini?’ katanya menggoda.

Hampir kujawab ‘Emang boleh?’. Tapi berhubung dilirik sadis si Eca, terpaksa kugelengkan kepala. ‘Ngga, mau pulang aja.’

Meme tertawa. Dimatikannya rokok tersebut di asbak sambil bangkit dari ranjangnya, lalu kakinya ringan melangkah ke pintu.

‘Kapan-kapan main lagi ya Ted’ katanya saat ku melangkah keluar. Aku nyengir tanpa berani melihat wajahnya. Takut terlihat terlalu gembira.

Di perjalanan, kumarahi Eca yang teganya tidak pernah memperkenalkan aku pada Meme, dan perilaku menyebalkannya yang cepat sekali mengajakku pulang.

‘Aku kasihan sama kamu Ted. Kamu tuh baik. Kasian kalau dapat Meme’ kata Eca di tengah deru motor.

‘Kasihan kenapa Ca? Masa kenalan sama orang cantik itu menyedihkan?’ kataku protes.

‘Kamu tahu ngga berapa biaya kosnya?’ tanya Eca.

‘Mmm..ngga tahu. Kalau sebagus itu..’ kataku sambil mikir.

‘Dua juta’ Eca menjawab sendiri pertanyaannya.

‘Hah? Mahal amat! Kerja apa dia?’ Lebih dari setengah gajiku! Wew!

‘Peliharaan om-om’ kata Eca menjelaskan.

Waduh, sainganku kok gitu ya? Sudah kalah set duluan nih!

‘Makanya, cepetan aku keluarin kamu dari sana. Daripada cenggur’ jelas Eca.

‘Eh? Apaan cenggur?’ tanyaku heran.

‘Mmm…ituuu…ngaceng nganggur! Huahahaha!’ dan meledaklah tawa Eca di belakang.

Oalah…asem…asem.

Advertisements