Ibu Bekerja, Kenapa Dianggap Lebih Buruk?

20140211-075212.jpg

‘Wah, selamat ya sudah menjadi full ibu rumah tangga!’ Begitu komentar yang masuk saat seorang teman saya mengumumkan perpindahan profesinya, dari seorang wanita bekerja menjadi orang rumahan.

Saya jadi mikir, kata selamat itu kan diucapkan untuk sesuatu yang menjadi baik, atau makin baik. Memang kenapa dengan wanita bekerja?

Seribu kekhawatiran akan diungkapkan. Bahwa wanita bekerja itu hanya punya sedikit waktu bagi keluarga, sehingga keluarga tidak terurus. Anak-anak tumbuh tanpa emaknya, suami merasa diabaikan, rumah berantakan, anti sosial dengan tetangga, dan malas ikut kegiatan warga.

Hohoho…apakah semua benar?

Karena pada kenyataannya, itu semua tergantung orangnya kok. Ada juga ibu rumah tangga yang nyuruh suaminya ngerjain pekerjaan rumah, dianya ngilang entah kemana. Ngga pamit maksudnya. Lalu meski lama bersama anak, anaknya dibekalin iPad, emaknya sibuk BBMan atau ngegosip di kafe langganan. Bersama, tapi sebenarnya ngga bersinergi atau bergerak bersama. Semua sibuk di dunia masing-masing.

Nah, sebelum artikel ini jadi membahas tentang keburukan masing-masing, mari kita tinjau kenapa wanita memilih untuk bekerja.

Pertama adalah alasan ekonomi. Pernah lihat buruh pabrik rokok yang hampir semuanya adalah perempuan? Kalau di kota kecil, suaminya biasanya petani. Para suami ini yang mendukung istrinya bekerja, dan mereka kebagian tugas ngurus anak dan menjemput istrinya. Anak-anak mau-mau saja diurus bapaknya, bapaknya juga sadar gajinya gedean istrinya, jadi ngga ada yang rempong soal ini. Atau para TKW yang kerja di luar negeri, para suamilah yang memiliki peran sebagai ibu dan ayah. Ngga gampang, tapi asal satu misi, mereka bisa mengantarkan anak-anak ke masa depan yang lebih cerah.

Kalaupun kebutuhan dasar sudah cukup, ibu bekerja untuk meringankan beban ayah, agar ngga dimintai uang belanja. Mau shopping pakai uang sendiri, traktir teman pakai uang sendiri, beliin baju atau mainan lucu ngga usah nunggu suami. Terkait dengan hal itu, ada kemandirian secara ekonomi sebagai poin kedua. Sehingga kalau ada sesuatu terjadi pada pencari nafkah utama, si ibu bisa lebih mudah mengatur keuangannya, karena sejak semula sudah berpengalaman mendapatkan dan mengeluarkan uang. Hal lain, gajiannya bisa dipakai sebagai tabungan untuk meningkatkan investasi.

Ketiga adalah meningkatkan kualitas diri. Ibu bekerja otomatis harus menggunakan otak, tenaga, dan melatih peka terhadap situasi yang selalu berganti. Dengan membiarkan otak, hati dan tubuh kita bekerja, sel-selnya jadi ngga malas karena sering latihan. Wawasan jadi berkembang, pergaulan menyebar, juga kita menjadi tahu pergerakan jaman.

Keempat, menjadi kebanggaan keluarga. Mana ada sih anak yang malu-malu mengakui ibunya adalah Marie Elka Pangestu misalnya? Kecuali kalau kerjanya ngga beres lo ya, itu patut malu karena jenis pekerjaannya, bukan karena ibunya bekerja. Apalagi kalau sampai bisa mencapai prestasi, atau meninggalkan legacy yang bikin bangga anak cucu kita. Dikasih kesempatan bekerja itu, untuk menunjukkan kapabilitas, bukan untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dari halamannya sendiri.

Sekarang, kenapa stigma negatif wanita bekerja itu muncul?

Karena wanita juga manusia, yang punya keterbatasan. Menyadari keterbatasan itu, maka ketika ada kesempatan, sebaiknya dioptimalkan.

Misal, waktu yang diberikan pada keluarga pasti berkurang. Maka ketika ada kesempatan bersama, fokuslah pada keluarga. Kalau berkesempatan makan di luar, jauhkan gadget dan mulailah bertegur sapa. Pas nganterin anak, sebelum tidur, menemani belajar, week end ngga ngeluyur sendirian, sudah jadi hal mewah yang akan dinanti. Jika ibu bekerja di luar kota, pas libur harus off dari semua kegiatan atau pergaulan di luar keluarga. Biarin dah dibilang sombong, wong ini anak-anak gua, jadi merekalah fokus perhatian ibu bekerja.

Memilih orang yang tepat untuk mengurus rumah dan anak, juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Kalau tidak ada keluarga, maka asisten rumah tangga atau ART jadi pilihan. Susah memang mencari ART yang tepat, tapi cobalah untuk percaya dan sabar untuk melatihnya. Kalau kita sayang ke ART atau suster, merekapun akan sayang pada apa yang kita titipkan padanya.

Meski sudah dibantu, jangan menyerahkan semua padanya. Usahakan setiap ada di rumah, kitalah yang banyak berinteraksi dengan keluarga, bukan mereka. Tujuannya biar mereka merasa ada bedanya, ada ibu sama ngga ada ibu itu apa. OK kita sudah lelah pengen istirahat, tapi itulah konsekwensi ibu bekerja, tidur mungkin kurang. Karena itu apa yang bisa dikerjakan oleh orang lain, alokasikan ke mereka.

Bersama pasangan juga jangan cuek-cuekan. Begitu ketemu malah berantem ya ngga lucu. Jadi panjang sabar dan menahan diri, meskipun banyak masalah sedang melanda. Ingat dua-duanya sudah sama-sama capek, gampang tersulut, karena itu ngomong hal penting harus nunggu momen, saling terbuka dan percaya, sepertinya tepat diterapkan pada keluarga model apapun juga.

Satu lagi yang sering terlupa, kadang orang dewasa bersikap begitu ramah dan perhatian pada orang lain, tapi tidak pada keluarga sendiri. Alasannya sih karena sudah capek di kantor beramah-ramah, saatnya di rumah menjadi diiri sendiri. Tapi lo, pasti keluarga juga senang kan mempunyai ibu cantik rapi dan menyenangkan? Capek? Ya itu resikonya. Kalau ibu rumah tangga bisa mencapai keidealan dengan 100%, seorang ibu bekerja bisa mencapainya dengan 130% ^_^

***
IndriHapsari

Advertisements