Narsisme Akut, Miskinnya Empati, dan Kegilaan Moral

20131216-223544.jpg

Agak kaget juga saya saat ternyata sejak jaman Sherlock Holmes ‘penyakit’ ini telah ada. Kirain jaman sekarang saja #eh

Ketiga istilah ini diberikan saat Holmes membaca tulisan tangan Prof. Moriarty. Digambarkan sebagai seorang akademisi yang luar biasa jenius, suka opera, disegani dan jago boxing juga, namun ternyata dibalik kesempurnaannya, dia adalah orang yang luar biasa keji. Selain berusaha menguasai dunia, dengan berbagai cara, dia juga ngga segan-segan menghilangkan nyawa, melakukan berbagai kelicikan untuk mencapai tujuannya. Ngga heran jika dalam hidupnya ia dikelilingi oleh orang-orang jahat.

Apa sih yang mendasari tindakan lebay nan ngga bisa dipertanggungjawabkan itu?

Pertama, mungkin Prof Mortiary punya masa lalu yang kelam, diabaikan orang tua, teman dan saudara mungkin, yang menyebabkan sakit hati itu ia pendam terus menerus, berlama-lama berkubang di dalamnya, sehingga ia berusaha menciptakan kesempatan, yang berkebalikan dengan masa lalu, atau kenyataan.

Pada masa inilah, ia akan unjuk gigi. Yah namanya aja seperti kangen, makin ditahan, makin membuncah rasanya. Sehingga, yang ia lakukan adalah semua kegiatan yang bertujuan ‘Look at me!’. Lihat, dan lihatlah saya! Ia akan melakukan berbagai cara, ditunjang dengan keenceran otaknya, untuk mencapai niatnya. Atau sekedar show off, ‘Eh, kalau disini saya paling OK lo!’ Dan terciptalah narsisme akut. Susah disembuhkan, lupakan soal kerendahan hati, dan diam-diam menggerogoti jiwanya.

Kedua, atas dasar keegoisan tersebut, maka hilanglah empati. Harusnya feeling sorry, atau tersentuh atas kondisi seseorang yang parah, kalau ini ngga. Bisa karena empatinya tertutup karena narsisme akut tadi, hingga gengsi amat sih kalau sampai menunjukkan how pity they are. Ada juga yang karena ngga pernah membayangkan pada kondisi tersebut, jadi seenak udel memperlakukan orang lain.

Prof. Moriarty ngga akan peduli dengan berapa anak yang menjadi yatim piatu karena ulahnya, atau suatu bangsa bisa menyerang bangsa lainnya karena ambisinya untuk menguasai dunia. Ia keras terhadap dirinya sendiri, maka ia keras juga terhadap yang lain. ‘Jangan cengeng!’ dan ia memperlakukan sesamanya dengan lebih kejam, bahkan menari-nari di atas penderitaan mereka.

Memang kok, tidak ada majikan yang lebih kejam, selain dari budak yang menjadi majikan. Itu kata Robert Harris, penulis novel best seller Pompeii. Selama ini ia telah diperbudak oleh keadaan, sakit hati, dan begitu ada kesempatan jadi majikan, ia jadi berlaku lebih kejam kepada mereka yang menjadi budaknya.

Ketiga, moralitas yang gila. Moral, konon diciptakan untuk mengurangi gesekan antar manusia. Mirip dengan prinsip adanya agama. Dengan moral kita jadi saling menjaga, mempunyai standar yang sama untuk saling berinteraksi.

Namun moral yang bobrok, akan mengembalikan kita ke jaman purbakala, saat semua serba bebas dan saling menjatuhkan. Ah, mungkin malah jauh lebih bagus jaman purbakala. Mereka ngga akan menghancurkan teman sendiri, asal satu kelompok dengan mereka. Dibandingin sama binatang? Masih lebih bagus binatang. Ngga ada binatang yang tega memperkosa anak sendiri, misalnya. Atau menelikung dari belakang. Padahal mereka, mahluk yang katanya lebih rendah dari manusia.

Maka berkat kegilaan moral tersebut, media massa kita tak pernah sepi. Selalu ada berita, yang menarik untuk dibicarakan, karena standar orang ternyata berbeda-beda. Malah ada yng standarnya sudah ngilang entah kemana. Maka kita dibuat terheran – heran saat mengikuti beritanya.

Namun hati-hati, orang-orang ini jenius.

Pelan-pelan, ia akan mempengaruhi pikiran orang lain, bahwa yang ia lakukan ini wajar kok, ngapain ribut. Kemudian orang lain merasa tak berbeda, merasa baik-baik saja jika melakukannya, dan jadilah pengikut-pengikut setia. Hitler termasuk yang berhasil mengembangkannya, sehingga pengikutnya dengan rela dan suka hati, membunuh para Yahudi karena diskriminasi. Padahal lo, bisa bikin manusia aja ngga, ini malah mau matiin.

Begitu ketiganya dijadikan satu, ya muncullah sosok Prof. Moriarty. Sosok yang kelihatannya hebat dan baik-baik saja, padahal ia sungguh sakit di dalam. Pintar mengelabui khalayak, dan dengan menghalalkan berbagai cara, berusaha mencapai tujuan…

…yang akan membuat kita geleng-geleng kepala…

***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/109986415873310031/

Advertisements