Miss Kepo Patah Hati

Email or Phone : minawati88@yahoo.com
Password : ********

Enter.

Sekian lama aku tidak membuka akun Facebookku. Pada dasarnya aku memang tak menyukainya. Teman-temanku memang banyak yang memiliki akun, dan sudah ku-add mereka satu persatu. Aku berusaha untuk menyapa mereka di masing-masing timeline-nya, namun hanya sedikit yang membalasnya. Bahkan, saat aku mencoba berkomentar di status mereka, terasa balasan mereka hanya berupa basa-basi. Setelah itu, mereka asyik hahahihi dengan yang lainnya. Sering komentarku berakhir dengan ‘unfollow post’ untuk mengurangi sakit hatiku.

Malas rasanya membaca status ataupun foto yang mereka upload di dan muncul di wall-ku. Malas pula membaca statusku tak ada yang mengomentari. Akhirnya kuputuskan saja untuk tidak menengoknya kembali. Tak ada untung dan ruginya. Mereka tidak pernah kehilanganku, dan aku tak pernah kehilangan mereka.

Namun kali ini, Mas Egi membuatku harus masuk kembali ke akunku.

Mas Egi adalah pacarku. Kami dipertemukan oleh Siska, temanku dan teman Mas Egi. Katanya ada pria di kantor sebelah yang cukup OK dan single. Ia menawariku untuk diperkenalkan padanya, karena Siska sendiri sudah punya pacar. ‘Kalau gue jomblo udah gue embat!’ begitu katanya. Karena itu ia mengusulkan agar aku berkenalan dengannya, secara ‘tak sengaja’ tentu.

Siska sudah tahu Mas Egi biasa makan dimana. Maka pada jam makan siang, kami bergegas ke warung tersebut, yang memang menjadi tempat berkumpul pekerja kantor daerah ini. Syukurlah, Mas Egi sudah disana. Dengan ramah Siska menyapanya, sambil bilang, ‘Eh, kenalin nih. Temen gue.’ Setelah kami bersalaman, Siska dengan tanpa malu-malu duduk di sebelah Mas Egi, dan mempersilahkanku duduk. Lalu ia berpura-pura mau melihat masakan apa saja yang dipajang di display warung, dan meninggalkan kami berdua.

Disanalah Mas Egi mengajakku bercakap-cakap untuk pertama kali. Siska memang tak salah. Mas Egi ini laki banget penampilannya. Lengan kemeja digulung sampai siku, dagu yang biru habis dicukur, dan dasi yang dilonggarkan. Rambutnya rapi meski ada anak rambut yang membandel jatuh di keningnya, namun malah menambah natural penampilannya.

Untunglah Mas Egi mungkin menganggap hal yang sama pula padaku, mengenai hal ‘cukup manis’ itu, hingga mungkin baru dua minggu kami intens bertemu, ketika ia mengucapkan cintanya padaku. Lalu kami berpacaran, dan semua baik-baik saja, sampai ia berkata dipindahtugaskan ke cabang di luar kota.

Lalu aku bisa apa, selain merelakannya? Aku bukan bossnya, tak bisa pula mengganti gajinya. Lagipula, ‘ini demi masa depan kita berdua,’ begitu katanya. Sehingga kulepas kepergiannya di bandara, dan ia berjanji akan sering menghubungi.

Itu janjinya. Pada kenyataannya, sangat jarang ia meneleponku, membalas teleponku, pesanku, emailku, atau apapun yang bisa kuusahakan agar bisa menghubunginya. Hampir putus asa aku setelah lebih dari dua minggu tak mendapat kabar darinya.

Ketika kuceritakan hal ini ke Siska, ia menanyakan apa aku terhubung dengan medsosnya? Facebook, salah satunya. Aku ingat, pernah meng-addnya hanya karena ingin melihat foto-fotonya. Sudah di-approve, dan sempat kulihat timeline-nya yang hanya berisi status dan foto teman-temannya, yang men-tag namanya. Mas Egi nampaknya tak terlalu berminat pula dengan pergaulan dunia maya. Karena itu kembali aku meninggalkan Facebook.

‘Coba masuk ke akunnya, siapa tahu ada keterangan tentangnya,’ begitu saran Siska. Kuikuti nasehatnya, dan setelah mencari namanya di daftar friendlist-ku, kini aku telah masuk ke timeline-nya.

Ada yang baru nampaknya. Timeline-nya kini tak hanya berisi milik teman-temannya. Ada status dan foto, dibuat dalam jangka dua minggu yang lalu. Cukup aktif nampaknya, setiap dua hari pasti ada yang baru darinya. Menyakitkan, mengingat ia tak pernah menghubungiku, padahal mengetik statusnya ia mampu. Belum lagi meng-upload foto yang mungkin sudah di-edit lebih dahulu.

Aku buka satu persatu. Sepertinya ia punya penggemar. Seseorang yang bernama Risa, perempuan pastinya, sering me-like status, fotonya, kadang berkomentar ‘Ganteng banget!’, ‘Wah aku bisa tak tidur malam mini!’ Dan Mas Egi menanggapinya dengan icon tertawa di setiap balasan komen yang diberikan.

Aku penasaran dengan yang namanya Risa ini. Untunglah profilnya dibuka untuk umum, sehingga aku bisa menelisik di setiap postingannya. Cukup banyak fotonya dengan pose close-up, dan memang cukup menarik wajahnya. Di akunnya, aku merasakan keanehan yang sama. Setiap Risa posting sesuatu, entah status, foto, bahkan lokasi tempat ia berada, Mas Egi selalu mengomentari dengan kalimat-kalimat yang menggoda. ‘Ikut dooong’ atau ‘Tambah cantik aja nih!’ atau ‘Baru aja ketemu, sudah bikin kangen’.

Astaga! Padahal bisa kuhitung dengan sebelah jari tangan, berapa kali ia mengatakan hal-hal manis itu padaku. Dengan geram kukirimkan message padanya, mempertanyakan tentang Risa. Aku juga merambah semua status dan fotonya, kutambahkan komentar, ‘Risa ini siapamu Mas? Kok lebih akrab dariku, yang adalah pacarmu?’ Aku sudah gelap mata dengan perselingkuhan mereka berdua. Terlebih semua dilakukan di depan mata dunia. Kuposting status berisi sakit hatiku. Tak peduli jika teman-temanku membacanya, toh mereka juga tak mempedulikan aku.

Bertambah sedih hatiku ketika di malam hari, saat aku ingin memeriksa sudahkah ia membalas pesanku, timeline-nya kembali kosong. Rupanya ia sembunyikan semua dariku. Pesankupun sudah dibacanya, aku melihat notifikasi ‘Seen Mon at 13.30’ tapi ia tak pernah membalasnya. Aku kirimkan lagi pesan yang sama, mempertanyakan siapa Risa, dan bagaimana kelanjutan hubungan kami berdua.

Pagi hari, saat aku akan memeriksa balasannya, aku tak bisa lagi menemukan akunnya. Kucari di Google dengan mengetikkan nama lengkap Mas Egi tak pula kudapatkan. Rupanya, aku telah di-block olehnya.

Menjadi terpikir, apakah sebaiknya aku buat akun samaran, dan meng-addnya sebagai teman?

20131017-195410.jpg
***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com/pin/500603314801168023/
Dibuat dalam rangka mengikuti event Remake/Rewrite di Kampung Fiksi
Karya asli oleh Glory Grant, Hatiku Telah Bosan
.

Advertisements