Yuk Ke Pasar Tradisional! (2)

PRODUCT

IMG_4049.JPG

Pedagang di pasar tradisional mendapatkan barangnya dari pengepul, tengkulak, juragan, atau apapun istilahnya bagi mereka yang menjembatani penyedia barang dengan pedagang di pasar. Jarang yang mendapatkannya dari tangan pertama, apalagi bahan pangan. Jadi sistemnya para pedagang ini kulakan (membeli untuk dijual kembali) ke pasar induk, kemudian membawanya ke kios yang mereka punya atau sewa.

Jika begitu, maka yang mereka hadapi adalah orang-orang yang berpendapat tugasnya hanya mengantarkan barang dengan cepat, agar uang yang sudah berpindah tangan ke penyedia barang, cepat tergantikan dengan uang dari pedagang. Faktor waktu menjadi penting, sehingga kualitas bukan menjadi prioritas.

Bayangkan saja, saat membeli di petani atau peternak, tengkulak akan melihat dari segi ukuran, sulit sekali memeriksa kualitas jika tidak kelihatan. Ia harus menyelesaikan transaksi dengan cepat, karena produk termasuk yang cepat kedaluwarsa (perishable item). Memeriksa satu persatu tidak mungkin, truk sewaannya sudah menunggu untuk mengangkut barang-barang itu. Belum proses pemuatan (loading) yang juga membutuhkan waktu yang singkat, kualitas bahan menjadi menurun karena perlakuan ini.

Hal ini terus berlanjut hingga ke pasar induk, lagi-lagi barang tidak diperlakukan dengan hati-hati saat pembongkaran (unloading) karena terkejar waktu. Pedagang pasarlah yang harus memilah agar barang yang mereka beli bagus kualitasnya, karena merekalah yang bakal terkena dampaknya kalau menjual barang yang jelek. Dikomplain pembeli yang memaki tak akan kembali.

Ketika memajangnya di kios, biasanya pedagang pasar mengelompokkan barangnya sesuai jenis. Kebanyakan kios di Indonesia adalah kios campuran, sehingga mau dipisah seperti di Victoria Market di Melbourne cukup sulit. Di sana meski pasarnya sederhana, namun sudah terbagi dengan baik, bahkan dari kios buah dan sayur, untuk ke kios daging harus ditempuh dengan menyebrang jalan. Nah yang seperti ini di Indonesia sulit diterapkan, karena pedagang daging atau ikan juga menjual sayuran.

Pengelompokan ini akan memudahkan pengunjung saat melewati kios. Penataannya bisa digantung atau ditebar di atas meja. Apapun itu harapannya adalah pembeli dapat melihat semua barang dan berniat membelinya saat melewati kios tersebut. Harapan lain adalah impulse buying, saat menunggu dilayani pembeli akan melihat-lihat isi kios dan tertarik membeli lebih banyak. Disinilah uniknya penataan barang. Kalau kios kosong tempatnya pasti cukup, tapi pembeli akan berpikir barangnya tidak lengkap. Kalau penuh berkesan kengkap, tapi mengakibatkan pembeli sulit sekali mencari barang yang mereka inginkan.

Penataan juga sebaiknya memperhatikan kualitas barang. Jadi jika terlihat daun-daun sayuran hampir layu, kalau di supermarket ada petugas yang menyemprotnya dengan air supaya segar kembali. Demikian juga dengan di pasar, pedagang bisa mengusahakan cara lain agar sayuran tetap segar. Segera pisahkan yang layu, kalau perlu beri potongan khusus bagi pelanggan yang menginginkan harga lebih murah. Maklum di pasar pembeli itu beragam, dari yang datang naik mobil hingga jalan kaki. Bukan karena pilihan, tapi keadaan yang memaksa.

Dengan membuat kualitas barang terjaga, pembeli dapat melewati proses pemeriksaan barang dagangan karena pasti mendapat yang bagus. Jika ingin lebih cepat lagi, maka tampilan berikutnya adalah mengenai harga. Harga yang beragam menyebabkan pembeli harus tanya satu persatu. Jika di supermarket ada barcode ataupun petunjuk harga di rak, sebenarnya pasarpun dapat melakukannya. Karena pemilik ini mempersiapkan sendiri barang dagangannya, maka persiapan dapat dilakukan sebelum berjualan.

Produk non food kebanyakan berada di dalam etalase, dan bertanya atau tidak mengenai harga, tetap saja pemilik yang akan mengambilkan. Karena itu menempelkan harga tidak efektif, karena biasanya pemilik sudah hapal di luar kepala. Yang bisa dilakukan adalah membuat daftar harga agar dapat memeriksa harga jika lupa atau jika ada perubahan. Untuk produk-produk yang dipastikan lebih murah, atau hanya ada satu-satunya di kios itu, atau produk baru, bolehlah diberi sign (papan petunjuk) yang menarik perhatian pembeli yang lewat. Hal ini memangkas waktu dan tenaga pedagang untuk menawarkan ke pembeli satu persatu.

Untuk produk food terutama yang perishable, dengan mengelompokkan dan menancapkan papan harga akan memberi beberapa keuntungan. Pertama pelanggan merasa aman karena harga sudah mereka ketahui dengan pasti, jadi kemungkinan pedagang mempermainkan harga lebih kecil. Kalau berani, malah pedagangnya yang rugi karena di kios lain lebih murah. Dari sini pembeli masih bisa menawar jika membeli dalam jumlah banyak. Yang kedua waktu tawar menawar menjadi hilang karena harga sudah kelihatan. Pembeli dapat mengambil sendiri dari keranjang yang disediakan dan menyerahkan ke pedagang untuk ditimbang dan dihitung. Dengan cara begini, self service juga bisa diterapkan di pasar tradisional.

Jika papan harga menyulitkan dan acara menimbang masih memakan waktu panjang, sebenarnya pedagang bisa lebih menyederhanakan dengan mengelompokkan barang yang harganya bisa sama, karena pedagang tinggal membedakan saja ukuran. Misal bayam dan sawi harganya sama-sama seribu seikat, namun jumlah batang dalam satu ikatannya berbeda. Dengan cara sederhana ini, papannya cukup satu saja, ‘Rp 1.000/ikat’ dan memudahkan penghitungan.

Lebih menarik lagi jika barang sudah dikemas, seperti yang terjadi pada buah. Dengan plastik transparan, satu kantung plastik sudah tertakar barang dagangannya sehingga pedagang tinggal menghitung dari jumlah kemasan saja. Cara yang sebenarnya sudah dilakukan oleh tukang sayur keliling di kompleks perumahan, namun jarang dilakukan oleh pedagang pasar. Pembeli masih ragu atas kualitas barang juga kejujuran pedagang dalam menimbang. Jika kedua hal ini bisa ditingkatkan, maka tidak ada lagi pembeli yang menginginkan pengecekan ulang. Semua bisa dilakukan dengan cepat karena saling percaya.

Display yang menarik bisa dilakukan seperti yang pedagang buah di terminal bisa lakukan. Produknya disusun seperti gunung dan perpaduan warnanya cukup menarik. Sayur meskipun satu warna kelebihannya adalah pada kesegarannya. Sedangkan daging bisa digantung dengan memperhatikan jenisnya dan gradasi warna. Satu lagi untuk menarik perhatian pengunjung adalah warna meja kios yang kontras, misalnya putih, untuk menguatkan warna barang dagangan, sekaligus menanamkan kesan bersih pada kios.

(Bersambung)
***
IndriHapsari
Foto : http://www.flickr.com/photos/asoekarnen/

Advertisements