Bahasa Inggris Vicky Prasetyo Tidak Salah!

20130911-220900.jpg

‘I am 29 my age.’

Itu mungkin quote ajaib Vicky Prasetyo saat orasi mencalonkan diri sebagai lurah Karang Asih. Sudah amburadul, ngga penting juga ngomong di depan masyarakat desa yang akan memilihnya dengan menggunakan bahasa asing. Terkesan sotoy dan songong, sekaligus memperlihatkan bahwa dia tuh ngga nguasain amat ngomong dalam bahasa Inggris.

Yeah, itu pendapat sebagian besar orang. Vicky itu ngerusak bahasa! Sudah ngomong Indonesianya mbulet kaya benang ruwet, sehingga ada yang usul sebaiknya Vicky ngga baca kamus, tapi MAKAN kamus; bahasa Inggrisnya juga kacau balau.

Nah, kalau bagi saya sih, apa yang Vicky lakukan juga mungkin dilakukan oleh orang lain, termasuk saya. Maklum, Inggris bukan bahasa ibu. Di sekolah, kita hanya mempelajarinya dua hingga tiga jam seminggu. Itupun di kelas, biasanya satu arah, sehingga yang muncul adalah kita kuat di grammar, tapi a-u-a-u di conversation. Grammarnya? Lupa semua.

Kalau saya daftar nih, kesalahan saya selama berbahasa Inggris adalah :
1. Masih kebalik-balik antara MD dan DM (diterangkan menerangkan)
2. Vocab yang ngga pas
3. Tenses yang hajar bleh
4. Bingung penggunaan adverb dan adjective
Hampir sama kan, kaya Vicky?

Vicky selayak anak kecil yang baru belajar bahasa asing, tapi sudah berani menggunakannya dalam rangkaian kata yang fasih (meski spellingnya ngga gitu tepat) ia ucapkan dengan cepat. Rasa percaya dirinya merupakan modal yang besar untuk perbaikan. Saya yakin, jika Vicky mau membuka diri belajar bahasa sendiri, kemampuannya akan meningkat tajam. Karena untuk praktik ia tak punya malu atau gengsi, yang merupakan penyebab terbesar sukses berbahasa Inggris.

Bahkan, saya yakin, ia akan lebih mahir berbahasa Inggris, dibanding mereka yang lemah mental takut dicemooh, dan enggan berkata-kata dalam bahasa asing.

***
IndriHapsari
Gambar : antaranews.com

11 comments

  1. Tulisan menarik Mbak di tengah kepungan tipikal masy kita yang judgmental (menurut terawangan hehe). Sepakat, bahwa proses belajar bahasa itu nggak bisa otomatis ‘klik’ krn berbagai alasan. Perlu kesungguhan, perlu umur minimal belajar bahasa (katanya ada teori critical age hypothesis; umur o – 12 thn adalah umur terbaik hehe), perlu latihan (dipraktekkan dlm konteks/lingkungan), dll. Tentu orang PD beda dengan takabur. Semoga saja ia hanya PD.

    Wah rajinnya menulis… penyemangat bener ini si Mbak Indri 🙂

  2. Betul, Ndri, pede ngomong itu yg paling penting, terbukti orang2 yang pede, gak pedulu grammar, lebih cepat bisa ngomong bahasa jerman. Klo aku mah lambat banget, belum2 dah takut salah,…

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s