Kritik Itu Perlu, Tapi…

20130814-083338.jpg

Kritik, menurut Meriam Webster Dictionary adalah :

1.
a : one who expresses a reasoned opinion on any matter especially involving a judgment of its value, truth, righteousness, beauty, or technique
b : one who engages often professionally in the analysis, evaluation, or appreciation of works of art or artistic performances
2
: one given to harsh or captious judgment

Secara jelas kamus tersebut membaginya menjadi dua, dan mari kita bahas satu persatu.

Pada bagian pertama, kritik adalah opini yang disampaikan seseorang, terkait dengan nilai, kebenaran, keelokan, atau teknik. Orangnya sendiri profesional, maksudnya punya kemampuan dalam menganalisa, mengevaluasi dan mengapresiasi suatu hasil karya.

Sedangkan pada bagian kedua, kritik adalah penilaian yang dilakukan secara keras, cenderung bawel atau nyinyir. Secara khusus dibedakan dari bagian pertama, sehingga yang menyampaikan tidak memiliki kualitas kemampuan seperti yang disebutkan pada bagian pertama. Entah karena orangnya memang nyinyir, atau ada motif lain di baliknya, bisa benci atau iri.

Sekarang, kalau disebutkan kita sebagai penghasil karya atau yang melakukan pekerjaan harus menerima kritik, kitapun sebenarnya berhak MEMILIH, siapa yang boleh mengkritik kita. Tentu saja, dasar pemilihan bukan siapa yang bakal menilai kita bagus, tetapi siapa yang punya kemampuan untuk itu, dan biarlah pendapat obyektif itu yang akan memperbaiki kelemahan kita.

Contohnya dalam suatu kompetisi, yang ditunjuk menjadi juri, reviewer, atau apapun namanya, akan memberikan pendapat sesuai keahlian mereka. Dan tentu saja pendapat itu disampaikan dengan sopan, tanpa tendensi ketidaksukaan, dan terkadang malah blind review, agar tidak bias dengan hubungan kedekatan. Selain itu, terdapat masukan apa yang harus diperbaiki, bukan asal bilang, ‘Kamu jelek sekali!’ tanpa memberitahu di bagian mana yang kurang, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

Dikritik oleh orang jenis pertama, akan memperkaya kita. Sementara oleh orang jenis kedua, hanya mengacaukan fokus kita untuk terus maju. Mikirin kata-katanya, malah jadi putus asa dan merasa tidak yakin dengan pekerjaan yangtelah ditempuh. Untuk itu, jangan habiskan waktu dengan orang-orang seperti ini. Jika bisa, tolak kritiknya. Jika tidak bisa, misal kedudukannya lebih tinggi, ya dengarkan saja tapi jangan dimasukkan hati. Paling sip sih cari lingkungan yang lebih baik, dimana kritik yang diajukan untuk saling memperbaiki diri, bukan untuk merendahkan yang lain.

Sebagai pengkritik, ya jadilah pengkritik yang baik dan benar. Baik dalam artian menyampaikan dengan etika dan kesopanan yang patut dijaga, benar karena niatannya memang supaya yang dikritik bisa lebih sukses karyanya. Selain itu, perhatikan penerimaannya. Jika terdapat penolakan, ya sudah, jangan maksa. Dikasih tahu kok ngeyel, tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang-orang seperti itu 🙂

***
indrihapsari
Gambar : thelavisshow.wordpress.com

Advertisements