Menulis Cerita Saru, Buat Apa?

20130616-033429.jpg

Saru atau jorok atau porno, sungguh merupakan resep yang mujarab untuk menghadirkan pembaca. Secara Indonesia dapat urutan berapa besar dunia tuh, untuk user yang memasukkan kata kunci terkait pornografi di mesin pencari, melahap cerita-cerita syahwat, menonton video panas *bisa dicek di Youtube, the most popular video dengan judul bahasa Indonesia itu apa, cuma kalah sama Fatin :P* dan bermasalah dengan akses situs porno oleh anak-anak.

Seks merupakan kebutuhan primitif manusia. Dan siapa yang tak bisa mengendalikannya, termasuk mahluk purba. Beneran ini. Punya nafsu kok diumbar kemana-mana, seperti kengangguren saja. Seorang pelajar, kalau sudah ‘kena’ bukannya fokus belajar malah sibuk ‘self service’, karena bingung dengan pelampiasan. Seorang dewasa, bukannya mikir bagaimana menghasilkan uang lebih banyak, malah melakukan kegiatan konsumtif, ‘jajan’ untuk memuaskan nafsunya. Apa bedanya dengan orang purba?

Paling sip ya fokus dong dengan bagaimana memberi arti dalam hidup ini, bagi diri sendiri dan orang lain (kalau bangsa dan agama dianggap ketinggian). Bukannya sibuk mencari pemenuhan hasrat. Masalahnya, supplynya sangat berlimpah, karena tahu apapun yang berbau pornografi, pasti dilahap habis oleh demand yang begitu tinggi.

Pembuat film, aktor, pelukis, bahkan penulis, bisa terjebak dalam godaan ini. Ingin karyanya bisa dinikmati banyak orang, dan saya menduga kaitannya dengan faktor ekonomi juga, sehingga diciptakanlah karya yang mengguncang banyak hati dan…’adik kecil’.

Bukan berarti seks tabu untuk dibahas. Tak apa, tapi maksudnya bukanlah untuk membangkitkan gairah saat menontonnya, melihatnya atau membacanya. Ada tujuan lain misal keperluan medis, pelajaran tentang kesehatan, bahaya seks bebas dan lain-lain. Cara menyampaikannyapun akan berbeda, rasanya lebih berseni dan dibungkus dengan metafora.

Bagaimana membedakannya? Cek saja, misal dalam suatu karya sastra (uh yeah, saya masih menganggapnya sebagai karya sastra), berapa persen dia menjelaskan dengan gamblang suatu adegan seks. Kalau lebih dari 30% (asli deh ini opini saya saja) bisa dikategorikan sebagai cerita saru minggu ini. Ngapain coba, mau cerita efek seks bebas, adegan mulai buka baju-nafas memburu-blas blus blas blus-dan terkapar dengan nikmat mencapai setengah dari cerita. Detail banget cerita gituan, begitu cerita ceweknya hamil-menuntut pertanggungjawaban-cowoknya kabur dibuat seperti kronologi. Cepet banget! Seperti dikejar setan. Oh, rupanya setannya ikut menikmati waktu adegan panas berlangsung.

Cerita saru juga paling mudah untuk diceritakan, karena siapa sih (yang sudah dewasa ya) yang belum merasakan atau menikmati dari berbagai sumber? Selain mudah untuk dinikmati (ngga perlu pakai otak, cukup syahwat saja), mudah dijiwai, diceritakan kembali pun, orang lain pasti ngerti. Ngga perlu dibungkus dengan diksi yang canggih, alur yang keren, atau plot yang mantap, sebuah cerita saru pasti menuai banyak pembaca. Wong dari judul aja sudah pada tertarik kok *LOL*. Penokohan gampang, deskripsikan saja tokoh yang seksi abis, dengan banyak tonjolan. Ngga usah diceritain soal penyakit raja singa yang dideritanya, virus HIV yang mulai menginfeksi tubuhnya, atau sulitnya dia mendapat jodoh karena sudah terkenal bispak.

Sebagai penulis, sebenarnya kita bertanggung jawab terhadap apa akibat yang akan dirasa oleh pembaca, entah in a positive or negative way. Ada memang yang menyerahkan ke sidang pembaca, apa perasaan mereka. Tapi kalau cerita saru sih, ah gimana ngga curiga kalau efek yang diinginkan penulisnya adalah naiknya libido pembaca.

Lalu, kalau pembaca sampai bingung bagaimana melampiaskan, apa penulis peduli? Kalau pembaca sampai memperkosa tetangga sendiri, kesana kemari mencari utangan supaya bisa check in jam-jaman, emang penulis ngurusin? Kalau pembaca sampai selengki, apa penulis bakal menasehati?

Ah, bisa saja kan dia melakukannya dengan pasangan resmi. Silakan cek siapa tokoh yang ada dalam cerita, emangnya suami istri? Jarang banget, meski jujur saja, saya belum pernah tahu ada yang pakai tokoh orang yang sudah menikah, dan melakukan itu dengan suami istri resminya. Jadi tujuannya apa nih? Ngajarin seks bebas, tukar pasangan, atau perkosaan?

Kalau mau peran kita sebagai penulis, yang mungkin sekarang ini masih pemula, masih belum punya nama, masih ditolak dimana-mana hasil tulisannya ini berguna, ya tetapkan peran kita ini apa. Orang hidup kan tujuannya supaya berguna bagi yang lain, tentu yang mengarah pada kebaikan. Dengan cara apa untuk menyampaikannya, mau diselipin tentang seks juga tak apa. Tapi pendapat saya, jadikan itu sebagai pelengkap, bukan inti cerita. Cerita yang disisipi, bukan dibungkus dengan seks. Agar pembacapun dapat memahami pesan yang ingin disampaikan penulis, dan tidak terkaburkan dengan banyaknya adegan ‘seru’ di dalamnya.

Seorang teman pernah berkata, ‘Saya bisa mbak, menulis cerita saru. Tapi..buat apa?’
Ya, itu pertanyaannya, buat apa?

IndriHapsari
***
Foto : pinterest.com

Advertisements