Dipegang-pegang Dokter

20130616-025346.jpg

Sebelum Anda mulai membacanya, saya beritahu saja, artikel ini nothing related with the porn. Jadi silakan diputuskan, nerusin baca atau tidak 🙂

Kenapa saya menuliskan hal ini?

Karena dari dulu saya sendiri masih memperdebatkan, apakah kita sebagai wanita bisa menghindari disentuh oleh dokter pria? Keperluan disentuh tentu untuk keperluan medis, dan lupakan soal cerita-cerita stensilan yang penulisnya merasa ‘disentuh oleh dokter itu sesuatu banget.’ Percayalah, hal itu juga termasuk lebay thing, mungkin itu harapan dari penulisnya untuk jadi dokter atau punya pacar dokter, jadi..biasa aja deh.

Biasanya teman-teman saya yang muslim akan menghindari mendapat dokter laki-laki. Misalnya saat melahirkan, ia akan memilih dokter perempuan. Meski tahu sendiri, dokter kandungan perempuan itu langka banget, bahkan untuk kota besar. Tapi keukeuh harus sesama perempuan.

Ok lah kita bisa memilih, saat kondisinya memungkinkan. Tapi bagaimana jika kondisi mendesak, di luar perkiraan, dan gawat. Masih bisakah kita memilih, saat yang tersedia hanya dokter pria? Sebagai informasi, dokter kandungan ini mau tidak mau ya harus menyentuh bagian paling rahasia *halah!* pada tubuh wanita. Malah ada yang ‘kena’ ngga saat melahirkan saja, tapi setiap check up rutin. Ngga semua, dokter saya pegang perut doang.

Hal lain adalah, bagaimana jika yang tersedia hanya dokter pria? Misal deh, dokter spesialis penyakit dalam, double spesialis di onkologi atau kanker. Mau ngga mau ya harus disentuh, dokter sekarang belum bisa canggih cuma dari penerawangan saja. Trus tahu sendiri kan, kanker itu bisa tumbuh dimana saja. Apa ngga dipegang-pegang semua tuh? Bisa di perut, selangkangan, leher, ketiak, dan payudara.

Menghindarinya, sama saja membiarkan tubuh kita tanpa kepastian, ada penyakit gawat atau tidak. Mengabaikannya, sama dengan membiarkan tubuh yang dianugrahi Tuhan ini tidak dijaga dengan selayaknya. Dan, sebagai wanita, seluruh keluarga bergantung ke kita, karena kitalah pusat kendali kesehatan keluarga. Kita sendiri? Biasanya sering terabaikan, sehingga kitalah yang mesti sadar diri untuk menjaga kesehatan pribadi.

Sebenarnya yang salah itu sentuhannya atau efek yang ditimbulkannya?

Masih lebih gawat mereka yang dengan hanya melihat, horny. Mendengar suara, horny. Mencium wangi tubuh, horny. Sementara yang menyentuh bisa lempeng terus karena tujuannya untuk medis dan dia punya kerjaan yang serius, bandingkan dengan mereka yang saking nganggurnya, otaknya dipakai untuk ngeres terus.

Advertisements