Takut

20130601-003519.jpg

‘Bapak Ibu, Saudara Saudari, sidang jemaat yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita sedang berkumpul di tengah kebahagiaan kedua saudara kita ini yang sebentar lagi akan diteguhkan dalam pernikahan yang kudus.’

Fokus. Perhatikan kotbah Pak Pendeta.

‘…Melalui perenungan firman Tuhan saat ini saya mau mengajak kita sekalian untuk melihat apa yang dipahami oleh iman kita tentang pernikahan.’

Iman? Percaya tanpa melihat? Bertahun-tahun aku telan mentah-mentah kerinduan akibat hubungan jarak jauh ini. Kecurigaan saat ia tak bisa menerima teleponku, keraguan akibat ia tak berusaha dekat denganku. Betapa hubungan kami sering di ujung tanduk, dengan kekhawatiranku yang makin menumpuk.

‘…Tuhan tahu bahwa tidak baik jika manusia itu hidup seorang diri saja, dan oleh karena itu Tuhan menjadikan bagi kita seorang penolong yang sepadan dengan kita.’

Apakah Andre sepadan? Ah ya, dia memang sabar. Didengarkannya omelanku saat ia menelepon. Padahal bisa saja ia menegurku, dengan bilang masih untung ia meneleponku, di tengah kesibukannya yang tak tentu. Tapi tidak, Andre hanya mendengarkan, lalu di akhir protesku ia hanya akan berkata singkat, ‘Sudah?’. Dan saat aku hendak membuka mulut lagi hendak memarahinya, ia akan bilang, ‘Ngomel karena kangennya, sudah?’. Saat itu aku tersadar, kangenku telah mengubahku menjadi mahluk yang menyebalkan…

‘…Tetapi yang sering menjadi persoalan bagi kita ialah pencariannya….’

Andre mungkin tak kan tahu, gadis yang menunggunya ini cengeng luar biasa saat rindu melanda. Menangis tanpa suara, hanya untuk hal-hal sepele yang mengingatkanku akan dia. Saat hujan menyapa. Saat pelangi menghias cakrawala. Saat senja perlahan turun ke peraduan. Mengutuk kenapa sang pangeran, terpisah daratan dan lautan. Padahal kita berdiri pada bumi yang sama, langit yang sama.

‘…Kuncinya disini ialah bahwa Tuhan menunggu saat yang terbaik untuk memberikan kita jodoh yang terbaik pula…’

Dan semua keraguanku terjawab saat bulan lalu ia mengabarkan, ia bersiap dimutasi ke kotaku. Ia mengalah dan mengajukan permohonan pindah ke cabang pada pimpinannya, karena aku sendiri tak bisa hidup di kotanya. Polusinya terlalu bahaya, aku pernah sakit berhari-hari karena menghirup udara di sana. Andre, mengorbankan karirnya di kantor pusat, untuk bersama.

‘…kedua saudara yang di hadapan kita tampaknya telah berhasil melalui usaha-usaha tersebut dan kemudian waktu mereka telah tiba untuk dipersatukan sehingga masing-masing dari mereka berdua boleh mengatakan Inilah Dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku..’

Kejutan lainnya adalah, saat ia mengatakan, ‘Kalau kita berdekatan, rasanya tak tahan aku untuk tinggal terpisah darimu. Maukah..kau menikah denganku?’.
Andre..kau pria yang dikirim Tuhan untukku!

‘… ada kepercayaan di dalam diri mereka berdua bahwa ketika mereka bersama, hidup mereka menjadi semakin lengkap, semakin baik dan semakin sempurna.’

Ya Andre, kaulah yang akan aku pandang saat terbangun di pagi hari. Kaulah yang akan aku semangati saat bekerja nanti. Kaulah yang aku tunggu di malam hari. Lengkapi aku, Ndre! Mengatasi sifat-sifat burukku, namun memperlakukanku lembut atas semua kesalahanku.

‘…Sebuah pernikahan harus terdiri dari ikatan tiga pribadi berdasarkan dasar pernikahan itu sendiri, tiga pribadi itu ialah laki-laki, perempuan, dan Tuhan.’

Entahlah, apa artinya hidup tanpa dirinya, rasanya aku tak sanggup untuk melangkah lagi. Andre adalah nafasku. Saat ia tak ada, sesaklah aku. Tak bisa hidup tanpanya, tak bisa aku belagak rela. Mungkin aku terlalu memaksa, karena Andre sendiri adalah titipan Tuhan, yang harus aku jaga. Maka hak Pemiliknya jugalah, yang bebas menentukan, mau diambil lagi atau tidak, calon suamiku tersayang, cikal bakal dari anak-anakku kelak.

‘…Saudara Andre, maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus? Maukah saudara mengasihi dia, menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu sakit maupun pada waktu dia sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup di dunia ini ?’

Andre tersenyum sambil memandangku. Segala lamunan menghilang dari benakku. Matanya yang teduh seakan berusaha meyakinkanku, aku akan baik-baik saja bersamanya. Andre..bagaimana..jika kau tak ada?

Andre menjawab, ‘Ya, saya mau.’

Terdengar merdu di telingaku. Janji seorang pria, untuk calon istrinya. Ikrar. Sumpah. Untuk selalu setia.

‘…Saudari Vina, maukah saudari menerima pria ini sebagai suami yang dijodohkan oleh Tuhan di dalam pernikahan yang kudus ? Maukah saudari mengasihi dia , menghibur dia, menghormati dan memelihara dia baik pada waktu sakit maupun pada waktu dia sehat , serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudari berdua hidup di dunia ini ?’

Aku memandang Andre. Dengan tenang dibalasnya pandanganku. Andre tak memburuku untuk segera menjawab pertanyaan Pak Pendeta. Ia masih saja tersenyum.. tersenyum.. sampai kurasa hatiku berkata, ‘Jangan takut. Tuhan kan beserta.’ Mungkin itu yang Andre coba sampaikan. Ya, bahkan saat Tuhan punya rencana lain bagi kami, aku percaya, cintalah yang akan mendamaikan hidup kami nanti.

Sambil memandangnya, aku menjawab, ‘Ya, saya mau.’

Ya Andre, aku siap mendampingimu. Kau tempatku berlabuh, kini dan selamanya.

‘…Di hadapan Tuhan dan keluarga serta jemaat Tuhan , hari ini , saya meneguhkan pernikahan saudara berdua menjadi suami istri yang sah.’

20130601-003637.jpg
***
Referensi kotbah : hendrycr.blogspot.com, http://www.gpdibarito.com
Gambar : pinterest.com dan Ferry Prasetyo

Advertisements