Memahami Jokowi dari Kota Solo

Mau tidak mau, keberadaan seseorang di suatu kota akan mempengaruhi kepribadian orang tersebut, apalagi bagi mereka yang lama berada di sana, terlebih yang seumur hidup tinggal di sana. Misalnya saja setengah umur saya tinggal di Surabaya, galaknya ya seperti panasnya Surabaya. Cenderung ceplas ceplos, bisa juga dianggap judes, tapi aslinya baik lo #iklan. Maksudnya semua diberesin sekali jalan, ngga mau nyimpan dendam. Buat yang ngga cocok, ya bisa sakit hati.

Apalagi kalau orang itu seorang pemimpin, maka jejaknya terlihat di karya yang ia tinggalkan bagi kotanya. Maka ketika untuk kesekian kali saya berkesempatan ke kota Solo, kota Presiden Joko Widodo dilahirkan, dibesarkan, bekerja sebagai pengusaha dan memimpin kotanya, saya coba meresapi, sifat kota ini gimana yang bisa jadi mempengaruhi filosofi hidup Pak Jokowi.

Infrastruktur

image

Trotoar di sepanjang jalan Slamet Riyadi

Saya menelusuri trotoar jalan Slamet Riyadi yang lebar dan bersih, di bawah kerindangan pohon. Angin menerpa membawa sekumpulan daun kering. PKL ada, di beberapa tempat, rapi dan bersih. Tukang becak dengan pengemudinya yang mungil berjejer di pintu masuk mall, rumah sakit dan hotel.

image

Halte busway

Solo merupakan paduan modernitas dan kehidupan tradisional. Ada nasi liwet yang sepuluh ribu sudah kenyang, ada outlet fast food yang sepuluh ribu cuma dapat kentang. Ada halte busway, berada di depan kumpulan tukang becak. Ada stasiun Solo Balapan tempat semua kereta eksekutif berhenti dan melintas. Ada stasiun Purwosari tempat kereta ekonomi berhenti. Ada terminal bus Tirtonadi yang sudah berRFID, mencatat secara otomatis keluar masuk kendaraan biar ngga ada yang ngetem di luar.

Keramaiannya masih di bawah Surabaya. Jalanan lebar dan double way di Slamet Riyadi  ternyata bisa disebrangi dengan aman.

‘Kendaraan di sini ngga seganas Surabaya kok Ndi,’ kata teman saya ketika saya  tanya bagaimana caranya menyebrang untuk mencari.wedangan. Maklum kalau di Surabaya, saya harus mencari jembatan penyebrangan, atau zebra cross, atau lampu lalu lintas untuk penyebrang. Itupun masih ada resiko tertabrak.

image

Gang di Kampung Laweyan

Saya juga menelusuri jalan di sepanjang Kampung Laweyan. Mulai dari jalan yang hanya cukup dilalui satu mobil (benar-benar satu mobil, batasannya adalah dinding rumah penduduk, bukan pagar), sampai jalan yang harus disusuri dengan jalan kaki. Semuanya bersih, bisa dinikmati bangunan-bangunan tua namun terawat baik, bonus disapa dengan ramah pula, padahal kita yang numpang lewat.

Maka Solo menjadi seperti Bali, karena semua pelosoknya bisa dipamerkan. Ngga malu-maluin gitu loh, sampai ada yang harus disembunyikan. Kemodernan berpadu dengan unsur tradisional, karena ternyata untuk memperkenalkan yang tradisional itu butuh infrastruktur yang modern. Butuh transportasi yang bisa diandalkan, akomodasi yang murah tapi ngga murahan, makanan khas yang bisa ditemui dengan mudah, dan  serta jalan-jalan yang ngga menghabiskan waktu untuk dilalui.

image

Nasi Liwet

Dan dari ini semua, setiap masyarakat Solo yang saya temui berkata, ‘Ini sejak jaman Jokowi,’ tanpa saya tanya siapa yang bikin ini dan itu. Mulai dari akademisi hingga pengusaha, buruh batik dan tukang becak. Mereka yang merasakan hasilnya sekarang, modernitas yang berdampingan dengan masyarakat yang masih tradisional. Maka meski Pak Jokowi tidak berada di sana lagi, karyanyalah yang akan dikenang.

Memahami Pak Jokowi dari kota Solo, membuat saya menyimpulkan Beliau ngga bisa melepaskan semua infrastruktur yang digagasnya tanpa memperhatikan masyarakatnya. Harus ada sinergi, karena merekalah yang akan menggunakan sekaligus menjaga infrastruktur itu. Karenanja, merekalah pihak pertama yang harus bisa merasakan manfaatnya.

Penduduk
Solo memang tak bisa lepas dari masa kecil saya, karena Bapak berasal dari Solo, dan semua keluarga dari pihak Bapak masih tinggal di sana. Orang Solo itu halus, ramah, semua OK, meski ada juga yang ‘mbendol mburi’, maksudnya di belakang diomongin. Beda dengan masyarakat Surabaya yang ceplas ceplos, to the point. Kalau orang Solo ada maksud muter dulu, yang payah ya orang kaya saya yang ngga bisa menebak apa maksudnya 🙂

Berasa di Solo meskipun tidak bersama keluarga seperti berada di keluarga sendiri. Orang-orangnya menerima tamu dengan tangan terbuka, helpful dan proaktif membantu. Lagi-lagi saya mesti menyandingkannya dengan situasi di Bali, yang pariwisatanya maju bukan hanya karena ‘potongan surga yang jatuh ke bumi’, namun juga penduduknya yang bisa menerima dan menjaga orang asing. Di tempat lain di Indonesia yang sama indahnya, kunjungan menjadi terganggu karena sikap penduduk yang annoying dan ngga mau membantu.

Orang Solo jarang ngambek, atau paling tidak mereka bisa menyembunyikannya. Bekerja dan berdiskusinya alon-alon waton kelakon, kadang bikin gemes, tapi ya jalan aja tuh. Malah rasanya dengan cara itu orang jadi ngga tersinggung, mau berkontribusi terhadap penyelesaian masalah, dan memutuskan suatu hal yang semua orang bisa menerima.

Terus terang saya jadi ingat kisah Pak Jokowi memindahkan para PKL terkait modernisasi infrastruktur tadi. Butuh waktu tahunan, banyak pertemuan dan acara makan siang yang digagas, untuk membuat mereka menerima keputusan tersebut dan pindah dengan sukarela. Sering acara pertemuan malah ngga ngomongin masalah, ya ngobrol doang antara pimpinan dan PKL. Terkesan waste time dan useless.

Namun dari sana para pedagang merasa ada pimpinan yang peduli dengan nasib mereka. Pak Jokowi juga makin sadar ngga semudah itu memindahkan pedagang atas nama kemajuan Solo, karena terkait dengan mata pencaharian rakyat kecil. Perlu pertimbangan dan konsep pemindahan yang direncanakan secara mendalam supaya semua pihak dapat merasakan manfaatnya.

Lalu saya teringat Bu Risma. Walikota Surabaya ini persis seperti gambaran saya soal orang Surabaya. Kasar dan to the point. Tapi soal penutupan Dolly Beliau sampai harus memikirkannya bertahun-tahun, karena berkaitan dengan penghidupan rakyatnya. Padahal jelas lokalisasi itu artinya mengakomodir perbuatan dosa, dan sudah ada desakan dari para kyai untuk menutupnya. Tetap saja Bu Risma berpikir, yo opo enake, supaya Surabaya (berusaha) bersih dari prostitusi, dan mereka yang kehilangan mata pencaharian bisa nyari uang dengan cara yang halal. Sebelum penutupan dilakukan, bertahun-tahun dilakukan penyuluhan, pelatihan dan pemberian modal bagi semua yang terlibat di sana. Gratis, ngga perlu dikembalikan.

Maka itulah yang terjadi di Solo. Merasa dicintai, maka dituruti. Merasa dibantu, maka ujungnya membantu. Polisi jarang saya temukan di Solo, rupanya mereka bertugas saat jam berangkat dan pulang kerja. Saat macet-macetnya, saat dibutuhkan. Di luar itu ada sejenis satpol PP yang proaktif membantu menyebrangkan jalan.

image

Toko batik di Laweyan

Para pengusaha nampaknya mengikuti aturan yang diterapkan pemerintah, karena mereka melihat dampaknya pada perekonomian kota. Solo menjadi lebih hidup. Investor baru masuk, pengunjung baik wisatawan atau pedagang yang kulakan juga datang. Terlihat dari keberangkatan bis ke Surabaya yang setiap 5 menit jalan, atau jadwal kereta jarak jauh dan dekat yang padat. Kalau dulu, Solo cenderung hidup untuk dirinya sendiri. Perekonomian muter di situ-situ saja. Hotel ya itu-itu juga. Solo adalah perlintasan sebelum.ke Jakarta atau Bandung. Tidak banyak.yang berkunjung demi iseng belaka, pingin tau ada apa di kotanya. Kini semua berubah, perekonomian menjadi lebih hidup.

image

Hotel bintang satu banyak bermunculan di Solo

Bagaimana dengan rakyat kecil? Tukang becak dengan muka (maaf) susah masih menunggui becaknya, sampai tertidur. Kalau ngomongin ini saya jadi ingat lawakannya Srimulat, yang suka mengejek muka Pak Bendot sebagai ‘muka susah’. Pengemudi taksi resmi di stasiun.mobilnya sudah butut, dan merasa tak.bersalah tidak memberikan uang kembalian saya. Oh soal ini taxi di Solo jagonya karena ngga sekali ini saja saya kena, siapkan saja uang pas atau jika pelayanan baik relakan saja. Makanan murah, bahkan kalau saya masak sendiri ngga bisa semurah itu. Mereka juga kayanya ngga suka dandan, padahal batik Solo begitu variatifnya. Hidup terasa berjalan lambat di Solo.

image

Batik abstrak di Kampung Laweyan

Untunglah kriminalitas termasuk rendah di Solo, sehingga wanita masih bisa jalan sendiri dengan nyaman. Hal yang saya kurang bisa nikmati di Surabaya. Harus ekstra hati-hati jaga tas, juga pakai masker agar tak terpapar polusi. Orangnya ramah meski hidup (mungkin) susah. Beruntung, masyarakat Solo ini nrimoan, sehingga semua dipandang masih untung ini dan itu. Cerita tentang mbah putri saya yang dulu jualan tembakau di pasar, setiap sepeser yang diterima hari itu didoakan supaya berlipat ganda di hari berikutnya. Kecil sih, tapi bisa nyekolahin Bapak di kedokteran UI. Sifat struggle juga yang membuat mereka lupa berkeluh kesah. Sepupu yang jadi juragan batik menjual batiknya ke Papua, lalu supaya ngga kembali dengan tangan kosong (meskipun sudah bawa uang) ia membawa berlian buat dijual di Solo. Pembatik yang saya temui, biasanya kurus-kurus karena bekerja dalam waktu yang lama dengan posisi itu-itu juga. Ngga sempat deh ngemil ini itu, lunch di luar, chit chat macam-macam, yang mereka lakukan hanya kerja dan kerja, dengan gaji yang kalau dibandingkan UMR Surabaya masih kalah, padahal mereka sudah kerja puluhan tahun.

image

Batik tulis di Kampung Laweyan

Pak Jokowi bagaimana? Kalau dilihat dari rekam jejak Beliau, saya yakin beliau masuk tipikal orang Solo. Orangnya sabar dan sumeh to? Terkesan lambat dalam bertindak, nggemeske buat mereka yang maunya cepat. Terlihat legowo walau dihujat, atau Beliau sungguh natural menyembunyikannya. Yang pasti gayanya itu ya seperti orang yang nrimoan tadi, semuanya mesti disyukuri.

Lalu dari karir yang awalnya tukang mebel jadi pengusaha mebel, beliau memulainya dari nol. Beliau tahu semua harus diawali dengan kerja yang bener dulu, baru bisa serahkan ke orang lain. Perlu adanya sentuhan pemimpin, biar yang.disentuh tahu dan yang menyentuh tahu juga apa sebenarnya yang dihadapi dan dirasakan. Sifat struggle mewarnai tindakannya, tidak berhenti untuk berleha-leha, meski kelihatannya ngga akan ada gunanya. Ya seperti cerita sepeser tadi.

Karena Pak Jokowi harus ngurusi orang seIndonesia, banyak hal yang harus dilakukan. Terkesan timpang di beberapa bagian, dengan kisah drama politik yang menegangkan. Saya tidak tahu akhir ceritanya bagaimana, tapi kota Solo sebagai gambaran umum sifat pak Jokowi akan selalu dikenang, sebagai pemimpin yang pernah memberikan arti bagi masyarakat Solo.

***
IndriHapsari

Advertisements