Ibu Ani, Dunia Maya Memang Kejam

20130826-065955.jpg

Hari ini para blogger dan instagramer sedang sibuk membicarakan foto jepretan Ibu Ani Yudhoyono, yang dipertanyakan foto tersebut asli atau hasil edit. Biarlah para ahlinya saja yang membahas, saya bagian memperhatikan interaksi sosial Ibu Ani di dunia maya.

Sebagai public figure, sebenarnya tanpa terjun ke media sosial berbasis internetpun orang di dunia nyata pastilah ingin berdekatan dengan Beliau. Entah karena ngefans, atau sebaliknya,ingin memanfaatkan, atau menjatuhkan. Bedanya, kalau di dunia nyata semua dilakukan dengan lebih sopan, terkendali, dan pasti lebih banyak teman daripada musuh. Siapa juga berani jadi musuh seseorang yang terkenal, kalau ngga mau dikucilkan.

Di dunia maya berbeda. Ada yang sangat tersembunyi sehingga kita ngga tahu ada motif apa di baliknya, ada juga yang sangat terang-terangan tanpa memperhatikan etika. Dunia maya gitu loh, semua bisa jadi apa saja. Sehingga ketika ‘melemparkan diri’ ke kumpulan ‘buaya’, ‘daging segar’ ini tentu disambut dengan gembira…untuk dicabik-cabik.

Oh, tidak semua ‘buaya’, tentu saja. Ada persahabatan yang tulus di sana, dari mereka-mereka yang tidak terbayang sebelumnya. Melampaui area dan waktu, melampaui logika, bahkan pengorbanan yang mereka lakukan sungguh ngga bisa disangka. Tapi sekali lagi, ngga semua ‘buaya’, sehingga kemungkinan adanya ‘buaya’ juga ada.

Sehingga, apa yang sebaiknya public figure lakukan, dalam hal ini Ibu Ani, untuk menjaga interaksi yang sehat di dunia maya?

1. Jangan masuk ke media sosial tanpa pengendalian
Instagram dalam hal ini sulit untuk dikendalikan. Komen tak sopan yang muncul tidak bisa diedit dan dihilangkan. Yang bisa hanya menghilangkan foto. Lebih baik buat web sendiri dengan admin khusus untuk memelihara, atau sekelas Bu Ani sih bikin Instagram sendiri saja, Anigram misalnya. Yang follow pasti banyak, kan banyak orang kepo kepingin tahu kegiatannya keluarga Presiden. Terapkan peraturan pakai ID atau aturan njlimet lainnya, agar mempermudah kerja BIN kalau ada yang macam-macam ^_^

2. Jangan berinteraksi langsung
Lebih baik urusan seleksi, upload foto, menjawab, menendang akun tak sopan diserahkan ke asistennya. Kenapa? Supaya saat emosi tidak tersebar kemana-mana. Saat kita tidak disukai, mau berkata baik dan berusaha seperti apapun bakal percuma. Apalagi saat kita berkata buruk dan semua orang bisa mengetahuinya. Jadi biar sekretarisnya aja yang rajin jawab. Sekaligus bersikap tegas dan obyektif dalam menghadapi orang-orang dunia maya, mau diperpanjang atau dihentikan saja diskusinya.

3. Menggunakan media sosial untuk hal yang lebih berguna
Seorang doktor dari India kemarin memberitahu saya, ia menggunakan Facebook untuk chat mengenai research, dengan rekannya di seluruh penjuru dunia. Bukan untuk narsis, atau membuang waktunya. Kalau kami sebagai orang biasa mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi Ibu Ani sebagai istri Presiden tentu diharapkan terlihat sibuk dengan segala kegiatannya. Untuk foto-foto jenis begini tentu no doubt, meski pasti masih ada saja yang iseng komen ngeselin. Go ahead aja Bu, jalurnya sudah benar. Urusin saja hal-hal yang dapat menberikan perbaikan bagi bangsa, dan yang pasti bukan sekedar wacana.

20130826-065856.jpg

Hal lain, saya prihatin dengan terlibatnya Ibu Ani dalam perdebatan di dunia maya. Semoga dapat menjadi pengalaman bagi Beliau, interaksi sosial tersebut harus dibatasi dan dikendalikan, agar tak menjadi beban bagi keluarganya.
(Masa’ sih, ngga curhat-curhat gitu ke Pak SBY? 😀
Ngapunten nggih Bu…)

***
IndriHapsari
Foto : kompas.com

9 comments

    • Makasih mbak Evi berkenan ke sini. Sy klo di IG males follow org mbak, soalnya Twitter aja ngga keurus 🙂 Iya, tuntutan ke ibu Ani sebagai ibu negara memang lebih berat de kita org biasa ^_^

  1. Asiik..larinya ke pekarangan lain. Menurut saya sih ya masih tetep seperti itu,Mbak Indri. Ini menyangkut karya, jadi ketersinggungan Bu Ani saya masih bisa memaklumi. Terlepas dia Ibu Negara atau bukan, tetap ada sosok pribadi yang asli disana. 🙂

    • Sy mengira, kalau di dunia nyata org2 di sekeliling Beliau pasti memfilter siapa yg boleh berhubungan dan apa yg boleh dikatakan. Dgn ‘terjun’ ke medsos semua penghalang itu hilang 🙂 Makasih yah BH sdh mampir…

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s