Tokyo On Foot : Melihat Keistimewaan suatu Kota

Sebagai penggemar komik, salah satu jenis komik yang saya sukai adalah graphic diary. Menggambarkan aktivitas sehari-hari komikusnya, tidak perlu cerita yang lebay sedihnya, seru kisahnya, atau absurd pesannya. Cukup cerita tentang nyuci, belanja, masak, sudah begitu mengasyikkannya. Karena ternyata kehidupan setiap orang itu unik.

Tidak hanya komik luar yang saya baca, untuk alasan yang kuat karena budaya pasti berbeda. Namun komikus Indonesia seperti Tita Larasati, doktor yang kini mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, juga saya koleksi buku-bukunya. Ceritanya ya tentang mengantar anaknya naik angkot, bagaimana dia mesti berjibaku menghadapi lalu lintas Bandung dengan sepedanya, atau kisah ia mencoba macam-macam menu di suatu restoran. Ada juga Sheila Rooswita atau Lala, tinggal di Jakarta, yang bukunya menceritakan kehidupan pengantin baru. Kini saya rutin mengikuti kisahnya di Facebook, graphic diary kisahnya sebagai ibu dari dua orang anak.

20130526-183126.jpg

Maka begitu melihat buku ini, Tokyo on Foot di Periplus, tak perlu waktu lama bagi saya untuk segera menjadikannya koleksi saya. Diterbitkan tahun 2011 oleh Tuttle Publishing, buku yang saya baca ini merupakan cetakan ke-15. Ilustrasinya berwarna, dan karena buku ini spesifik menyebutkan suatu daerah, saya jadi ingat resensi saya tentang graphic diary Sepeda Merah karya Kim Dong Hwa di Korea. Tentang betapa damainya hidup di desa, dan filosofi yang bisa kita renungkan dari alam dan lingkungan.

Berbeda dengan komik Korea tersebut, Florent Chavouet, komikus Prancis ini menangkap keunikan Tokyo dari sisi orang asing, terhadap penduduk lokal. Detil yang dia ungkapkan luar biasa, sampai sekecil apapun bisa tertangkap oleh matanya. Dia menggunakan pensil warna untuk menghiasi sketsanya, dan mirip dengan aslinya. Tentu saja ia juga menyematkan komentar atau pendapatnya tentang hal yang menurutnya lucu, aneh dan menarik.

20130526-183331.jpg

Tidak seperti graphic diary lainnya, saya merasa buku ini lebih cocok dimasukkan dalam panduan hidup selama di Tokyo. Biasanya graphic diary terdiri dari cerita-cerita singkat, kalau di Tokyo on Foot ini ceritanya hanya sedikit, Chaouvet yang tinggal selama 6 bulan ini lebih banyak menangkap kehidupan sehari-hari masyarakat Tokyo, dalam bentuk bangunan dan pernak perniknya, dandanan penduduknya, suasana flatnya, dan peta yang super duper lengkap, dengan keterangan-keterangan unik di tempat-tempat yang pernah Chaouvet kunjungi. Untuk panduan wisata, kurang cocok karena Chaouvet sendiri tidak ke destinasi turis, dan karena ia menggunakan sepeda, ia hanya satu kali menggambarkan suasana di stasiun kereta yang merupakan moda transportasi utama di Tokyo.

Ada kalanya saya juga merasa, buku ini seperti scrap book. Karena Chaouvet suka iseng menampilkan potongan iklan, foto artis, atau ‘favoritnya’ : kupon tilang, karena salah memarkir sepedanya. Saya tidak tahu apakah Tokyo se’penuh-warna’ yang Chaouvet gambarkan, tapi buku ini jelas membagi keceriaan kepada pembacanya.

***

20130528-040221.jpg
Foto : pribadi

Advertisements