Urusan Lima Belas Ribu Saja, Ribut!

Lima belas ribu, begitu berhargakah? Hingga kita rela memperjuangkannya mati-matian?

***

Ibu itu memotong antrian ke kasir. Digenggamnya tiga buah es krim impor. Sambil menunggu antrian berjalan, dia mengamat-amati kemasan es krim tersebut. Saat akan tiba gilirannya, dia mengembalikan satu es krim ke kasir yang sedang sibuk memindai belanjaan pelanggan lainnya. ‘Ngga jadi yang ini mbak, saya minta tukar’.

Kasir itu mengamat-amati kemasan es krim yang dikembalikan. Nampak bekas sobekan. Dengan sopan kasir menjelaskan bahwa tidak bisa, karena kemasan telah cacat. Marah-marah, ibu ini mengatakan bukan dia yang menyobek kemasannya, dan ngotot minta diganti. Kasir akhirnya mengiyakan.

Ternyata Ibu itu tetap tak terima. Dengan Blackberrynya diteleponlah suaminya yang sedang menunggu di mobil. Tak lama muncullah laki-laki berwajah merah, berperut buncit yang langsung mengancam kasir. Dengan sopan kasir menyatakan kembali, es krim boleh diganti dengan yang baru.

Tapi si bapak tetap marah-marah, tidak peduli kini mereka telah jadi perhatian pelanggan yang masih mengantri. Tidak jadi membeli, Bapak tadi masih menyempatkan pergi ke kasir lain, untuk melanjutkan marah-marahnya.

*Saya, mengantri di belakangnya. Berapa sih harga es krim sampai ribut begitu? 15 ribu? Sini deh saya bayarin. Ndak sumbut sama ngantrinya!*

***

Rapat RW kali ini berlangsung seru. Yang dibahas adalah perubahan ketentuan iuran warga. Ditetapkan untuk warga dengan luas tanah di atas 500 m2, iuran perbulannya akan berbeda dengan yang ukurannya lebih kecil. Seorang pensiunan bupati memprotes keras hasil rapat RW tersebut. Tidak banyak bicara di rapat, namun mengirim surat ke seluruh pengurus RW tentang ketidakadilan yang dirasakannya. Sekarang, pengurus RW masuk blacklistnya dan tidak disapanya.

*Saya, pemilik rumah kecil yang mendengar keributan di rapat. Berapa sih tambahan iurannya? 15 ribu? Apa artinya dibanding rumahnya yang gedong. Ndak sumbut sama kayanya!*

***

Mbak (asisten rumah tangga) akan pulang kampung pada Lebaran ini. Karena mbak bekerja kurang dari setahun, maka THR yang dia dapatkan berasal dari rasio lama bekerja, dibagi satu tahun, dikalikan dengan gaji sebulan. Ditemukanlah angka 785 ribu. Majikan menyerahkan uang 800 ribu, sambil berkata ‘punya kembalian, ngga?’

*Saya, mendapat cerita itu dari ART saya. Ealah…15 ribu ditanyain? Tidak liat si mbak tiap hari jungkir balik kerja ngurusin rumah? Ndak sumbut sama repotnya!*

***

Kita ini, cenderung pelit pada pihak yang bisa ditekan. Sementara pada pihak lain yang lebih kuat posisi tawarnya, mana beraniiiii…..

PS : Ndak sumbut = tidak setara

***

20130503-020125.jpg

Advertisements