Dodit Mulyanto, Iyaaa Kamuuu, Sudah Menang Di Hatiku

20140523-061216-22336450.jpg

‘Rey, yang ngajar sekarang ganti ya? Gimana gurunya?’ tanya saya pada anak saya kelas 1 SD.
‘Mmm..lumayan sih…tapi aku bosan,’ jawabnya terus terang.
‘Eh, kenapa?’ tanya saya heran.
‘Habis…gurunya ngga lucu!’

Humor dimanapun juga, menjadi jembatan mencairkan komunikasi. Mau di warung kopi, istana negara, hingga ke kelas-kelas berdinding tebal yang sunyi. Humor mampu mendekatkan suatu pribadi, membuka hati dan otak pendengar untuk mendengar apa yang sebenarnya akan disampaikan, karena merasa nyaman dan senang dengan pembicaranya.

Stand up comedy adalah salah satu jalan menyampaikan humor di depan para pendengar. Sifatnya yang one-to-many membuat seseorang yang tampil di panggung harus mampu menguasai audiencenya, agar mereka menyimak dengan detail yang akan disampaikan oleh bintang panggungnya.

Cara yang jitu yang patut ditiru oleh para guru, dosen, trainer atau apapun sebutannya. Dengan memberikan materi dibumbui dengan humor, peserta didik akan dengan senang hati mendengarkan, rugi kalau sampai tidak masuk, dan kecewa ketika bel berbunyi. Bukannya di kelas mukanya kaya zombie, begitu bel terdengar langsung hidup kembali.

Sebenarnya ketertarikan saya pertama gara-gara kaset Dono Kasino Indro yang berisi percakapan mereka bertiga, disertai dengan cerita-cerita kocak yang sungguh ngga bikin bosan jika diputar berulang-ulang. Lucu banget, ketika itu saya mendengarkan tahun 80-an.

Lalu Jerry Seinfield pada tahun 90-an membuat saya heran dengan ngapain ni orang berdiri sendirian di panggung, dengan banyak pengunjung tertawa-tawa setelah ia berbicara. Berhubung Inggrisnya masih very basic level, jadinya ngga ngerti apa-apa, cuma asyik aja ngikutin cerita sitkomnya.

Stand Up Comedy Indonesia atau yang biasa disingkat SUCI ditayangkan oleh Kompas TV. Dan percaya ngga, sudah SUCI 4 dan saya baru menontonnya, di Youtube. Thanks to Indovision yang ngga punya channel-channel bagus macam Kompas TV dan NET TV, malah sibuk aja dengan MNC yang acaranya ngga jauh-jauh dari lifestyle dan jualan 😦

Itupun ngga sengaja. Awalnya buka Youtube, trus kok video terpopulernya muncul nama Dodit Mulyanto di antaranya? Sehebat apa sih dia? Akhirnya malah keterusan, nyari video-video dia di setiap sesinya, sampai akhirnya close mic alias tereliminasi. Yah, sayang deh. Tapi yang penting Dodit sudah menang di hati penggemarnya.

Kenapa?

Dodit punya beberapa keunikan. Misalnya menggunakan biola untuk mendukung penampilannya, ngga cuma aksesoris tetapi juga ngeblend di tiap sesinya, meski ada satu sesi yang dia tinggal biolanya karena katanya lehernya lagi tengeng 😀 Kemudian ia berakting sebagai pemuda desa, orang Jawa yang memegang erat budaya Eropa.

Saya sebut akting karena kepiawaiannya bermain biola itu ngga main-main. Saya tahu harga biola, berapa biaya lesnya. Dan sampai bagus gitu mainnya, tentu Dodit sudah les lama. Main biola juga ngga gampang, sehingga bisa kebayang Dodit dibesarkan di lingkungan keluarga seperti apa.

Belum begitu nemu video profilenya, mungkin ambil dari FBnya dia ya. Jauh lebih ngota ngga ndeso penampilannya, bawa kamera serius dan wisatanya ke luar negeri. Lebih jauh lagi ada artikel mengatakan Dodit itu guru di SMP Santa Clara, SMP Katolik yang cukup bergengsi di Surabaya. Ah ya, ngga sendeso yang selama ini ia ungkapkan kok 🙂

Berkat aktingnya tersebut, karakter yang melekat adalah Dodit Mulyanto itu seorang yang medhok, kalau ngomong Jawa banget. Maksudnya kalem, lembut, dan kayanya siap jadi pihak yang disakiti (hahaha..ngga pernah marah maksudnya). Kata-kata khasnya selain sapaannya yang beda ke penonton di setiap penampilannya, juga hobinya menunjuk penonton wanita yang cantik sambil TP-TP gitu. ‘Kamu…iyaaa…kamuuu…’ pernyataan yang diulang-ulang tapi tetap bikin orang ngakak.

Cara dia menyampaikan humor dengan kalem dan pelan membuatnya jadi mudah dipahami semua usia. Contoh, si Rey yang masih kecil bisa ngakak-ngakak lihat penampilan Dodit, terutama di sesi maenin lagu jingle Susu Murni Nasional. Lalu saya bayangkan kalau Bapak saya dengar, mestinya cocok juga karena kecepatannya lebih rendah daripada pembaca berita di televisi. Beberapa kali Bapak mengeluh karena pembawa berita sekarang ngomongnya cepat-cepat.

Meski Dodit tidak bisa meneruskan perjalannya di SUCI, paling tidak peran dia sebagai guru pasti membawa arti bagi murid-muridnya, seperti yang Rey harapkan selama ini. Apalagi bagi penggemar fanatiknya yang terhubung di Twitter, katanya ada yang nangis kejer pas Dodit close mic. Oalah naak…naaaak…:D

***
IndriHapsari

Advertisements