Bukan Mimpi Biasa

20130304-233327.jpg

Setiap pagi, suami biasanya mengajak saya diskusi mengenai negara. Huedeh. Lagaknya memang sudah seperti RI 1 saja, padahal masih RW 1 (bukan ketua RW, tapi benar-benar warga RW no 1). Tapi ya didengerin ngga rugi kok, malah berkat kuliah paginya, saya bisa sotoy nimbrung di diskusi orang lain. Lebih enak dengerin dia ngomong, ngga usah repot membaca, sudah semua dia ringkas, plus ditambah opini dengan semua alasan-alasannya.

Nah menurut suami, Indonesia itu sudah saatnya cuci darah, maksudnya semua yang buruk-buruk harusnya dibuang. Kondisi sekarang yang sekedar tranfusi darah itu, menambahkan darah segar ke darah kotor, hanya akan memperlambat proses perusakan, salah-salah malah darah bersihnya yang terkontaminasi jadi kotor juga.

Jadi inget teman saya, lulusan institut ternama, diterima jadi pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah. Sebulan setelah training, isinya mengeluh melulu. Kerjaannya tanya ke saya, kira-kira ada training ngga yang bisa dia ikuti, secara di kantor dia nganggur. Yang sudah duluan di sana, sudah nyaman dengan kursi dan mejanya masing-masing, jadi mau beraktivitas tanpa kursi dan meja agak sulit.

Di tempat lain, semua berjalan apa adanya, tanpa ada apa-apa. Semua serba mulus, tidak ada dobrakan yang berarti untuk mencapai suatu kemajuan. Bahkan dobrakan dengan niat ‘udang di balik bakwan’ untuk mendapatkan promosi jabatan pun sulit dilakukan. Semua urut kacang, berani dobrak siap-siap ditinggalkan para atasan, dianggap berani ngelawan. Sebenarnya kalau para top management yang ‘top banget’ sih sudah berpikiran maju, namun top management yang ‘ngga top-top banget’ itu, yang masih sulit meninggalkan zona nyamannya.

Namun masih ada harapan, negara masih punya darah segar. Yaitu angkatan muda yang berjumlah 69% dari seluruh penduduk Indonesia. Bergaul dengan mereka, membuat saya paham mereka punya banyak kelebihan yang bisa dimanfaatkan.

Semangat
Maklum deh masih muda, tenaga masih kuat, pikiran belum ruwet mikirin kerjaan atau keluarga. Mereka bisa dikaryakan melalui kegiatan yang memerlukan aktivitas fisik, dan dengan kapasitas otaknya yang masih punya cukup space, bisalah disuruh mikir suatu kegiatan enaknya diapain agar muncul perbaikan.

Kreatif
Meskipun kadang ngga penting, sering saya dapati mahasiswa sempat-sempatnya menghiasi slidenya dengan begitu rupa, sehingga tampilan slide lebih menarik daripada isi presentasinya. Belum kalau kita menyerahkan sie acara ke mereka, langsung deh banyak ide ditawarkan, tinggal kita memilah-milah mana yang mungkin dilaksanakan dan sesuai, dan mana yang tidak. Atau kita lihat tim kreatif di pertelevisian, biasanya dipenuhi oleh orang-orang muda dengan sejuta ide segarnya.

Berani mendobrak
Jangan salah, mungkin karena mereka sudah lama kecewa dengan keadaan negara ini, mereka cenderung memilh cara yang tidak biasa untuk mendobrak sistem yang ada. Misal program Indonesia Mengajar yang digagas Anis Baswedan. Sebelumnya, kalau ada penempatan guru di daerah pelosok, dianggap sial. Nah ini sekarang malah angkatan muda, yang terbaik, berbondong-bondong mendaftar menjadi pendidik di pelosok negeri.

Dokter muda, juga dapat mendaftarkan dirinya secara sukarela menjadi Pegawai Tidak Tetap di daerah pedalaman, melayani kesehatan masyarakat di sana. Saat ini program PTT memang sudah tidak wajib dilakukan. Namun bila berminat melanjutkan ke spesialis, maka salah satu syaratnya adalah pernah melakukan PTT.

Idealis
Sempat blusukan sana sini ke webnya anak muda, malah jadi malu karena blog mereka ngga main-main isinya. Ada yang isinya bahan kuliahnya, ada yang mengutarakan pendapatnya dengan jelas dan lugas. Begitu masuk forum, banyak sekali pendapat yang disampaikan mereka dengan bebasnya. Menarik karena meskipun tidak perlu jelas akunnya, mereka tetap bertanggung jawab dengan komentar yang diberikan, dan berdiskusi dengan sehat. Wawasannya luar biasa, dan mereka mempergunakan otaknya dengan memberikan pendapat yang brilian.

Tech-Friendly
Dibandingkan saya, yang masih gagap berSkype dan ngetwit, kaum muda lebih melek teknologi, dan dapat memanfaatkannya untuk keperluan pribadinya. Kalau saja ia bisa mengubah fokusnya ke pekerjaan atau menjadikannya value-added activity, maka penguasaan teknologi bukan sekedar untuk senang-senang saja, namun bisa untuk kenaikan kinerja.

Ya, saya optimis dengan generasi muda saat ini. Indonesia akan lebih baik dengan angkatan muda yang dapat mengoptimalkan potensinya. Angkatan muda bertambah 2,5 juta orang per tahunnya, dan jika tidak dimanfaatkan dapat terjadi badai demografi (suarapembaruan.com). Kelak, hingga tahun 2030, setiap 100 pemuda akan menanggung subsidi untuk 44 orang angkatan tua dan anak-anak, misal melalui fasilitas kesehatan, umum, transportasi dan pendidikan. Kalau kaum muda tidak memanfaatkan waktunya dengan bekerja, maka akan lebih banyak lagi penduduk yang harus disubsidi negara.

Apalagi jika kaum mudanya terjebak dalam hal-hal negatif seperti tawuran, menggunakan narkoba atau sibuk melakukan seks bebas. Fokus hidupnya jadi bukan pada peningkatan kualitas diri, apalagi memikirkan lingkungan sekitar dan bangsa. It’s not about you, it’s about us. Kita ada, kita diciptakan, pasti ada maksudnya. Dan jangan menuh-menuhin dunia dengan tindakan yang menambah rusak dunia, tapi jadilah orang yang berguna.

Maka, aku padamu, generasi muda.

Semoga proses ‘cuci darah’nya berjalan lancar. Mimpi saya, suatu saat nanti akan ada RI 1 yang masih muda, ahli energi terbarukan yang masih muda, dan sastrawan muda dengan berbagai prestasi.

20130307-033323.jpg

Advertisements