Toko Elektronikku Sayang

Secara saya lebih banyak diam di rumah *keliatam bo’ongnya ngga ya?* dan agak tergila-gila dengan internet retailing, maka jarang banget deh pergi ke suatu tempat tanpa ada tujuannya, alias sekedar window shopping. Dan sampailah saya dihadapkan pada kenyataan, the world is changing. Termasuk dalam penjualan produk-produk elektronik.

Berencana untuk mengganti AC lama yang sudah berumur 10 tahun *sampai tukang ACnya bilang ‘Mestinya sampeyan bersyukur Bu, sudah selama ini. Biasanya umurnya cuma 3 tahun!’. Entah beneran memuji, atau menyindir karena bolak balik dipanggil dengan komplain yang sama ‘Kok ACnya ngga dingin Pak?’, maka mampirlah kami ke gerai yang menjual produk-produk elektronik di suatu mall.

Gerai jaman sekarang ya, disusunnya sudah memperhatikan kenyamanan pelanggan. Dengan penyusunan macam department store dengan race tracknya, pelanggan didorong untuk mengelilingi area-area yang dipajang dengan begitu menariknya. Dominan dengan warna putih, produk seakan menonjol kemewahannya, dan kalau ngga ingat uang kami terbatas, mungkin bisa kalap mata dan memborong semuanya.

Namun ternyata ada yang membedakan antara satu gerai dengan gerai lainnya. Di gerai pertama, produk cukup lengkap, namun yang diberi harga cuma satu. Sehingga saat kami menanyakan harga untuk merk sama, tipe sama, tapi PK beda, mbaknya harus mencari di buku catatannya. Benar-benar buku, dengan lembaran kecoklatan dan tulisan komputer, dengan berbagai coretan untuk stoknya. Kemudian kami tertarik dengan merk lain. Mbaknya membuka catatannya lagi. Pada akhirnya kami kembali ke merk yang sebelumnya, tapi dengan tipe yang berbeda. Sudah tahu kan kelakuannya? Buka catatan lagi. Dan ternyata, TIDAK ADA pula di buku tersebut. Kali ini mbaknya terpaksa menggunakan kalkulator, untuk menghitung KIRA-KIRA harganya berapa. Kok seperti beli perhiasan emas ya?

Setelah bersabar menunggu karena mbaknya baik banget mau mencarikan harga produk-produk itu, dan sekaligus meramalkan harganya berapa, akhirnya kami memilih satu produk. Tibalah pada diskusi kecil mengenai kapan dikirim *besok Bu*, kapan dipasang *3 hari lagi Bu* , loh kok lama? *soalnya Ibu harus konfirmasi dulu ke perusahaan AC ini Ibu sudah membeli produknya, nanti teknisinya yang akan datang ke rumah Ibu. Toko kami tidak menyediakan teknisi untuk bongkar pasang AC.*

What??

Maka dengan terpaksa dan benar-benar menyesal kami mengungkapkan tidak jadi membelinya, pada mbak yang sangat baik hati tersebut. Sebelum dia nanti harus mengecek barangnya ada apa ngga, dari buku catatan yang terlihat sudah sering kali digunakan meski tidak pasti tingkat keakuratannya.

Kasihan ya, tenaga penjualnya sudah bagus, sistemnya yang tidak mendukung sehingga pelanggan dikecewakan.

Pada gerai kedua, kami mengunjungi satu toko yang khusus menjual barang elektronik. Saat masuk pertama, saya bingung juga akan begitu banyak orang yang berkunjung. Waduh, kok seperti jalan-jalan ke mall saja. Satu keluarga, kadang sepasang kekasih *cirinya mereka saling bergandengan tangan*, suami istri *tidak bergandengan tangan* berbondong-bondong masuk ke area toko yang terdiri dari tiga lantai. Lantai bawah adalah televisi layar datar dan tipis *saya sampai ngga ngeh istilahnya apa ya, plasma or something ya?* yang berlomba menayangkan acara yang sama, untuk menonjolkan ketajaman gambarnya. Para tenaga penjual kebanyakan mas-mas cukup banyak, menggunakan kaos kuning agar mudah dikenali di deretan barang elektronik yang ada.

image

Sampailah kami di area display AC. Mudah dikenali dari jauh, dengan merk produk berada di atas, setiap unit ditempel label untuk memberikan keterangan PK, berapa watt, dan istilah lain yang saya ngga tahu *dan ngga gitu peduli juga sih*, yang penting, ada HARGANYA! Syukur deh, setidaknya kami ngga akan ngerepotin mas-mas yang tiba-tiba sudah berada di samping kami, dan dengan ramah menyapa ‘Ada yang bisa saya bantu, Bu?’.

Sebagai pelanggan, tentu saja kami mengulang proses yang sama, berkeliling dari satu merk ke merk lainnya, menanyakan beda antar tipe, sekalian minta bocoran yang terbaik dengan harga terjangkau yang mana. Dengan baik masnya dapat menjelaskan, sehingga kami mengikuti sarannya untuk membeli produk tertentu. Lalu tiba saatnya untuk persiapan instalasi, yang ternyata barang dikirim besok-sekalian bongkar pasang-AC lama bisa ditrade in-dan bisa ngutang! Tapi kami ngga ambil opsi ini, karena utang kami sudah cukup banyak di bank, masa’ harus ditambah ngutang ke lembaga pendanaan lainnya?

Dan dengan waktu yang sama saat kami menunggu mbaknya mencari-cari harga produk yang kami inginkan di gerai sebelumnya, kami menyelesaikan semua transaksi dengan begitu mulusnya, ngga usah ngikut masnya kemana-mana. Cukup duduk di sofa, sementara masnya checking stock lewat komputer, mempersilahkan kami ke kasir untuk membayar, mencatat alamat untuk pengiriman, selesai.

Terbukti usaha ritel elektronik memang harus didukung sistem dan tenaga penjual yang handal.

Tapi sebenarnya lebih canggih toko elektronik di kota kecil tempat saya (mem)besar(kan diri). Sistemnya touch screen. Tinggal tunjuk, produknya langsung datang ke hadapan kami untuk dicoba, bungkus dan bayar. Di dunia belum ada yang otomatis seperti itu!

Advertisements