Salah Pakai Baju, Hati-hati Diperkosa Lho!

20130305-220447.jpg

Satu polemik yang terus menerus muncul di Indonesia adalah, tuduhan pada pihak wanita, bahwa perkosaan itu terjadi akibat sebab yang sangat sederhana, yaitu :
wanita salah pakai baju.

Jadi, pakai baju keliatan lengan, perkosa.
Pakai celana pendek, perkosa.
Pakai rok mini, perkosa.

Wah, jadi sirik deh sama zebra, yang meskipun telanjang, ngga diperkosa.

Kenapa? Apa karena zebra binatang? Atau karena, kalau sampai memperkosa binatang, berarti menurunkan derajat si pemerkosanya? Bukankah dengan mengatakan pakaian mempengaruhi tingginya tingkat perkosaan, juga merendahkan martabat pemerkosa, bahwa mudah sekali mengubah seseorang yang alim luar biasa, menjadi begitu rendah ahlaknya?

Menurut saya, pemerkosaan terjadi karena ada tiga faktor, yaitu godaan, kesempatan dan niat. Dan diantara semuanya, faktor niatlah yang paling berperan. Pakaian? Masuk ke faktor godaan.

Mari kita bahas yang pertama. Godaan, berarti berasal dari luar. Bisa dari pakaian korban, bisa dari tontonan, bacaan atau pemandangan yang ‘iya-iya’ sehingga membuat pelaku membayangkan yang ‘tidak-tidak’, bisa juga karena pihak korban, entah sengaja atau tidak, memang menggoda dengan gerak tubuhnya, cara bicaranya, atau isyarat-isyarat yang bikin pusing kepala pelaku.

Sementara kesempatan, adalah waktu dan tempat yang ‘voila!’ jadi momen yang pas banget untuk melakukan kekerasan secara seksual. Misal di angkot yang sepi di malam hari, di rerimbunan perkebunan tebu, di rumah kosong dan lain sebagainya.

Terakhir adalah niat. Kalau pengendalian diri kurang, niat ngerusak anak orang itu pasti bakal dilampiaskan begitu saja. Tidak memikirkan masa depan wanita ini bagaimana, pelaku hanya memikirkan ‘imron’nya dan peduli amat dengan imannya. Lupa semua ajaran agamanya, dan acuh dengan dampak yang diakibatkannya.

Sekarang, mari kita kombinasikan. Jika ada wanita yang terlihat paha mulusnya, dan dia sedang berada di angkot sepi di malam hari, apa serta merta ia diperkosa? Tidak, jika tidak ada niat dari pelakunya. Sebaliknya, ada wanita dengan pakaian tertutup, dan selalu dikelilingi teman-temannya. Apa menjamin ia lolos dari perkosaan? Kalau pelaku sudah niat, dia pasti akan cari cara dan cari kesempatan.

Ah, mana ada sih kucing nolak ikan asin?

Pertama, sebagai wanita saya tentu menolak dibilang sebagai ikan asin. Enak aja, udah amis, pakai acara dijemur pula. Kedua, ya jangan mau dong para pria disamakan derajatnya dengan kucing. Sudah diciptakan komplit dengan otak, akal budi dan nurani, kok malah merendahkan diri sama seperti binatang. Bahkan ada yang lebih rendah, dengan memperkosa anak kandungnya sendiri.

Niat, niat, dan niat.

Meskipun ada wanita telanjang di depan mata, sedang berduaan saja dengan sang pria, kalau gentleman sih dia justru bakal sibuk mencarikan kain penutup, agar wanita tersebut dapat melindungi tubuhnya. Merasa berdosa telah melihatnya, merasa bersalah karena terjadi di depan mata. Saya percaya, masih ada pria-pria seperti ini, yang sayang terhadap kaum wanita, dan ingin melindunginya sedemikan rupa. Jadi tergoda gara-gara ada yang terbuka, saya rasa sama saja dengan menyangsikan tidak ada lagi pria baik di muka bumi ini.

Sedangkan untuk wanita, apa yang bisa saya sarankan untuk menghindari perkosaan? Maka penjelasan di atas akan saya balik.

Pertama, jangan melakukan godaan pada para pria, baik lewat pakaian, ekspresi, bahasa tubuh, perkataan, atau lainnya. Dalam acara ‘nguping sore hari’, seorang wanita bercerita dengan santainya ke teman prianya, ‘Eh, aku kalau tidur malam ngga pakai baju lo!’. Si prianya bengong dulu, sebelum berkata salting. ‘Eh..wow! Beneran?’ sambil mukanya mupeng-mupeng gitu. Nah, itu sudah menggoda dan bisa mempengaruhi niat. Belum kalau pamer paha dan belahan dada. Wuedeh.

Sebaikanya pakailah pakaian yang pantas, sesuai tempatnya. Misal summer, atau lagi jalan di pantai, ya pakai celana pendek it’s OK. Tapi pakai celana pendek di metromini, mending jangan deh daripada keneknya jadi ngga konsen. Pakailah pakaian yang nyaman dikenakan, sesuai dengan kepribadian, dan ngga perlu lah pakai baju untuk menarik perhatian laki-laki. Miris rasanya melihat para gadis muda seksi, yang berusaha tampil sesempurna mungkin agar sang pria tertarik padanya.

Acuan saya dalam berbusana *ngimpi doang, soalnya bagai pungguk merindukan bulan* adalah Ratu Rania dari Jordania. Ibu empat anak ini, mulai dari muda sampai sekarang, tetap dengan gaya busananya yang anggun, klasik, dan terkesan ‘mahal’. Mana ada bajunya yang ketat menunjukkan lekuk tubuh, atau terbuka di daerah-daerah yang ‘bahaya.’ Menjadi wanita yang mempesona, ngga perlu buka-bukaan dan malah kelihatan ‘mure’. Dengan menggunakan pakaian yang pantas, wanita juga dapat terhindar dari pelecehan seksual. Pelecehan seksual mencakup perkataan yang tidak pantas, siulan iseng, sentuhan dan pandangan mesum *bayangin sendiri kaya’ apa:)*.

20130305-225327.jpg
businesspundit.com

Kedua, hindari memberikan kesempatan. Contoh hindari angkot yang mencurigakan, jangan berduaan di tempat sepi dengan pacar, minta ditemani jika harus pulang malam dan sendiri. Jikapun tidak ada yang menemani, siapkan senjata jika ada yang coba-coba. Semprotan merica, alat penyetrum, cutter, atau apapun yang bisa melindungi diri. Jangan lupa simpan nomor telepon penting, misal polisi, jika sewaktu-waktu diperlukan.

Untuk prianya sendiri, agar terhindar dari niatan memperkosa, ya tiada lain harus memperkuat ajaran agama. Bahkan seorang atheispun dapat terhindar dari niatan tersebut, jika ia membayangkan Ibu atau saudara perempuannya yang diperlakukan seperti itu, tentu akan menghancurkan perasaan mereka. Hindari godaan, seperti melihat-lihat situs porno atau menonton film biru. Jika bertemu atau berteman dengan wanita yang menggoda iman, mending dijauhin aja deh. Karena sebagian pelaku pemerkosa adalah orang yang dikenal korban.

Akhirnya, saya hanya berharap para wanita dapat dihargai pilihannya saat memilih baju yang dikenakan, terkait dengan aspek kesopanan, kenyamanan dan kepribadian, dan bukan karena takut diperkosa.

Advertisements