Filosofi Kecoak

Sebenarnya tulisan ini seperti menohok muka sendiri, menjilat ludah kembali, atau istilah lainnya yang mempunyai makna sama : mengingkari apa yang telah dikatakan. Karena saya tipe orang yang suka menasehati, bisa dilihat dari artikel-artikel yang saya tulis, kebanyakan adalah soal tips. Tips tersebut merupakan opini, berasal dari renungan dari pengalaman yang lalu, dalam kondisi tertentu. Maka wajar jika kondisinya agak berbeda, tips tersebut menjadi tidak berguna. Misalkan saya mendorong orang lain untuk melanjutkan kuliah, bagaimana bila memang dia diharuskan meneruskan usaha orang tuanya, sehingga tidak perlu kuliah? Atau keburu dikawinkan sehingga langsung mengurus keluarga? Tips saya menjadi tidak cocok dan jika diikuti malah menyesatkan.

Saya terpaksa menuliskan ini karena baru saja saya mengikuti tips yang kemudian menjadi masalah tambahan buat saya, yaitu tentang cara membunuh kecoak.

Image

Ya, kecoak. Binatang yang menjijikkan, kotor, dan sialnya bisa terbang ini, selalu menjadi alasan untuk menjerit bila bertemu dengannya, dan saling menunjuk untuk membunuhnya. Harus dibunuh karena begitu menjijikannya. Dan posisi saya sebagai seorang ibu, merupakan penanggung jawab program rumah-bebas-kecoak. Maka terpaksalah saya buru-buru mengenakan sandal di kaki kanan, dan menginjaknya kuat-kuat. Bahkan untuk menginjaknya langsung tanpa alas kaki saya tidak mau.

Suatu hari saya membaca tips tentang cara membunuh kecoak, dengan cara yang lebih ‘elegan’. Yaitu dengan ‘menuangkan sabun cair di perutnya’. Selalu tertarik dengan hal-hal baru, saya berniat untuk mencobanya. Dan datanglah saat yang dinantikan tersebut, sebuah kecoak melintas dengan cepat. Saat melihatnya, pikiran pertama saya adalah: bagaimana cara membalik perutnya. Haruskah saya memegang antena atau sayapnya (karena kakinya tajam) dan kemudian membalikkannya? Lalu kalau sudah terbalik, sampai berapa lama dia bertahan telentang begitu, sementara saya harus mengambil sabun cair dari kamar mandi?

Saat itu juga saya merasa tips ini tidak mungkin, tapi sudah terlanjur mau mencoba, akhirnya saya menggunakan cara lama: injak dengan sandal, tapi kali ini injakan lembut saja (gimana coba….intinya tidak perlu tekanan, cukup dengan bobot tubuh saja) setidaknya sampai salah satu kakinya patah. Setelah itu dengan sandal pula saya membalikkannya (ya, saya memang jijik!) sehingga perutnya menghadap atas. Tentu saja dia ‘meronta-ronta’ , kalau boleh saya menggunakan istilah tersebut. Segera saya mengambil sabun cair, saya tuang sedikit..hmm..rontaannya makin keras. Kaki dan antenanya bergerak dengan liar. Kok ngga mati-mati ya..akhirnya saya tambahkan lagi, lagi dan lagi, sampai seluruh tubuhnya tertutup dengan sabun, dan akhirnya kecoak tersebut menghembuskan napas terakhirnya dengan tidak tenang.

Cara pembunuhan seperti ini terus terang membuat saya tidak nyaman dan merasa bersalah. Lebih cepat bila saya tidak melihat rontaannya di bawah sandal saya, dan kecoak akan mati dalam waktu sekian detik. Cara sabun cair membutuhkan waktu minimal 30 detik, sangat menyiksa bagi pihak kecoak, pemborosan sabun untuk manusia dan belum kerepotan waktu membersihkannya karena lantai jadi licin.

Mungkin dalam pengalaman si pemberi saran, kecoak yang dia temukan memang sudah telentang, sedangkan saya tidak. Jadi saya kembali pada cara yang lama. Dan gara-gara kejadian ini saya menjadi makin memahami tidak semua tips bisa diikuti mentah-mentah oleh orang lain.
.
IndriHapsari

Advertisements