Daftar Kelemahan Sam

pinterest.com

pinterest.com

 

1. Jarang ketemu, karena beda tempat kerja, shiftnya juga sering beda. Begitu dia off, aku yang ngga.

2. Ngga bisa antar jemput.

3. Sama susahnya.

4. Terlalu diam. Kalau sama dia cape deh mesti ngomong terus, sementara dia cuma mendengarkan.

5. Ngga asyik. Diajak ke mall, lebih milih ke taman. Nonton bioskop, katanya beli DVDnya saja. Diundang nongkrong di kafe teman, malah ngusulin masak berdua.

Aku memandang dengan bangga hasil kerjaku. Sembari menunggu pelanggan yang datang, diam-diam aku membuat daftar kelemahan Sam, pacarku. Mmm..sebentar lagi mantan. Nanti malam, kami janjian ketemu di taman. Saat itulah akan kuputuskan dia. Alasannya, ya yang seperti di daftar.

Sambil merapikan produk yang dipajang di sekitar meja kasir, aku melirik Max, yang sedang sibuk mencari produk yang expired di rak roti. Ia membawa keranjang biru tempat menaruh produk lawasnya. Mmm…Max, sebentar lagi bakal resmi jadi pacarku. Enakan sama dia, kerjanya satu tempat, jadi dia bisa antar jemput aku, waktu offnyapun bisa dinego dengan supervisor.

Aku tersenyum-senyum sambil memandangnya. Max ini keren abis. Meski dia menggunakan seragam Itomaret sama sepertiku, tapi kulitnya yang terang, dan potongan rambutnya yang mirip artis Korea sukses menarik perhatianku. Aku jadi lebih semangat berangkat kerja karena Max. Lalu kalau dari jam tangan, sepeda motor dan sepatunya, dia lebih keren dari Sam. Berarti lumayan lah, bisa diajak hanging out, pinjam istilah anak pemilik yang suka datang dan mengambil tanpa membayar barang-barang yang ada di display. Membingungkanku sebagai kasir bagaimana melaporkan keuangannya.

Sadar sedang kupandangi, Max tersenyum padaku. Haduuuh, deg-degan deh! Beberapa minggu ini nampaknya memang Max sengaja mendekatiku, terutama saat sedang tidak ada pelanggan. Teman-teman nampaknya juga sudah mengetahuinya, bahwa Max ada apa-apa denganku, dan sebaliknya aku juga ada apa-apa dengan dia. Selain bicara dan bercanda berdua saja denganku, Max juga kerap menghubungiku lewat telepon, hanya untuk mengucapkan selamat tidur, atau menyemangatiku saat terbangun. Ugh, co cwit! Dialah orang terakhir yang bicara denganku di malam hari, dan orang pertama yang mengucapkan selamat pagi.

Sam sendiri kerja di Arbamart, pesaing minimarket kami. Sam pendiam sih, aku juga sudah ngga cinta sama dia, jadi harus cepat kuputuskan, agar aku tak merasa bersalah lagi saat menjalin hubungan dengan Max. Lagian, mendapat sesuatu yang lebih baik kan sudah menjadi hakku!

***

Setelah melepas helmku dan mengaitkannya di jok, aku memasuki taman tersebut. Sam selalu menyukai tempat ini, sehingga tempat ini pula yang menjadi tempat pertemuan kami. Lampu taman sudah dinyalakan, beberapa anak kecil bermain di playground dengan ditemani orang tua mereka. Beberapa pemuda bergerombol, ada pula beberapa pasangan yang duduk berdua di bangku taman.

Sam mengirimkan SMS, dia menunggu di dekat nasi goreng. Kami memang punya langganan tukang nasi goreng yang porsinya banyak, enak, dan murah. Lumayan deh, aku memang belum makan malam sejak shiftku berakhir.

Dari jauh kulihat Sam, sedang memegang piring nasi gorengnya. Duduk di bangku plastik, jaket hitamnya menutupi tubuhnya yang tinggi kurus. Wajahnya biasa, namun pandangan matanya selalu bisa menghipnotisku, termasuk berkata ‘Ya’ saat ia bertanya bolehkah jadi pacarku.

Aku menghampirinya. Ia tersenyum saat melihatku.
‘Nih! Nasi gorengmu.’ katanya.
‘Eh, ngga apa. Aku pesan sendiri aja. Kamu sudah makan?’ tolakku halus.
‘Sudah, aku makan setengah nasi ini. Lebihnya buat kamu.’ katanya.

Aku tercenung. Aku tahu gaji dia berapa, yang kebanyakan habis untuk bayar uang kos dan hidup sehari-hari. Tapi ia selalu membagi dua makanan yang dibelinya, bila ada aku. Tak diingatnya bahwa ia sendiri membutuhkan banyak kalori, setelah seharian berdiri. Dan…’lebihnya’? Ia selalu menjaga perasaanku, dan tak pernah ia menawarkan dengan perkataan ‘Sisanya buat kamu.’

Dalam diam aku makan nasi goreng itu. Tak enak. Tak seperti biasanya. Mungkin karena aku sadar, sebentar lagi aku bakal kehilangan Sam. Kehilangan bukan hanya orangnya, tapi juga perhatiannya.

‘Kok diem aja?’ kata Sam sambil melirikku. ‘Biasanya kamu ribut cerita macam-macam. Kamu sakit?’ Ia meraba keningku.

Hati ini rasanya mencelos. Aku…harus berani.

‘Sam, aku minta putus.’ kataku singkat. Matanya untuk sesaat terlihat terkejut. Tapi dengan cepat dikuasainya keadaan.

‘Kenapa?’ katanya pelan.

Aku gelagapan. Daftarku! Mana daftarku? Dan aku melupakan semua, semua poin yang sebelumnya telah kuhapalkan selama bekerja, sekarang hilang semua!

‘Ngga cocok aja.’ kataku ngawur. Haduuuh, alasan yang terlalu mengada-ada.

Sam terdiam sebentar. ‘Cuma itu?’ katanya. Ia menunduk.

‘Ya.’ aku mengangguk tegas. Aduh Sam, kalau kau tanya lagi ‘Tak adakah yang bisa kuperbuat untuk memperbaikinya?’ atau ‘Berikan aku kesempatan kedua.’ mungkin aku tak bisa setegas ini. Bagaimanapun, aku berharap ia menolak ajakan putusku…

Tapi Sam tak berkata begitu. Ia hanya menatapku dalam, dan berkata ‘Habisin dulu nasgornya. Aku mau pulang.’

Sam, aku sungguh benci kamu yang sok perhatian gini. Sudah diputusin sepihak, dan masih mau nungguin aku menyelesaikan makanku?

‘Aku ngga lapar.’ Semoga Sam ngga menyadari nada suaraku yang mulai bergetar. Kuletakkan piring nasi goreng itu pada gerobaknya, dan Sam membayarnya.

Kami berjalan berdua ke tempat parkir sepeda motor. Lebih tepatnya, beriringan. Sam di depan, sementara aku di belakang. Saat memandang punggungnya dari belakang seperti ini, aku jadi teringat masa-masa aku membonceng sepedanya, menyandarkan kepalaku di punggungnya yang hangat. Memeluk pinggangnya, merasa ialah pelindungku, dan aku siap dibawa kemanapun ia akan menuju.

Suara guntur mulai terdengar. Mungkin sebentar lagi hujan. Sam melirik jok sepeda motorku saat kubuka untuk mengambil helm.

‘Mana jas hujanmu?’ tanyanya.
Aku mencari-cari. ‘Ah iya, lupa. Waktu hujan tempo hari, aku menjemurnya. Tapi lupa memasukkannya.’

Sam mengambil sesuatu dari joknya. ‘Nih, pakai punyaku.’ Diletakkannya bungkusan biru itu di jokku.

‘Eh, jangan!’ seruku. ‘Nanti kamu kehujanan.’

‘Ngga apa. Aku bisa ngebut. Karena itu, maaf ya kali ini aku ngga bisa kawal kamu sampai rumahmu.’ Sam memang selalu menyempatkan diri mengawalku pulang, jika kebetulan jadwal pulang kami pada malam hari bersamaan.

‘Nanti ku kembalikan ya.’ Kalau aku kangen Sam, aku jadi punya alasan..

‘Ngga usah, itu buat kamu.’ senyumnya sambil mengunci helmnya. Ia mengeluarkan sepedaku dulu, sebelum mengeluarkan sepedanya sendiri. Ia membayari parkirku. Setelah mengangguk padaku, ia segera memacu sepeda motornya ke jalanan.

Aku menaiki sepeda motorku. Ternyata, tak perlu hujan untuk mengaburkan pandangan…

***

Tit tit tiiit…tit tit tiiit…

Waduuuh, siapa sih telepon pagi-pagi begini…tidur larut malam, karena menangis terus-terusan, membuat kepalaku pusing saat terbangun.

‘Hallllo…’ kataku sambil terkantuk-kantuk.

‘Sori, baru bangun ya.’ katanya dari ujung sana.

‘He-eh.’ jawabku malas.

‘Tadi malam keujanan ngga?’ tanyanya.

‘Ngga, Sam’ jawabku lagi.

Terdiam sebentar.

‘Sam? Ini Max.’ katanya dingin.

Sontak aku lihat layar ponselku. Shit. Benar. Max!

Sambil menenangkan diriku, kucoba menjawab santai ‘Iyaaa..tadi aku bilang Max kok…’

***

Advertisements