Jodohnya Steve

20130227-035032.jpg

‘Kamu percaya jodoh?’ Steve menanyaiku.

Aku meliriknya. Ah, nanya hal ngga penting! Kesambet apa dia.

‘Iya, Steve, aku percaya.’ Singkat, padat, dan jelas. Kini aku sibuk kembali menatap layar iPhoneku. Sedang terlibat percakapan seru di sana. Kami sedang duduk berdua, berhadapan, di tepi sungai Yarra River. Pulang kuliah, aku dan Steve memutuskan santai sejenak menikmati pemandangan dan secangkir kopi.

Eh, ngga ding. Lebih tepatnya Steve yang menikmati pemandangan, sedangkan aku sibuk chat dengan Santi di Jakarta.

‘Kamu tahu ngga, pertemuan dengan jodoh seperti apa yang aku harapkan?’ kata Steve lagi. Uaaah…ganggu aja nih! Dengan cengiran setengah terpaksa, aku balik bertanya, ‘Yang gimana emang?’. Tanganku tetap menggenggam gadget.

‘Aku ngga tahu dia siapa, lalu waktu ketemu, ada rasa debar di dada,’ katanya serius. Dalam hati aku ngakak. Hahaha Steve, lugu amat sih jadi orang! Itu sih cuma ada di cerita kaliiii…

‘Kalau kamu gimana?’ kata Steve sambil menatapku.

Nah kaaan, tanya balik deh. Padahal si Santi sedang nunggu jawabanku. ‘Sama deh.’ jawabku singkat.

‘Kamu..sudah punya pacar?’ tanyanya. Mata birunya memandangku teduh.

Eits, Steve! Too personal. Tapi aku menggeleng juga. Haduuuh, udah deh, jangan tanya-tanya lagi…

Ngga suka dengan pertanyaannya, aku mulai menundukkan kepala dan segera membalas icon-ngga-sabarnya Santi.

Steve menghela nafas. Terdiam. Mungkin ada sepuluh menitan kami saling diam, sebelum dia tiba-tiba berdiri, dan berkata ‘Aku duluan.’

Eh? Tanpa menunggu jawabku, aku hanya sempat melihat punggungnya menjauh. Sepuluh dolar terletak di samping cangkirnya. Ugh, OK Steve, see you tomorrow!

Aku asyik kembali dengan chattingku. Seru juga, ngegosipin si ini dan si itu. Biarpun jauh, aku tetap update dengan perkembangan di tanah air. Terutama gosip-gosip ngga penting yang dengan hebohnya Santi ceritakan.

Akhirnya keadaan mulai temaram. Santi pun pamit mau off dulu. Baru saat itu kumasukkan gadget ke tas, dan menikmati pemandangan sekitar. Orang banyak lalu lalang, permukaan air kelihatan mengkilat dari kejauhan.

Sepi. Kosong.

Konyol. Sedang ramai begini, kok malah terasa hampa. Ini…apa gara-gara Steve ya? Selalu didampingi begitu rupa, baik di kelas maupun saat mengerjakan tugas, ternyata ngga ada dia pengaruh juga.

Ada…ketakutan ngga bisa sama dia lagi.
Ada…kehilangan saat dia ngga ada.
Ada…keinginan untuk berjumpa.

Tadi dia ngomong apa sih? Jodoh? Berdebar saat ketemu?
Sial. Steve. Aku malah berdebar saat ngga ada kamu.

Dengan segera aku bangkit, tergesa ke flatnya Steve.
Sorry if I hurt you. Honestly, I love you too…

***
Sumber gambar: jlange.smugmug.com
Artikel terkait : Jodoh Saya, Ada Dimana?

Advertisements