Api Unggun Kecil (3)

Aku duduk bersila sambil memperhatikannya. Dua gelas berisi kopi sudah siap di depanku. Fahri mengangkat panci itu dengan melilitkan kain di tangannya. Dituangkannya air mendidih dengan hati-hati ke kedua gelas. Kuaduk perlahan keduanya sementara Fahri meletakkan panci kembali.

‘Kumatikan apinya?’ tawarnya padaku. Aku menggeleng cepat. Kami memang tidak hendak memasak apa-apa lagi. Tapi aku menginginkan api itu tetap menyala. Entah..terasa harus saja.

Aku mengangsurkan satu gelas padanya. Ia duduk di sampingku. Tidak berdekatan seperti tadi malam. Hanya duduk di samping. Mengangkat dan menghirup kopinya pelan-pelan, dengan satu tangan. Sementara aku menggenggam gelas itu dengan dua tangan. Hangat. Kutiup dulu sebelum kuhirup. Kini hangatnya memenuhi rongga mulut. Mengalir ke tenggorokanku.

‘Sudah baikan?’ Fahri memandangku. Samar kulihat dagunya ditumbuhi rambut yang belum sempat dicukurnya.

Aku mengangguk. Kenapa di depanmu lidah ini terasa kelu, aku mengeluh atas ketidakberanianku.

‘Rencanamu selanjutnya?’ kini ia menghirup kopinya lagi. Tapi matanya tetap mengawasi.

Aku menggeleng tak mengerti. Aku tak pernah punya rencana. Jalani saja apa adanya.

‘Kamu suka kopi?’ tanyanya lagi.

Aku bengong. Apa hubungannya dengan pertanyaan sebelumnya? Tapi tak urung juga aku mengangguk dengan muka heran.

‘Kau pasti hapal paduannya. Bubuk kopi instan, susu dan gula. Kopi menyumbang rasa pahit. Susu untuk gurih, dan gula memberikan rasa manis. Kau tahu bagaimana rasanya jika dicicipi satu persatu. Tak seenak bila mereka berpadu.

Untuk itu diperlukan air panas untuk menyatukannya. Agar mereka dapat melewati lidahmu bersama-sama. Dan saat itulah kau bisa merasa, sensasinya yang luar biasa.

Demikian juga dengan hidup. Ada suka, ada duka. Jika yang lalu tak begitu kau suka, percayalah, ada hal yang manis di depan sana.’ Fahri menghirup kopinya lagi. Matanya kini memandang ke api unggun kecil. ‘Dan jangan khawatir. Kali ini ada aku yang menemani’ katanya pelan.

Aku memandang Fahri. Tak percaya rasanya. Dia yang bersedia mendampingi. Siap berbagi pedih. Bersama melewati hari. Sepi? Mungkin bakal tak ada lagi.

Fahri, terima kasih.

Ingin ku berucap seperti itu. Namun tak keluar apapun dari mulutku. Tapi senyuman di wajahku, sudah menjadi tanda baginya.

Ia tersenyum. ‘Sekarang, boleh kumatikan apinya?’

Aku mengangguk setuju. Fahri meletakkan gelasnya dan bangkit berdiri. Diceraikannya susunan kayu yang ada. Api mati pelan-pelan, kini yang terlihat hanya asapnya. Biarlah semua yang berlalu menjadi kenangan. Kayu telah berubah menjadi arang. Tapi akan ada tunas-tunas lain yang tumbuh, memberi harapan.

Fahri mengangsurkan tangannya padaku. ‘Ayo!’ katanya mengajakku.

Kuletakkan gelasku, dan kusambut uluran tangannya. Ia menarikku dengan lembut. Jemarinya menggenggam erat jemariku. Kini kami berdiri berdua, menatap cakrawala.

‘Sekarang…sudah siap? Untuk cerita?’ katanya sambil memandangku mesra.

Aku tersenyum. ‘Kayanya..udah ngga perlu’ kataku malu. Ia melingkarkan lengannya ke bahuku.

Bikin cerita sendiri aja ya Fahri…
…tentang kamu dan aku
^_^

20130206-221301.jpg

***THE END***

A sunset in one land is a sunrise in another

Versi lengkap : Api Unggun Kecil

Advertisements