Gadget dan Anak

Orang tua mana yang belum memperkenalkan gadget pada anaknya? Saya rasa paling tidak penggunaan ponsel pastilah sudah diperkenalkan. Gadget lain seperti iPod, tablet dan entah apa lagi yang baru, untuk anak-anak di kota besar pastilah sudah akrab.

Tidak sedikit yang menggunakannya untuk menenangkan anak dan mengalihkan perhatian anak. Suatu hal yang lama-lama jadi kebutuhan, dan tidak memecahkan masalah yang lebih dulu muncul. Kenapa anak rewel? Kenapa anak tidak tenang? Kenapa anak jadi menyebalkan?

Gadget sendiri bukanlah barang haram. Kalau tahu pemanfaatannya mestinya ia akan membantu hidup kita. Misal saat anak pulang les tak ada yang menjemput, ia bisa menghubungi orangtua dengan ponselnya. Berhubungan dengan ayahnya yang kerja luar kota, ia bisa memanfaatkan video untuk bertatap wajah dengan ayah. Ia bisa pula mendiskusikan tugas dengan temannya di chat room. Atau mencari referensi untuk apa yang ia ingin tahu, bahkan gamenya pun ada yang bukan sekadar refreshing atau entertainment saja. Banyak pula yang memuat unsur pendidikan.

Namun masalahnya gadget kini menguasai manusia, sehingga muncul ketergantungan padanya.

Bagi anak balita, gadget jadi senjata utama supaya tidak rewel. Anak-anak kecil yang duduk di stroller, bahkan masih dalam posisi setengah tidur, memainkan game di tabletnya sementara pengasuhnya mendorong stroller tersebut. Bukannya dilatih jalan, melihat keadaan sekitar, malah mengukung diri dalam stroller dengan mata terpaku ke layar. Ngga bayangin gimana besarnya, karena mata itu kalau sejak kecil tidak dilatih melihat jauh jadinya ya seperti saya, mata empat. Tapi kasus saya bukan main game, tapi ngabisin film silat berjilid-jilid banyaknya šŸ™‚

Nanti begitu sampai di restoran, duduk di kursi bayi, mulai lagi tablet dikeluarkan. Fungsinya supaya yang dewasa bisa makan dengan tenang, sementara anak asyik main sendirian. Sudah tidak terlibat dalam keakraban di meja makan, kesempatan berkumpul bersama yang mungkin hanya satu-satunya itu jadi terlewat. Anak-anak ini hanya membuka mulutnya untuk memakan makanan yang disuapkan pengasuhnya, tanpa melihat apa isinya, mengunyah tanpa menikmati rasanya karena begitu fokus ke permainannya, dan mungkin ada juga yang langsung telan saking asyiknya. Tidak ada lagi kerewelan anak di meja makan, atau gaya makannya yang berantakan. Sesuatu yang melatih dia untuk makan dengan rapi kelak.

Gedean dikit, ada saja yang sudah melepas anak usia sekolah dasar untuk bermedia sosial. Dengan mengijinkan mereka melakukannya, berarti kita seperti melepas mereka di tengah kerumunan orang. Ngga tahu kalau ada orang jahatnya, ngga tahu itu kumpulan perampok apa bukan, atau ada teman yang akan menipunya. Banyak kasus deh, karena kurang pengawasan, anak menjadi terisolir dari keluarganya sendiri, ngga tahu kalau hal itu bahaya, dan begitu sadar sudah merasa semua terlambat. Padahal dengan dukungan keluarga, mestinya hal itu bisa diatasi.

Akan halnya ruang berbincang, seperti pada BBM atau Whatsapp, sebagian orang tua masih bisa kendalikan dengan mengenal siapa yang diajak bicara di ruang tersebut. Namu hati-hati mesti cek juga isi percakapan, agar tidak mengarah ke hal-hal yang belum sepantasnya. Selain itu perhatikan waktu juga, agar tidak terlalu banyak waktu terbuang untuk membicarakan hal yang kurang penting, karena bagaimanapun berbincang langsung itu lebih baik.

Tidak ada yang bisa menggantikan hubungan langsung dengan manusia, tanpa melalui gadget. Game yang menarik adalah yang bisa melatih kemampuan motorik dan otak mereka, bukan hanya olahraga jempol dan kecepatan mata. Diskusi menarik dilakukan jika masing-masing bisa bertanggungjawab terhadap apa yang diperbincangkan, bukan sembunyi di balik ruang steril. Merasakan sentuhan, aroma, mimik wajah, di dalam situasi yang mungkin ngga sepenuhnya enak, pastilah memberi kesan dan pengalaman yang berbeda.

Anak-anak itu tidak membutuhkan gadget untuk hidupnya. Saat mereka diajak jalan-jalan, tujuannya untuk melihat dunia luar, karena selama ini mereka lebih banyak di rumah. Atau saat mereka di meja makan, itu saat mereka meniru contoh baik ayah dan ibunya. Saat mereka rewel, perlu dicari sebabnya kenapa. Kalau karena bosan maka mengamati dan bermain adalah jawabannya, juga diajak berkomunikasi. Kalau bukan bosan pasti ada sesuatu yang mengganggunya, entah sakit atau lapar, dan gadget ngga akan mengenyangkannya.

Bagi anak yang lebih besar, perlu diajarkan untuk menggunakan gadget sebagai komunikasi langsung. Berbicara lebih baik daripada mengetik pesan. Dengan bicara kita bisa menebak kondisi hati lawan bicara, memperjelas yang belum jelas, dan menikmati suara itu lebih menyenangkan daripada membaca kata-kata yang manis. Kata-kata yang mungkin kalau diungkapkan langsung malah ngga keluar. Beneran loh, banyak orang bisa bikin puisi, tapi sedikit yang berani deklamasi *ngacuung šŸ˜€ *

So, let’s talk šŸ™‚
***
IndriHapsari

Advertisements