Yang Kumau Hanya Kamu

man~RIO~

‘Kenapa sih kita ngga bisa berteman biasa saja?’

Aku terdiam. (Biasa gimana, Dea..andai kamu tahu kalau aku ngga akan pernah bisa ‘biasa’.)

‘Kaya yang lain itu loooh. Aku kirim SMS, trus kamu bales. Aku telpon, kamu angkat. Di kelas, ngga perlu kucing-kucingan. Kalau aku duduk depan, ngapain kamu terus pindah ke belakang. Trus kalau ketemu di kantin, bisa-bisanya ya kamu berbalik pergi? Begitu antinya kamu sama aku?’

Aku menatapnya dengan sedih.
(Kamu pikir aku ngga mau Dea? Bersamamu..bukan hanya mengamatimu dari jauh?)

‘Bukan begitu…’ jawabku pelan.
(Sungguh ku benci keadaanku sekarang. Ingin kuungkap perasaan, tapi tak boleh…tak bisa…)

‘Lalu, apa dooong?’ wajah bingung Dea menghiasi mataku. Kini dia sudah melipat tangan.
‘Sama yang lain kamu bisa kok. Santai aja lagi sama aku. Aku ngga gigit kok…’
(kini kamu meringis lucu. Ugh, ingin kusentuh ujung hidungmu ..)

‘Terus kenapa De, kamu mesti tanyakan itu? Bukannya aku hanya satu dari sekian banyak temanmu? Ngga ada aku, ngga masalah kan buat kamu?’ aku coba psikologi membalik keadaan. Alih-alih menjawab pertanyaan, kucoba ajukan pertanyaan balik.

‘Ya masalah dong, Riooo…kamu kan teman aku sejak SMA, trus sekarang kuliah di tempat yang sama. Kenapa gituh dulu pas SMA akrab banget, eh begitu di sini malah jauh-jauhan. Padahal kita kan sama-sama perantauan. Gimanapun, meski aku punya banyak teman baru, tetep aja beda lah, kumpul sama saudara seperjuangan’ lagi-lagi cengiran lucu yang menghiasi wajahmu.

(Dea…..)

‘OK deh kalau gitu..’ akhirnya aku mengalah ‘Aku biasa aja kok De. Mungkin pas itu aku ada perlu, jadi ngga bisa bales SMS, terima telpon, atau ketemuan. Di kelas juga biasa aja kok. Gini deh, sebagai permintaan maafku, mulai besok aku jemput yaaa? Semester ini kamu banyak kuliah pagi kan? Pulangnya, nanti kita lihat deh, siapa nungguin siapa. Eh, kamu punya helm kan?’

Dea menggeleng tegas. ‘Ngga punya. Tapi bukan itu masalahnya Rioooo. Aku ngga minta dijemput. Aku cuma mau, kita berteman biasa, ngga menghindar kaya gini…’

(Dea…..)

‘Iya…aku tahu. Udah deh, ngga usah dibahas lagi yaaa…pokoknya mulai besok aku jemput kamu. Helmnya biar aku pinjam dari teman kosku’

Setelah bertanya ’emang ngga ngerepotin’, Dea meninggalkan aku sendirian di kantin.

Aku. Pikiranku. Perasaanku.

Abang pernah berkata, hubunganku dengan Dea lama-lama bisa mengubah persahabatan yang ada. Dea memang temanku sejak lama. De yang perhatian. De yang menemaniku saat dihukum di tengah lapangan. De yang memberikan bekalnya saat melihatku kelaparan. De yang menyelamatkanku saat dikejar-kejar guru. De yang bersorak gembira saat ku memenangkan lomba…

De yang ngga tahu perasaanku.

Bahwa sejak satu demi satu peristiwa yang terjadi, aku mulai merindukan sapanya di ponselku. Ku sengaja datang paling pagi untuk mendapatkan senyum manisnya pertama kali. Kadang malah aku berharap dihukum guru agar dapat simpatinya (Kini kamu tahu kenapa aku nampak bandel betul kala itu).

‘Kalau suka dia, bilang aja’ suatu kali Abang bilang begitu, saat dia memergokiku sedang memandang foto Dea, yang diam-diam kuambil dengan kamera ponselku.

‘Ngga bisa, Bang. Ngga akan kemana-mana. Tuhan kita beda’ jawabku pelan.

Abang menghela napas. ‘Masalah itu lagi ya…dari dulu, ituuu aja masalahnya. Dan sampai sekarang emang belum ada solusinya.’ Abang terdiam sebentar. ‘Tapi pernah kepikiran ngga, bahwa Tuhan ngasih jodoh itu bukan hanya dari halaman yang sama?’.

Aku merenung. ‘Ngga berani, Bang, nebak jalan pikirannya Tuhan. Kita sih ngejalanin aja perintahNya.’ aku mencoba sedikit filosofis. Abang lawan bicaraku yang terberat, selain Papa.

‘Jalanin, dan menutupi rasa?’ tanya Abang tajam. Selalu tanpa basa basi, menghujam ke sanubari. Mempertanyakan keteguhan hati.

Aku cuma mengangkat bahu.

Ya, jalani saja. Jalani terus, sampai akhirnya ku terjebak sendiri. Tersiksa saat ingin menggapai, tapi tak bisa. Ingin mengucapkan kata ‘Aku suka’ tapi mulut harus tak bersuara. Menatapnya, tanpa pernah bisa menyentuhnya…

Dan kemudian kuputuskan sejak seminggu lalu, cukup sudah siksaan ini. Aku harus berani melepaskannya. Tidak, tidak untuk menemukan penggantinya, tapi pertama adalah untuk menghilangkan rasa (meski aku ragu apa itu bisa). Selamat tinggal Dea, dan kuhapus foto yang kusimpan bertahun-tahun itu dalam ponselku.

Namun sialnya, Dea merasakan perubahan itu. Dan itulah alasannya kenapa ia menemuiku…membuatku terpaksa ungkapkan janji yang sangat berat untuk kutepati. Ini sama saja bunuh diri, hatiku akan tercabik-cabik setiap berdekatan dengannya.

Alasan apa lagi yaaa….

shoes

~DEA~
‘Salam ya..’

Mataku mengarah ke monitor. Jemariku tetap menekan tombol-tombol keyboard. Namun telingaku siaga mendengar perkataannya.

‘Salam sama siapa, Rio?’ ucapku seolah asal saja, tanpa menghentikan aktivitas mengetikku, apalagi sampai menoleh padanya.

‘Riska’ gumamnya singkat.

Aku diam.
(Ternyata kamu sama saja dengan cowok lainnya. Menjadi pengagum Riska. Yang cantik. Yang ramah. Yang pintar. Yang… teman satu kosku.)

‘Kok diam?’ katanya sambil memandangku.

Aku tersenyum kecut. Dengan tetap menggunakan style cuekku, aku berkata,
‘Iyaaa..aku sampaikan’ (Seperti aku selalu menyampaikan semua salam dari cowok-cowok itu untuk Riska. Sekarang…kamu…)
‘Emang sejak kapan sih kamu suka dia?’ (Kupikir kamu beda!)

‘Sejak kapan yaaa..ah, sejak sering jemput kamu di kos!’ katanya bersemangat.
(Dan di saat itulah semangatku menurun tajam…)

‘Dia sudah punya pacar belum, De?’ katanya lagi.
(Kamu ngga pernah tanya itu ke aku!)

‘Belum’ seketika aku menyesal telah menjawab jujur padanya. Tapi..apa pula guna berbohong. (Membohongi diri bahwa rasa yang kau punya adalah untuk Riska, dan bukan untukku…)

‘Kalau gitu, salam ya’ ia ulangi lagi salamnya. Aku hanya mengangguk pelan.
(Rasanya cukup sampai di sini untuk hari ini. Aku ingin menangis.)

‘Rio, aku pulang dulu ya..’ aku menutup laptop, dan memasukkannya ke tas .
(Pulang..cepat pulang..aku butuh menyendiri di kamar…)

‘Eh, ku antar!’ Ia pun bersiap hendak pulang.

Aku menggeleng. ‘Ngga perlu’.
(Malah bikin tambah sakit hati. Mungkin kau antar aku hanya untuk basa-basi. Agar bisa bertemu Riska.)

Ia mengernyit heran. ‘Halaah..biasanya juga mau. Yuk!’ tegas ia berkata.
(Itu yang aku selalu suka darimu. Sejak kita satu kelas bersama. Praktikum bersama. Mengerjakan project bersama).

Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku mengikutimu ke parkir sepeda motor. Membonceng di belakang, seperti biasa setiap hari kau antar jemput aku.
(Namun kali ini beda. Karena kini ku tahu apa yang kau rasa. Rasa yang bukan untukku.)

‘De, ngga pegangan pinggang? Nanti jatuh loo…’ ia mengingatkan di balik deru motornya. Dengan berat hati kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Pelan kusandarkan kepalaku di punggungnya.
(Punggung yang akan ku rindu…Ternyata kita…
….memang teman biasa….)

***

~RIO~
‘Sial!!’

Sampai kosku, dengan kesal kulemparkan kunci motorku ke ranjang.

***

flower

~DEA~

Ngga boleh nangis.

Aku menggelengkan kepalanya dengan gusar. Bangun pagi, membuka mata, yang aku ingat pertama adalah Rio. Rio yang kemarin mengatakan suka sama Riska, teman kosku. Masalahnya, aku juga suka Rio.

Aku membuka jendela kamar. Sinar matahari nampak malu-malu memasuki kamar yang gelap. Kebiasaanku memang mematikan lampu selama tidur. Tadi malam tidurku agak telat. Memikirkan Rio.

Rio lagi.

Rio yang rajin mengantar jemput selama kuliah ini karena sama-sama perantauan. Apakah karena tiap hari ketemu menyebabkan aku jadi bingung seperti ini?

Ngga juga. Sebabnya karena Rio baik. Waktu adalah harta manusia paling berharga. Dan Rio selalu memberikannya untukku. Konyol juga, bukan saudara bukan pacar, tapi setiap aku butuhkan, selalu ada Rio di sampingnya. Kalaupun tidak bisa, Rio akan menelepon, atau mengirimkan SMS, hanya untuk mengetahui, bagaimana keadaanku.

Tapi semua ini akan berubah, jika Rio jadian dengan Riska.

Waktunya akan dihabiskan untuk menemani Riska. Dia pasti tidak akan enak kalau menerima telepon dariku, saat bersama Riska. Dan apa nanti Riska tidak cemburu jika Rio banyak menghabiskan waktu denganku?

Maka, kemarin aku katakan pada Rio, mulai hari ini ngga usah antar jemput lagi. Memang kok, lain di mulut lain di hati. Dan membohongi hati itu, sakitnya setengah mati. Rio, diam saja, sebelum mengiyakan. Kemarin, adalah saat terakhir Rio bisa mengantarkanku pulang.

Aku menghela napas. Pagi tanpa harapan bertemu Rio, kok terasa lebih berat ya…

Aku membuka pintu kamar hendak ke kamar mandi. Enak mandi pagi-pagi, penghuni kos lain belum mempergunakannya. Mbak penghuni kamar sebelah sedang mengunyah rotinya, sambil nangkring di kursi dan membuka bukunya. Dia tersenyum saat melihatku, kemudian kembali menyimak bukunya. Mau quiz mungkin…

Aku mengambil handuk dari rak, kemudian menuju kamar mandi yang terletak di belakang. Pintunya masih tertutup. Semoga ngga lama deh yang ada di kamar mandi ini..

Sambil bersandar di dinding, aku mulai memikirkan bagaimana caraku sampai di kampus, tanpa Rio. Angkot nomor berapa ya, nyegatnya di…? Atau jalan kaki saja ke kampus? Ha, ngga mau deh! Selain jauh, biasanya kendaraan yang lewat pada ngebut, karena jalanan itu cenderung sepi. Selama ini kan Rio yang menjagaku…

Rio lagi.

Aku mendesah. Pikiranku penuh dengan Rio dan segala aktivitas bersamanya. Payah, selama ini kebersamaan kita rupanya melibatkan hati. Begitu hilang, ada hati yang mencari-cari..

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Riska. Si cantik yang disukai Rio. Ya pantas saja, siapa yang tidak mau dengan teman kosku ini. Hidungnya mancung, matanya bulat besar, kulitnya bersih. Bahkan saat kondisi baru keramas seperti ini, dengan rambut basahnya, Riska masih terlihat cantik.

‘Eh Dea, mau pakai? Sorry ya lama’ Riska tersenyum manis padaku.

‘Ngga apa’ jawabku kaku. Haruskah kusampaikan salam Rio padanya? Otakku mengatakan sebaiknya kukatakan, tapi hatiku bilang jangan.

Aku bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah kututup pintu, kubuka keran shower. Meski siraman airnya dingin, airnya terasa asin.

Aku tak yakin dengan hari-hariku nanti…

***

sumber gambar: pinterest.com

Advertisements