Kisah Spidol dan Bibir #2

1358311358171524769
Bibir memandang profile picturenya dengan puas. Gambar bibir merekah ini mungkin yang membuat banyak akun lain menghubunginya lewat jalur tersembunyi, jalur inbox. Jadi hanya Bibir, pengirim pesan, dan Admin yang tahu apa isi pesan itu. Sebagian mengajak berkenalan, sebagian menebak-nebak profil sebenarnya bak detektif, ada juga yang terus terang mengajaknya berhubungan. Yeah, dengan gambar seperti itu, siapa yang tidak penasaran ingin tahu siapa si pemilik bibir seksi…

Bibir sendiri rutin menulis artikel di suatu media keroyokan. Tulisan tentang kesehariannya sebagai mahasiswa di perantauan. Jika dia sedang gundah gulana, maka rubrik puisi akan dipilihnya, untuk mengekspresikan kesedihannya. Identitas dirinya cukup singkat: ’sedang sendiri’.

Temannya sudah banyak. Maklum selain rajin menulis, dia juga rajin memberi komentar. Salah satu akun yang rajin ia komentari artikelnya, adalah milik Spidol. Entah, ada sesuatu yang selalu menariknya untuk membaca semua yang dituliskan Spidol. Pandangannya, kedewasaannya, sikap hidupnya, membuat Bibir selalu ingin tahu, siapa yang ada di balik akun itu. Profile picturenya memang hanya menyuguhkan gambar spidol. Namun bagi Bibir, hal itu sudah cukup untuk mencerahkan hari-harinya.

Awal perkenalannya, Spidol rajin berkomentar di artikelnya, menyampaikan cara pandangnya yang sungguh mengagumkan. Tak segan-segan Spidol juga membelanya jika ada komentar yang menyerang. Sungguh, Bibir merasa dilindungi di dunia yang tidak nyata ini.

Sayang sekali Spidol bukan salah satu pria yang mengiriminya pesan untuk berkenalan. Sombong sekali dia! Namun lama-lama Bibir penasaran juga, karena sudah cukup ia memendam rindu jika Spidol tak muncul selama beberapa waktu. Dengan memberanikan diri ia mengirim pesan pada Spidol, kenapa kok sudah jarang muncul.

Setiap hari diceknya inbox yang ada, apakah ada pesan baru yang masuk. Hari-harinya terasa begitu berat mendapati inboxnya hanya berisi pesan dari akun-akun lain. Untunglah seminggu kemudian balasan dari Spidol masuk, meminta maaf tidak sempat membalas karena sibuk. Bibir berterus terang ingin mengajaknya bertemu, dalam hati ia ingin menjalin hubungan dengan si pemilik akun misterius itu.

Awalnya Spidol menolaknya, berbagai alasan ia utarakan. Namun ketika Bibir terus memintanya, akhirnya ia menyerah.


‘Pakai baju merah ya’ katanya meminta. ‘Dan tolong jangan kecewa ketika melihatku’.
Bibir tak peduli, itu hanya cerminan tak percaya diri Spidol.

Di waktu dan tempat yang telah ditentukan. Bibir menunggu pujaan hatinya datang. Oh, ia akan membahas artikel Spidol terbaru, betapa menariknya topik itu. Tentu akan berjam-jam mereka membahasnya, karena ia yakin pembicaraan dengan Spidol akan sama mengasyikannya seperti tulisannya.

Bibir’ sapa seseorang. Bibir menoleh. Nampaklah olehnya seorang bapak-bapak tua berdiri di belakangnya. Bajunya lusuh, wajahnya tirus, hanya kacamata yang membuat penampilannya lebih intelek.

‘Bibir, ya? Saya Spidol.’ 
Hampir saja Bibir menyemburkan cappucinonya. Hah? Ngga salah nih? Masa’  Spidol bentuknya seperti ini? Segala ingatan tentang topik yang akan dibahasnya segera menguap.

Spidol duduk di depannya, menatap Bibir sambil tersenyum.
‘Kaget ya? Maaf kalau membuatmu kecewa. Saya ya begini ini, tapi yang penting kan tulisan saya’.

Bibir diam saja. Kalau begini sih mending ngga usah tahu orangnya, daripada bikin ilfill. Mending baca tulisannya saja. Bibir membunyikan handphonenya diam-diam.

‘Maaf ya Om, sebentar,’ Bibir menempelkan handphone di telinganya ‘Apa, Pa? Penting banget? OK deh Pa, aku kesana.’ Sambil memasang muka bersalah, Bibir meminta maaf pada lawan bicaranya.
‘Maaf ya Om Spidol, Papa menyuruh saya segera pulang. Mungkin nanti kita sambung lagi ya…’. Tanpa menunggu jawaban Spidol, Bibir mengambil tasnya dan melangkah pergi dengan cepat.

Spidol tersenyum sendiri. Dengan santai dilangkahkannya kaki ke mobil Pajero yang telah menanti. Dibukanya pintu, dan seorang anak muda yang duduk di kursi tengah menatapnya sambil tersenyum. Dibukanya kacamata hitamnya dari wajahnya yang tampan ‘Gimana Pak?’

‘Biasa Den…kabur…’ katanya sambil terkekeh-kekeh.
Anak muda itu tertawa. ‘Ya sudah Pak, kita ke tempat pertemuan berikutnya ya. Kali ini dengan akun Mata

***
Maaf jika ada kesamaan foto profile ^^
#klik untuk Kisah Spidol Dan Bibir lainnya

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s