Percaya Ngga Percaya

shatterd mirror

Saya tidak percaya takhayul. Saya tidak percaya ada dunia lain selain nyata dan maya. Saya tidak percaya adanya setan, jin dan teman-temannya.

Mungkin itu penyangkalan yang saya lakukan, karena saya paling ogah berhubungan dengan mahluk-mahluk dari dunia lain, atau apapun yang ngga bisa dinalar. Sejak kecil dididik dengan ‘semua harus ada alasannya’, kemudian sekolah dan bekerja di ‘semua harus ada logikanya’ menyebabkan saya semakin menjauh (dan mungkin dijauhi) oleh hal-hal ini.

Namuuuun, semua berubah ketika saya menikah.

Heran ya, kok bisa menular. Suami memang sejak kecil sudah punya bakat melihat hal-hal yang tak terlihat (bukan ngintip orang mandi lo yaaa^^). Lalu dia bisa merasa. Lalu dia bisa mimpi kejadian di masa mendatang. Lalu dia bisa tahu ada yang akan meninggal.

Hiy!

Contoh kalau kami pulang ke Bali, ada satu pura di sana, tempat upacara Ngaben (pembakaran mayat) dilakukan. Nah kalau kita lewat sana, harus mengklakson sebagai tanda ‘permisi’. Saya tanya, ‘memang kenapa kalau ngga?’. Ternyata ia pernah alpa melakukan, dan nyasar sampai ke desa yang lain. Padahal desa tujuannya mungkin tidak sampai 1 km dari pura tadi. Tapi dia melaju sampai kira-kira 5 km, dan disadarkan ketika ada penduduk desa lain yang menyapanya. Ampuh. Sejak itu dia selalu ingat untuk selalu melakukan kewajibannya.

Di lokasi yang sama, saat itu kami akan menginap di rumah kakek yang sudah lama ditinggalkan. Begitu masuk kamar, anak saya yang masih bayi nangiiis terus, ngga tahu kenapa. Ibu mertua saya, dengan sigap mengambil pasir di halaman, dan menaburkannya di kamar, sambil mengucapkan salam, yang intinya ‘permisi’. Anak saya langsung diam, dan tidur semalaman.

Teman saya cerita, anaknya yang masih balita mengalami bisulan. Jadi rewel dan nangis terus. Akhirnya ia slametan klepon, supaya anaknya sembuh. Sambil memakan klepon sebanyak 5 bungkus, dia ucap ‘biar sakitnya diambil mama ya nak’. Eh, beneran! Anaknya sembuh, bisulnya pindah ke mamanya, 5 biji! Ternyata, suaminya juga mengalami hal yang sama, setelah memakan klepon 2 biji.

Haduuh, maunya sih ngga percaya. Tapi kok ya kejadiannya di depan mata….

Nah, mengenai masalah ‘keahliannya menular’ke saya, pertama adalah soal mimpi. Waktu kami baru pindahan rumah di Surabaya, kan ada hari baiknya tuh, dimana kami harus menginap semalam, slametan pakai bubur merah putih satu piring. Lainnya dikirim ke tetangga. Saat tidur malam itulah, saya didatangi dua wanita, yang protes ke saya ‘Kok cuma satu sih? Kita kan berdua!’. Terbangun, saya ceritakan ke suami. Akhirnya slametannya diulang, bubur merah putihnya jadi dua, dan kirim ke tetangga lagi.

Kedua, soal feeling ada yang mau meninggal. Tanda-tandanya, kejatuhan cicak. Suami sudah ‘mencontohkannya’ dengan kejatuhan cicak, dan lusa kakeknya meninggal, sedang saya juga mengalami hal yang sama, dengan berita sepupu suami meninggal, seminggu setelahnya. Mau jauh-jauh dari cicak bagaimana, masa’ saya mesti lihat ke atas terus.

Mungkin ini kebetulan yaaa, tapi percaya ngga percaya…ya adaaaa aja kejadiannya.

***
Sumber gambar: intisari-online.com

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s