Kamu Pasti Ngga Tahu Aku/Ternyata Kamu

Kamu pasti ngga tahu aku.

Aku, masuk dalam gerombolan itu. Tak banyak bicara sih. Aku lebih suka menenggelamkan diri dalam buku. Namun, kalau ada kamu, mataku akan diam-diam melirikmu.

Deretan kalimat ini tak lagi menarikku. Dari sudut mataku, ku pindahkan senyummu ke lembar demi lembar buku. Kututup, dan kubawa ke rumah. Agar ku dapat menikmatinya, saat kau tak ada.

Kamu pasti ngga tahu aku.

Aku, biasa saja. Cenderung kaku kalau bicara. Apalagi sama kamu, yang selalu dikawal teman-temanmu. Teman perempuan mengelilingimu. Teman-temanku, laki-laki, sering mengusilimu. Mungkin karena mereka ingin dapat perhatianmu.

Kamu pasti ngga tahu aku.

Aku, hanya menyerahkan nasibku pada kebetulan. Kebetulan kamu lewat di depanku, itu saat ku dekat denganmu. Kebetulan ku melihat tasmu di dekatku, kujaga buat kamu. Kebetulan aku tahu si raksasa itu mau menggodamu, ku coba menempelnya. Untung dia urung melakukannya.

(Kamu pasti ngga tahu, betapa gemetarnya aku waktu itu)

Aku, yang hanya bisa menatapmu dari jauh. Aku, yang membawa pulang senyummu, lalu melekatkannya pada kelopak mataku. Agar saat ku terpejam dan semuanya gelap, senyummulah yang terakhir kulihat. Aku, yang akan selalu ada untukmu.

Kamu pasti ngga tahu aku.

***
10 tahun kemudian….

Melihat-lihat album foto masa kecil, ternyata mengasyikkan. Teringat kejadian-kejadian lucu, keusilan yang dilakukan temanku, dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah-wajah polos itu. Saat melihat lembaran-lembaran foto, baru ku sadari, kok selalu ada…kamu?

Kamu muncul di foto pertama, agak jauh dariku, tapi terlihat kau melirikku. Di foto kedua, kau berdiri di belakangku, menghalangi si badan besar yang suka menggodaku. Di foto berikutnya, tidak ada wajahmu. Hanya seorang anak yang berpakaian sama sepertimu, sedang memungut tasku yang jatuh.

Kuperiksa lagi foto lainnya. Ya, ada kamu dimana-mana. Tapi, aku tak menyadarinya. Aku saja sekarang lupa namamu siapa. Tapi aku ingat kau salah satu dari gerombolan anak laki-laki, yang beraninya menyapa kami anak perempuan, jika sedang bersama saja. Kau sendiri selalu tertunduk malu jika bertemu muka denganku.

Tapi, kenapa kamu ada dimana-mana? Seakan..menjagaku? Kamu halangi si badan besar itu, padahal badanmu jauh lebih kecil. Kamu perhatian aku akan kehilangan tasku, maka kau jaga selama aku sedang berfoto bersama. Dan, kamukah itu, yang terlihat melirikku? Cemas seakan takut ku terluka?

Membuka album foto ini, menjadi penyesalan bagiku. Baru kusadari,

…ternyata kamu yang selama ini menjagaku…

20130115-030456.jpg

***
7 tahun yang lalu, dalam sebuah diary

Aku antri wastafel. Depanku ada cowok antri juga. Bajunya ijo pake kerah. Celananya kotak-kotak selutut. Pake crocs buaya.

Dia noleh. Kayanya pernah liat dia…dimana yaaa. Trus dia senyum.

Kamu duluan‘ Aku bingung. Trus dia pindah di belakangku. Oh aku disuruh cuci tangan duluan.

Akhirnya giliranku. Sambil cuci tangan, di kaca aku ngintip si baju ijo yang masih nunggu di belakangku. Dia lagi lihat aku. Senyum. Ih aku jadi malu.

Selesai, aku bilang makasih sambil senyum. Dia juga senyum. Aku pergi.

***
(saat kita menoleh ke belakang, betapa aneh cara Tuhan menyusun jalan…)
.
sumber gambar: gailmcwilliams.com

Advertisements