Menghadapi Pelecehan Seksual di Kantor

Gemas juga saya membaca jawaban nyeleneh Daming Sanusi tentang hukuman bagi pemerkosa. Ngga mau saya menuliskannya disini, ngga tega kalau dibaca oleh korban pemerkosaan. Saat ditanya hal tersebut, Daming sedang dalam proses wawancara untuk posisi Hakim Agung. Dari kejadian tersebut, saya melihat hingga pada proses yang terpenting dalam hidupnyaPUN, ia mampu melontarkan jawaban ngawur seperti itu, APALAGI dalam kesehariannya?

Biasanya orang kan jaim ya, kalau lagi diwawancara, apalagi posisi yang diincarnya ini pakai embel-embel‘Agung’. Lah, ini sih kagak! Yang kedua, jawabannya disambut dengan ‘gembira’ oleh yang mendengarnya, yaitu para Komis III DPR. Tandanya? Pada ketawa tuh! Menandakan moral mereka ya setali dua lah sama yang diwawancara. Mau ajukan keberatan? Ke siapa? Wong yang ngetes ya sama saja.

Daripada tambah mangkel, saya jadi teringat dengan materi yang saya ajarkan di kelas, tentang Sexual Harrasment atau Pelecehan Seksual. Berasal dari buku karya Michael Levy dan Barton A. Weitz, Retailing Management, Levy dan Weitz memasukkan bagian ini karena pekerja ritel juga harus dilindungi keamanan dan kenyamanannya dalam bekerja.

13582281501066301687
zrawa.com

Yang dimaksud dengan pelecehan seksual di tempat kerja, bukan masalah perkosaan saja. Namun juga memperlihatkan foto-foto yang syur, memberikan komentar yang tak senonoh ataupun body language yang tak senonoh (misal kedip-kedip, melet-melet), menatap dengan birahi, dan membuat suasana kerja tak nyaman.

135822829442983163
Levy & Weitz, Retailing Management

Dalam satu episode serial televisi Outsourced, perusahaan asing yang beroperasi di India, seorang boss dari Amerika mendapat teguran, karena ada satu anak buahnya yang mengalami pelecehan seksual, …oleh dia sendiri! Dia kaget dooong, perasaan ngga ngapa-ngapain ke anak buahnya. Ternyata…kebiasaan dia yang dengan ramahnya memegang bahu anak buahnya, menjadi boomerang baginya. Bagi si boss Amerika, pegang bahu itu untuk penambah semangat. Sedang bagi si anak buah India, pegang bahu itu pelecehan seksual.

Berhubung hukum di Indonesia sering GJ, baik dari segi undang-undang maupun pelaksanaannya, artikel inibisa menjadi panduan bagi korban yang mengalami pelecehan seksual. Dari Levy sendiri, ia mengambil penelitian Profesor Ross Petty dan John Farr tentang “Sexual Harrasment: Handling the ‘He-Said-She Said’ Hot Potatto” untuk menangani kasus penanganan seksual di perusahaan. Jadi mungkin yang berkepentingan pihak HRDnya ya.

Langkah pertama yang harus dilakukan tentu buat dulu peraturannya, termasuk hukuman yang akan didapatkan jika hal tersebut dilakukan. Khusus intern perusahaan saja, sebagai landasan melakukan suatu tindakan.

Langkah kedua adalah tanggapi dengan serius laporan yang diberikan. Mengadukan saja sudah suatu hal yang sulit dilakukan, sehingga hargai setiap laporan yang masuk. Akses laporan juga harus terbuka lebar. Dalam serial Outsourced, anak buah bisa menelepon ke boss besar di Amerika, secara gratis dan anonim.

Langkah ketiga, tanyakan pada korban :
– Siapa saja yang terlibat
– Apa yang dilakukan dan dikatakan pelaku
– Kapan hal itu terjadi. Jika hal tersebut bukan yang pertama, kapan yang sebelumnya terjadi
– Dimana hal itu terjadi
– Apakah ada saksi
– Apakah ada pihak lain yang diberitahu
– Apakah ada korban yang lain
– Bagaimana reaksi korban terhadap tindakan pelaku
– Apakah korban mau bicara dengan pihak lain dalam perusahaan

Langkah keempat, dokumentasikan sesi wawancara tersebut, atau form yang diisi oleh pihak pelapor.

Langkah kelima angkat dalam rapat dengan level jabatan yang lebih tinggi. Berlandaskan peraturan dan bukti-bukti yang didapat, harus ada penyelidikan lebih lanjut.

Berdasarkan langkah-langkah di atas, maka sebagai korban, yang bisa dilakukan adalah:
– Harus berani melaporkan ke pihak yang berkepentingan. Kalau belum berani, ceritakan ke rekan kerja yang terdekat dan bisa dipercaya. Melaporlah bersama-sama agar lebih berani.
– Mengumpulkan saksi dan bukti. Kalau perlu jebak si pelaku.

Tentu tidak adil jika kita tidak melihatnya dari dua sisi, yaitu pelaku dan pelapor. Karena itu tindakan selanjutnya adalah menghadirkan saksi dan si pelapor itu sendiri. Siapa tahu masalahnya adalah kesalahpahaman seperti di serial Outsourced.

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s