Telat Belajar?

writer

Kata orang sih, better late than never.

Karena itu di usia saya yang tak lagi muda ini, keinginan untuk belajar sesuatu yang baru harus cepat diakomodir. Kalau ngga, ceritanya bakal sama, terlupakan dan teralihkan dengan kepentingan-kepentingan lain.

Contohnya sekarang saya merasa menyesaaal sekali, kenapa dulu pas pelajaran Bahasa Indonesia, tidak pernah menyimak dan memahami sebenar-benarnya, aturan penulisan dan gimana caranya buat kalimat yang enak dibaca. Mungkin sebagian juga salah model pengajaran kita, dimana murid diminta untuk menghapalkan, tanpa menerapkan kaidah berbahasa.

Sekarang jadi kagum sendiri sama Bahasa Indonesia. Bicara diksi, ampun deh, ternyata banyak yang saya belum ketahui. Maka saya jadi gampang kagum pada mereka yang bisa memberikan wawasan di diksi. Saya Tanya, atau searching sendiri di KBBI atau artikata.com, apa sih artinya.

Lalu cara merangkai kalimat, untuk beberapa pengarang hal ini sangat mudah. Mereka bisa merangkai dengan indahnya, sehingga pembaca mau tidak mau harus mengikuti per kata, bukan model skimming seperti yang biasa saya lakukan. Bahkan, bagi saya, penerjemah yang menerjemahkan buku dalam bahasa asing menjadi Bahasa Indonesia juga jagoan. Mereka bisa tetap menjaga alur, dan keindahan berbahasa sehingga karya yang best seller di dunia, menjadi best seller juga di Indonesia.

Kenapa kok ingin belajar menulis, terutama karena ternyata saya suka menulis! Sehingga lebih baik lagi kalau saya bisa terus memperbaiki diri, dengan cara keep writing dan belajar cara menulis yang baik.

Jaman sekarang, keinginan untuk belajar menulis banyak difasilitasi oleh internet. Kalau rajin mencari, akan ada banyak artikel, dari sisi yang pengalaman atau praktisi, dengan mereka yang baru dapat konsep dari dosennya, atau bahkan pengajarnya sendiri yang memberikan tips-tipsnya. Padukan saja, kita bisa mengolahnya menjadi masukan berharga bagi ilmu menulis kita.

Menurut saya, menulis itu bukan pekerjaan ecek-ecek, kalau kita menganggapnya begitu. Menulis bukan hanya ada ide dan tuliskan, tapi sudah ada kerangka dan pesan yang ingin disampaikan. Itu sebabnya, saat menulis reportasepun saya tidak bisa lepas dari yang namanya keberpihakan, atau menitipkan pesan dalam tulisan.

Kembali lagi pada pelajaran menulis, setelah ditolak suami untuk menjalani sekolah formal tentang penulisan, akhirnya saya coba ikuti kelas menulis di Kampung Fiksi. Kampung Fiksi sendiri sudah menarik perhatian saya karena tips-tips menulis yang diberikan, sehingga semua bisa belajar. Berkarya itu perlu, namun berkarya yang baik lebih perlu. Sehingga seharusnya penulis terus belajar untuk mengembangkan dirinya. Selain itu ada juga Fiksi Lotus, yang selain menampilkan karya penulis dunia, juga memberikan tips dari para penulis tenar tersebut. Lalu ada juga Lakon Hidup, yang menampilkan cerpen-cerpen yang dimuat di koran nasional setiap hari Minggu. Ada yang ngga ngerti sih, tapi belajar dari yang sudah keren kan boleh banget 🙂

Yah, tidak ada kata telat, asal kita mau berusaha ^_^

sail

***

IndriHapsari

Gambar : pinterest.com

Advertisements