Seni Menjadi Kaya

(Ditulis oleh orang yang belum kaya)

Disclaimer dulu. Sebelum ada yang menganggap saya kurang bersyukur atau langsung berkata, “Ucapan adalah doa,” izinkan saya mengakui satu hal: saya memang belum kaya. Pengakuan ini bukan bentuk rendah diri. Justru karena belum kaya, saya merasa lebih bebas mengamati. Tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan cara menjadi kaya, melainkan mencoba memahami bahwa ternyata menjadi kaya itu satu hal, sedangkan memiliki seni menjadi kaya adalah hal yang berbeda. Orang bisa kaya karena kerja keras, kecerdasan, atau mungkin memang berkat tangan dinginnya (untuk menjelaskan faktor X penyebab kesuksesannya). Tapi menjadi orang kaya yang “nyeni”, tanpa harus menjadi seniman, saya rasa tidak semua orang mampu.

Buku The Science of Getting Rich alias Seni Menjadi Kaya

Saya sering melihat buku The Science of Getting Rich  atau diterjemahkan jadi Seni Menjadi Kaya (Dan Bahagia Dengan Kekuatan Ide Dan Pikiran) karya Wallace D. Wattles yang muncul di media sosial maupun di rak toko buku. Jujur saja, saya belum pernah membacanya. Yang membuat saya tertarik justru judulnya. Siapa yang tidak penasaran dengan buku yang menjanjikan ilmu menjadi kaya? Karena penasaran, saya bertanya kepada ChatGPT mengenai isi bukunya. Ringkasnya, buku tersebut berbicara tentang cara 

  • membangun pola pikir yang benar terhadap uang, 
  • melihat peluang secara positif, bertindak dengan tujuan yang jelas, 
  • menciptakan nilai bagi orang lain, 
  • tidak terjebak pada mentalitas kekurangan, 
  • membangun kebiasaan yang produktif.

Intinya sederhana: seseorang bisa menjadi kaya jika mampu berpikir secara konstruktif, memiliki visi, dan konsisten bertindak.

Saya sepakat dengan sebagian besar isi ringkasannya. Tetapi saya merasa ada satu pertanyaan yang lebih menarik: 

setelah menjadi kaya, lalu apa? 

Menjadi kaya bukan tujuan akhirnya. Uang memang bisa ditumpuk, tetapi bukankah lebih fungsional kalau uang itu diputar sehingga menghasilkan nilai yang lebih besar? Begitu juga dengan kepintaran. Orang pintar jumlahnya banyak. Namun orang pintar yang tetap rendah hati, berkarakter, dan menggunakan kepintarannya untuk membantu orang lain, jumlahnya jauh lebih sedikit. Tidak sedikit orang yang semakin pintar justru semakin lihai memanfaatkan orang lain demi memperkaya dirinya sendiri. Tujuannya memang jelas, tetapi arahnya keliru. Mungkin itu sebabnya hampir semua film superhero memiliki tokoh villain yang sangat pintar sekaligus sangat kaya. Ya tentu saja, dari mana lagi biaya membangun markas rahasia, senjata canggih, dan pasukan pribadi kalau bukan dari kekayaan yang luar biasa? Yang salah bukan kekayaannya, melainkan tujuan di balik kekayaan itu.

Bagian yang paling menarik bagi saya justru ketika buku tersebut menyinggung tentang menciptakan nilai bagi orang lain. Di sinilah saya merasa letak “seninya”. Kaya sendirian mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi membangun sebuah sistem yang membuat banyak orang ikut berkembang, itu jauh lebih sulit. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk belajar, bekerja dengan layak, berkembang sesuai potensinya, bahkan memiliki harapan bahwa kerja keras mereka akan dihargai secara adil, menurut saya jauh lebih mulia daripada sekadar mengumpulkan angka di rekening. Dibutuhkan kemampuan membedakan mana yang memang harus dilakukan dan mana yang sebaiknya dilakukan. It’s about sense. Dibutuhkan keberanian untuk membangun sistem yang sehat, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat.

Namun jangan salah paham. Saya juga tidak beranggapan bahwa bisnis itu tujuannya harus sosial dan ga untung gapapa. Perusahaan tetap harus menghasilkan keuntungan. Tanpa keuntungan, bagaimana mungkin bisa menggaji pegawai dengan layak, membeli fasilitas baru, membuka cabang, atau mengembangkan usaha? Menjadi dermawan juga membutuhkan modal. Justru keuntungan yang diperoleh secara benar itulah yang memungkinkan sebuah usaha terus hidup dan memberi manfaat lebih besar. Yang menjadi persoalan bukan mencari untung, melainkan bagaimana keuntungan itu diperoleh dan digunakan. Kalau sejak awal diperoleh dengan cara yang tidak benar, lalu dicuci melalui berbagai kegiatan sosial, rasanya nilai manfaatnya tetap tidak sama.

Ada dua tokoh yang membuat saya memahami makna “seni menjadi kaya”. Tokoh pertama adalah Jakob Oetama, pendiri Grup Kompas Gramedia, menciptakan sistem yang melibatkan begitu banyak orang menggantungkan hidupnya di media ini. Semua yang bekerja di garda terdepan, di penerbitan, agen koran, dan yang lebih besar lagi adalah jumlah pembacanya. Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan salah satu direksi Kompas ketika mengikuti sebuah acara marathon yang disponsori oleh Kompas di ICE BSD, kawasan yang juga merupakan bagian dari Grup Kompas. Obrolan kami akhirnya mengarah kepada sosok Jakob Oetama. Sejak kecil saya mengenal nama beliau dari pojok kiri atas koran Kompas, berdampingan dengan nama P.K. Ojong. Yang membuat saya kagum bukan hanya keberhasilannya membangun grup media terbesar di Indonesia, tetapi arah pengembangannya. Dari media massa berkembang menjadi toko buku, hotel, universitas, rumah sakit, hingga berbagai bidang usaha lain yang tetap memiliki benang merah: mencerdaskan masyarakat dan memberikan manfaat yang lebih luas. Saya juga mendengar bahwa beliau memilih untuk tidak masuk ke bisnis pertambangan. Terlepas dari alasan pastinya, saya melihat ada nilai yang ingin dijaga. Kompas bukan hanya membangun bisnis, tetapi juga membangun ekosistem yang menghasilkan manfaat jangka panjang. Bagi saya, itu adalah contoh nyata seni menjadi kaya.

Tokoh kedua adalah Anton Prijatno, Ketua Yayasan Universitas Surabaya. Menurut saya, menjadi dosen sekaligus pengusaha adalah kombinasi yang menarik. Di satu sisi, beliau memahami pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi para mahasiswa yang belajar dan menerapkan apa yang dipelajari sebagai bekal lebih lanjut di pekerjaan. Di sisi lain, beliau juga mampu membangun berbagai unit usaha yang menopang operasional universitas. Hasilnya tidak berhenti pada keuntungan semata, tetapi kembali lagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dosen dan tenaga kependidikan didorong melanjutkan studi, mengikuti seminar dan pelatihan, memperluas jejaring, serta mengembangkan kompetensinya. Beasiswa untuk keluarga pegawai berdasarkan masa kerja merupakan bagian dari usaha perusahaan untuk meningkatkan kualitas supporting systems. Usaha beliau untuk merangkul setiap orang, dipahami dan dimengerti, dicarikan solusi supaya semua bisa bekerja sama, merupakan ciri pengusaha handal. Tingkat pergantian pegawai yang rendah menurut saya juga menjadi salah satu indikator bahwa orang merasa dihargai dan memiliki kesempatan berkembang. Bukan hanya mendapatkan gaji, tetapi juga mendapatkan ruang untuk bertumbuh. Kekayaan di sini dipakai sebagai alat untuk membangun manusia.

Semakin saya mengamati, semakin saya percaya bahwa memperkaya diri sendiri mungkin bukan bagian yang paling sulit. Yang jauh lebih sulit adalah tetap memegang nilai ketika kesempatan memperkaya diri datang. Tetap optimis ketika banyak orang memilih jalan pintas. Tetap membangun ketika orang lain sibuk mengumpulkan. Pada akhirnya, menjadi kaya mungkin bisa dipelajari. Namun memiliki seni menjadi kaya adalah tentang bagaimana kekayaan itu digunakan untuk menciptakan manfaat yang lebih besar daripada sekadar memperbesar saldo rekening. Semoga suatu hari kalau kita menjadi benar-benar kaya, bukan hanya jumlah uangnya yang bertambah, tetapi juga kemampuan kita untuk membuat lebih banyak orang ikut bertumbuh bersamanya.

(IH, edited by ChatGPT)

Komen? Silakan^^