Living In A Box, Gimana Rasanya?

apRT1

Tinggal di apartemen atau flat, mungkin kurang familiar diterapkan di Indonesia, secara tanah di kita itu ada seluas-luasnya. Cuma kalau di kota besar, apartemen jadi pilihan yang harus dipikirkan, terkait dengan lokasinya yang di tengah kota, jadi ke tempat kerja dekat. Tau sendiri ngider di kota besar sama dengan tua di jalan. Tetap sih punya rumah jadi idaman, tapi nunggu duitnya ada, juga sama aja tuh, sampai tua belum tentu terwujud. Habis gimana, kenaikan pendapatan ngga kompakan sama kenaikan harga rumah. Ada juga yang sengaja milih apartemen, terkait keamanan, fasilitas, sama kepraktisan.

Ada beberapa beda tinggal di rumah yang menjejak tanah sama apartemen yang melayang.

Beda pertama biasanya masuk komplek rumah langsung pintu, sekarang masuk komplek apartemen ada petugasnya, bisa mbak resepsionis bisa security. Trus masuk mesti punya kartu akses, kalau ngga silakan tunggu sampai penghuni yang kita kenal ngejemput. Dulu tinggal melangkah udah masuk rumah, sekarang melangkah masuk lift. Karena lantai satu ngga ada buat hunian, biasanya dipake buat kegiatan komersial kaya depot, agen aqua sama gas, minimarket, laundry, dan lain-lain.

Naik lift juga mesti pake kartu, biar ngga sembarangan nyampe di lantai orang. Emang nih keamanan di apartemen jadi nomor satu, selain kartu akses yang cuma penghuni pengelola punya, agen aqua sama gas juga ada yang punya terkait dengan kepraktisan untuk pelanggan. Ngga ngebayangin dong beli aqua galon trus diangkut ke lantai 15? 😛

Tapi terkait beda kedua ini, yang terkait keamanan, punya sisi yang berkebalikan. unit yang terpisah satu dengan lainnya ini menyebabkan penghuninya ngga saling kenal. Aneh ya, dempetan tapi ketemu aja kagak, cuma kedengeran aja suaranya kalau lagi berantem. Salah satu daya tarik apartemen, yaitu ngga ribet ngurusin tetangga, menyebabkan kekacauan yang lain, yaitu apartemen jadi sarang narkoba!

Yang ini beneran, kan yang tinggal ngga cuma penghuni, ada yang cuma nyewain. Nah kalau sudah gitu, siapa yang bisa tau isi di dalam unitnya apa. Kalau nyewa jadi pengedar, kalau pemilik malah bikin pabrik. Hadeuh…bikin jelek citra apartemen aja. Yang lainnya misal nyimpen bini muda, tempat untuk one night stand karena ngga ada yang usil. Pernah dengar juga kan, pembunuhan di unit apartemen dan para tetangga ngga tahu. Ya gitu deh…semua keputusan ada di tangan kita, tinggal kita yang milih, mau perjalanan hidup berbau harum bunga, atau berbau bangkai? Anyway, cari tau dulu apartemen yang mau ditempati itu lingkungannya baik apa ngga. Sama aja sih kaya beli rumah, kalau di dalam kompleks maling ya kita juga ogah.

Trus beda ketiga soal luasnya. Sedih liatnya, kalau biasa tinggal di rumah yang luas. Apartemen 30 m2 itu sudah dua bedroom. Bayangin betapa kecilnya ruangannya, makanya layak untuk 2 atau 3 orang aja. Kalau lebih dari itu, bisa ketemuan terus. Yang susah kalau lagi ngambek, masa mau sembunyi di kamar mandi? 😀 Ruang tamu sama living room merangkap pantry, dan bakal susah kalau masak heboh. Baunya itu loh…kemana-mana. Tapi sebaliknya irit AC, pake satu unit aja udah cukup untuk mendinginkan hari yang panas, asal dibolongin tuh temboknya. Jangan bayangin nyuci baju di sana ya, udah lah ke laundry aja, daripada ngadepin kloset di kamar mandi. Lagian susah juga ngejemurnya, cuma ada ruang terbuka kecil di balkon, yang bersaing sama outdoornya AC.

IMG_4063.JPG

Karena mungil itu pula, interiornya mesti yang multifungsi sama ngga ribet. Jangan ada printilan di meja, itu bikin keliatan berantakan. Semua barang harus masuk laci atau lemari. Karena kecil, ngerawatnya gampang, jadi ngga perlu pembantu. Lagian kamarnya juga ngga ada. Kalau butuh banget house keeping, ada jasanya tuh. Atau bilang aja ke mas CS yang bertugas membersihkan bagian luar unit, dia kapan offnya dan kita minta untuk bersihin unit kita. Setiap ada kerusakan di utilities, misal pipa bocor, atau saluran mampet, bukan kita yang ribut. Tapi hubungi pengelola ntar dia yang ngurusin.

Fasilitas jadi beda yang keempat. Yang pasti semua barang ada dan kita tinggal turun aja nyamperin tu toko yang jualan, atau minta mereka antar. Beberapa malah buka 24 jam. Parkir tersedia meski harus umpel-umpelan, kalau mau aman ya langganan slot parkir. Yang sip fasilitas olahraga seperti kolam renang dan fitness center. Coba kalau di rumah, mana sanggup bikin kolam renang sendiri. Sekalian area jogging sama playground, biar anak-anak juga punya kegiatan outdoor.

Cuma emang kasian kalau anak-anak kecil tinggal di apartemen yang unitnya kecil ya. Mau lari-larian kepentok terus. Semoga aja larinya ngga ke gadget atau TV. Mereka juga jarang punya teman bermain, la ortunya aja cuek kok. Karena itu kalau di apartemen ada komunitas penghuni, bisa ikutan untuk memperluas pergaulan. Lainnya ya main sama teman-teman sekolah yang menghuni apartemen juga.

Kalau mau nongkrong ngga susah. Selain foodcourt, cafe yang buka 24 jam, ada apartemen yang menyatu juga sama mall. Asal kuat duitnya ya, biasanya ke mall seminggu sekali karena jauh dari rumah, sekarang malah bisa tiap hari. Fasilitas kesehatan seperti praktik dokter dan apotek juga ada, atau sesimpel salon, spa dan massage.

Intinya living in apartment itu bisa jadi pilihan daripada ngotot mesti punya rumah. Oya satu lagi perbedaan, kalau rumah bisa kita miliki dan wariskan, kalau apartemen atau flat harus dikembalikan ke pemerintah setelah 30 tahun. Makanya orang maunya invest supaya balik modal, jadi beli pas murah, trus jual dengan harga 2 kali lipat. Atau kalau ngga disewain, untuk unit 30 m2 harga sewanya bisa 28 juta setahun. Kalau misal harganya 500 juta, pas habis masa kepemilikannya dia bisa kantongi 340 juta, tentu mesti disesuaikan dengan time value of moneynya. Kalau buat ditinggali, ongkos hidup sehari disana seharga 45 ribu rupiah, belum listrik dan air, sama service feenya. Cukup murah dibanding ngebakar bensin belasan liter karena lokasi rumahnya di kota besar coret sama ongkos dokter karena stress. 🙂

***
IndriHapsari
Foto : pinterest.com

Advertisements